Mutakalliman

Sifat Allah ini berarti Yang Berbicara. Allah tidak bisu, Ia berbicara atau berfirman melalui ayat-ayat Al Quran. Bila Al Quran menjadi pedoman hidup kita, maka kita telah patuh dan tunduk terhadap Allah swt.

Basiron

Allah adalah Dzat Yang Maha Melihat. Sifat Allah ini tidak terbatas seperti halnya penglihatan manusia. Allah selalu melihat gerak-gerik kita. Oleh karena itu, hendaknya kita selalu berbuat baik.
“Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. “ (QS. Al Hujurat: 18).

Samiian

Allah adalah Dzat Yang Maha Mendengar. Allah selalu mendengar pembicaraan manusia, permintaan atau doa hambaNya.
“Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. “ (QS. Al Baqoroh: 256).

Hayyan

Allah adalah Dzat Yang Hidup. Allah tidak akan pernah mati, tidak akan pernah tidur ataupun lengah.
“Dan bertakwalah kepada Allah yang hidup kekal dan yang tidak mati. “ (QS. Al Furqon: 58).

Aaliman

Sifat Allah ‘Alimun, yaitu Dzat Yang Maha Mengetahui. Allah mengetahui segala hal yang telah terjadi maupun yang belum terjadi. Allah pun dapat mengetahui isi hati dan pikiran manusia.
“Dan Alllah Maha Mengetahui sesuatu. “ (QS. An Nisa’: 176).

Muridan

Allah memiliki sifat Muridun, yaitu sebagai Dzat Yang Maha Berkehendak. Ia berkehendak atas nasib dan takdir manusia.
“Sesungguhnya Tuhanmu Maha Melaksanakan apa yang Dia kehendaki. “ (QS.Hud: 107).

Qoodiron

Sifat Allah ini berarti Allah adalah Dzat yang Maha Berkuasa. Allah tidak lemah, Ia berkuasa penuh atas seluruh makhluk dan ciptaanNya.
“Sesungguhnya Alllah berkuasa atas segala sesuatu. “ (QS. Al Baqarah: 20)

Kalam

Kalam artinya berfirman. Sifat Allah ini dapat kita lihat dengan adanya Al Quran sebagai petunjuk yang benar bagi manusia di dunia. Al Quran merupakan firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw.
“Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. “ (QS. An-Nisa: 164)

Bashor

Basar artinya melihat. Penglihatan Allah juga tidak terbatas. Ia dapat melihat semua yang kita lakukan meskipun kita melakukan sesuatu secara sembunyi-sembunyi. Allah mampu melihat, naik yang besar maupun yang kecil, yang nyata maupun kasat mata. Sifat Allah ini menandakan bahwa Allah Maha Sempurna.

“Sesungguhnya ALLAH mengetahui apa yang ghaib di langit dan di bumi. Dan Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. “ (QS. Al-Hujurat: 18)

Sama'

Sifat Allah Sam’un atau mendengar. Allah selalu mendengar semua hal yang diucapkan manusia, meskipun ia berbicara dengan halusnya atau tidak terdengar sama sekali. Pendengaran Allah tidak terbatas dan tidak akan pernah sirna.
“Dan Allah-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. “ (QS. Al-Maidah: 76)

Hayat

Sifat Allah Hayat atau Hidup. Namun hidupnya Allah tidak seperti manusia, karena Allah yang menghidupkan manusia. Manusia bisa mati, Allah tidak mati, Ia akan hidup terus selama-lamanya.
“Allah tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur.” (QS. Al-Baqarah: 255)

Ilmu

Ilmu artinya mengetahui. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, meskipun pada hal yang tidak terlihat. Tiada yang luput dari penglihatan Allah.
“Katakanlah (kepada mereka): Apakah kamu akan memberitahukan kepada ALLAH tentang agamamu (keyakinanmu), padahal ALLAH mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan ALLAH Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Hujurât: 16)

Adapun sifat wajib bagi ALLah Taala yang ke Sembilan ialah Ilmu. Ilmu ertinya mengetahui.
Hakikat sifat ilmu ALLah Taala iaitu sifat yang berbuka bagiNya mengetahui ALLah Taala tentang yang wajib dan yang mustahil bagi zatNya, dan yang harus bagi kejadian ciptaanNya.
Maksud mengetahui yang wajib bagi zatNya iaitu ALLah Taala mengetahui sifat kesempurnaan zatNya. Demikian juga ALLah Taala mengetahui bahawa Dia adalah suci dari segala sifat kekurangan. Mustahil bagiNya tidak mengetahui akan zatNya sendiri.
Dan maksud mengetahui ALLah Taala segala yang harus pada kejadian ciptaanNya ialah Dia mengetahui segala ciptaanNya tanpa terdinding dari sifat tidak mengetahui. Demikian juga mustahil Dia tidak mengetahui bahawa zatNya maha suci dari kekurangan.
Adapun mengetahui ALLah Taala itu tidak dengan berusaha, tidak dengan berfikir, tidak dengan belajar, tidak dengan otak, tidak dengan memandang, tidak dengan dalil atau hujah, dan tidak dengan segalanya. Maka mengetahui ALLah Taala itu dengan zatNya yang Maha Mengetahui. Jika ALLah Taala sedemikian maka samalah Dia dengan makhluk, jadi lemah dan mustahil.
Ta’luk sifat Ilmu ALLah Taala
Adapun ta’luk sifat ilmu ALLah Taala pada yang harus yang diciptakanNya iaitu alam, pada semua keadaan dan semua masa.
Maksud mengetahui ALLah Taala pada semua keadaan ialah mengetahui ALLah Taala segala sesuatu di dalam tujuh petala langit dengan segala cakerawalanya, bintang, bulan, planet dan semuanya yang tidak pernah terfikir oleh otak manusia atau yang belum pernah dijumpai dengan teknologi zaman ini. Dan mengetahui ALLah Taala segala yang di dalam tujuh petala ntuterfikir oleh otak atau yangbelum ditemui oleh teknologi zaman ini.
Dan mengetahui ALLah Taala segala yang terlintas di dalam hati, segala was-was, fikir-fikir dan segala angan-angan, dan segala gerak naluri dan sebagainya.
Dan mengetahui ALLah Taala segala yang paling halus seperti jumlah kaki semut yang kecil. Segala kaki hama dan tungau. Bahkan mengetahui ALLah Taala semut yang hitam yang bergerak di atas batu yang hitam dimalam yang sangat gelap sekalipun atau di dalam gua yang sangat gelap.
Dan ta’luk ilmu ALLah Taala itu kepada yang harus adalah ta’luk ketentuan pada azali. Ta’luk ilmu tidaklah ta’luk pada patut azali kerana ta’luk patut itu pada iktibarnya adalah sebelum ta’luk ketentuan. Maka jika ta’luk patut, jadilah bermula dengan jahil.
Alam dan makhluk dalam ilmu ALLah Taala
Alam (termasuk makhluk kerana makhluk adalah alam yang baharu) adalah sesuatu yang dimaklumi oleh ALLah Taala dalam ilmuNya. Dalam ilmu tahqiq Tauhid disebut ma’lum. Sifat mengetahui adalah sifat ilmu. Yang mengetahui ialah ALLah Taala dan yang diketahui adalah maklumNya iaitulah alam.
Hukum alam pada sisi ALLah Taala adalah ujud ilmi. Erti ujud ilmi iaitu ujud dalam pengetahuan ALLah Taala. Ujud ini tidak dapat dipandang kerana ia adalah dalam pengetahuan semata-mata. Dan apabila ALLah Taala menciptanya dengan QudrahNya, maka dzahirlah dalam maksud maklum yakni alam dalam ilmu ALLah Taala itu ke keadaan dzahirnya.
Untuk mengelakkan kebingungan, contoh mudah seperti kita manusia. Kita berfikir untuk membuat kandang sapi (lembu). Pengetahuan kita tentang kandang sapi itu ada di dalam otak kita. Kandang sapi didalam fikiran itulah maksudnya maklum, yakni kandang sapi yang dimaklumi kita. Dan apabila kita membuat dan telah jadi, berpindahlah dalam maksud maklum kandang sapi itu ke alam dzahir.
Dalil ALLah Taala bersifat Maha Mengetahui ialah FirmanNya dalam al-Quran bermaksud “Dan ALLah Taala itu dengan setiap sesuatu itu sangat mengetahui”
Jika ALLah Taala tidak bersifat Maha Mengetahui maka Ia bodoh. Bodoh adalah sifat manusia. Mustahil hakikat yang disebut Tuhan itu bodoh. Jika ALLah Taala bodoh maka pasti tidak akan tercipta alam ini dengan segala kejadiannya yang sangat ajaib dan seni sekali. Tuhan yang bodoh pasti tidak akan dapat mencipta system alam yang teratur dan pastilah berbenturan. Maka mustahil ALLah Taala tidak bersifat Maha Mengetahui.
Orang yangmempercayai Tuhan itu bodoh, orang itulah yang bodoh sebenarnya.

Irodat


Iradat berarti berkehendak. Sifat Allah ini menandakan bahwa Allah swt memiliki kehendak atas semua ciptaanNya. Bila Allah telah berkehendak terhadap takdir atau nasib seseorang, maka ia takkan dapat mengelak atau menolaknya. Manusia hanya dapat berusaha dan berdoa, namun Allah lah yang menentukan. Kehendak Allah ini juga atas kemauan Allah tanpa ada campur tangan dari manusia atau makhluk lainnya.
“Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.” (QS. Hud: 107).


Pandangan yang lain:

Allah tabaroka wa ta'ala berkehendak pada perkara yang mumkin (dengan irodatnya). Irodat itu mentahsis sesuai dengan ilmuNya yang mena'aluki perkara jaiz..Artinya, jaiz yang pada ilmuNya itulah yang di kehendaki oleh Alllah Subhanahu wa ta'ala.

Adapun perkara wajib dan mustahil walau keduanya di ta'aluki Ilmu tapi keduanya tidak di ta'alluki irodat sebagimana keterangan yang lalu.Dalil aklinya pun sudah tegak dan tegas menyatakan bahwa irodat hanya ta'alluk kepada Jaiz. Silahkan rujuk kembali kalau belum jelas!

Nah sedangkan Muktazilah mengatakan bahwa irodat itu tergantung pada perintahhNya . Artinya apa saja yang di perintahkan oleh Allah itulah yang di kehendaki. Ini beda jauh dengan prinsif akidah ahlussunnah (asya'iroh) tadi.

Muktazilah beranggapan bahwa orang kafir itu kufurnya tidak di kehendaki Tuhan karena perintahNya adalah sebaliknya yaitu beriman. Orang yang meninggalkan sholat itu bukan kehendak tuhan karena perintahNya adalah menjalankan sholat dan seterusnya itulah anggapan kaum muktazilah. ini firqoh sesat dan menyesatkan dan menyimpang dari garis Syara' dan akal.

Jika logika muktazilah itu di teruskan, Apa yang terjadi ?


Kita tidak bisa membenarkan adanya sifat qudrat tanpa menemukan ta'alluknya(sasaranya). Ambil contoh ,misalkan ada orang mengatakan kepada kalian" hai fulan.. sungguh si zaid a...dalah orang yang berkuasa". Kemudian anda tanya ."apa yang di kuasainya (ta'alluk)?
Lalu spontan orang itumenjawab, "tidak ada'. Tentu siapapun tak kan membenarkan jawaban ini. Ini yang di maksud ta'alluk adalah nafsiyah (jatidiri) sifat tersebut.

Kepada apakah ta'alluk qudrat itu?

Perlu di ketahui di sini bahwa qudrat adalah sifat yang dengannya Allah ta'ala mewujudkan dan meniadakan. Tntu yang di tiadakan dan di adakan adalah perkara yang menerima wujud dan adam(tiada).
Singkatnya ijad Dan i'dam( mewujadkan dan meniadakan) haruslah kepada yang menerima wujud dan adam.
Perkara itu tidak lain adalah yang lazim di sebut perkara JAIZ akliy.

Mengapa tidak pada mustahil dan Wajib?

Sederhana saja jawabnya,karena Wajib adalah perkara yang tidak mau ADAM dan mustahil adalah perkara yang tidak menerima ADA. batasan tersebut adalah hakikat dari keduanya ( Wajib dan mustahil).

Perlu di ingat bahwa hakikat (nafsiyah), tidak bisa lepas dari perkaranya (yang empunya nafsiah).
sebaaimana nafsiyahnya sifat adalah berdiri pada mausufnya.,tidak di benarkan kalau ada sifat berpisah dari mausufnya dan itu tak pernah akan terjadi.

Jika qudrat ta'alluk kepad mustahil atau wajib maka harus terjadi wujud yang wajib menjadi Jaiz Adamnya dan yang mustahil wujudnya menjadi jaiz wujudnya. Allah menjadi tiada dan posisi tuhan (sifat uluhiyahnya)di gantikan tuhan yang lainnya. Yang lainnya bisa jadi makhluknya atau yang mustahil wujud tadi.Tentu itu tidak bisa di terima oleh akal.

Kesimpulan :
Qudrat dan irodat hanya ta'aluk kepad Jaiz Akliy.
Ini bukan batasan dan membatasi kekuasaanNya. Tapi memang begitulah kenyataanya.
Baik dan buruk adalah kehendak Alloh, kalau yang buruk bukan kehendak Alloh berarti ada sesuatu diluar kekuasaan Alloh dan itu mustahil


Tak boleh di sebut lemah gara2 kudrat tidak ta'alluk kepada mustahil dan wajib. Justru kalu qudrat berta'alluk kepada mustahil dan wajib akan berakibat fatal.

Kalau ada yang bertanya bisakah tuhan menciptakan anakNya?Hehe
ini pertanyaan cuku...p menggelikan. KAlau di jawab bisa, jadi rusaklah iman. Kalu di jawab tidak bisa, maka akan memberi kesan menisbatkan sifat yang tidal layak kepada allah jalla wa azza yaitu sifat lemah. Yang jelas Pertanyaan tersebut muncul lantaran tidak tahu pengertian wajib ,mustahil dan jaiz dengan sesunguhnya. Kacau. Maka hati2 terhadap ungkapan "tidak ada yang mustahil bagi tuhan". Bahasa kasarnya "itu akal perlu di servis".

Qudrot


Qudrat adalah berkuasa. Sifat Allah ini berarti Allah berkuasa atas segala yang ada atau yang telah Ia ciptakan. Kekuasaan Allah sangat berbeda dengan kekuasaan manusia di dunia. Allah memiliki kuasa terhadap hidup dan mati segala makhluk. Kekuasaan Allah itu sungguh besar dan tidak terbatas, sedangkan kekuasaan manusia di dunia dapat hilang atas kuasa Allah swt.
“Sesungguhnya ALLAH berkuasa atas segala sesuatu. “ (QS. Al-Baqarah: 20)


Sifat Qudrot dan Irodat Allah
Inilah hal yang baru saya temukan setelah sekian lama membaca kitab tentang Ilmu Tauhid. Ternyata dari dua sifat Allah Qudrot dan Irodat ada kesamaan dan perbedaan tersendiri. Jika diamati kesamaannya maka dua sifat ini memiliki hubungan dengan segala perkara yang mungkin adanya, bukan terhadap perkara yang mustahil dan wajib adanya. Jadi, jika ada pertanyaan seperti “Apakah Allah itu mampu untuk memb uat batu yang Allah sendiri tidak kuat untuk mengangkatnya??” maka kita tidak pantas untuk menjawabnya. Alasannya adalah karena sifat Qudrot Allah tidak mempunyai hubungan dengan segala hal yang mustahil dan hanya memiliki hubungan dengan perkara yang mungkin adanya. Adapun perbedaan dari sifat Qudrot dan Irodat ini adalah sebagai berikut. Sifat Qudrot berarti mendhohirkan segala perkara yang mungkin adanya, tapi sifat Irodat hanya menentukan terhadap segala perkara yang mungkin adanya. Pemahaman tersebut adalah pemahaman secara global mengenai dua sifat Allah yang semestinya diketahui oleh seorang muslim sejati. Syekh Sanusi dan Ibnu ‘Aroby mengatakan jika seseorang tidak bisa menjelaskan hal tersebut (pemahaman secara global) maka dia termasuk orang yang Taqlid dalam masalah Tauhid. Sedangkan seseorang yang hanya Taqlid tanpa mengetahui secara global penjelasannya (dalil) maka dia termasuk orang kafir.
Na’udzubillahi mindzaalik…..

Wahdaniyat


WAHDANIAH

Sifat Allah Wahdaniyyah yaitu esa atau tunggal. Hal ini sesuai dengan kalimat syahadat, Asyhadu alaa ilaa ha illallah, Tiada Tuhan selain Allah.
“Sekiranya ada di langit dan di bumi ilah-ilah selain ALLAH, tentulah keduanya itu sudah rusak binasa. Maka Maha Suci ALLAH yang mempunyai Arsy daripada apa yang mereka sifatkan. “ (QS. Al-Anbiya: 22)

Tuhan Allah bersifat Wahdaniah.
Artinya Esa, Tuhan Allah Maha Esa, mustahil Ia banyak (berbilang) kalau Ia banyak tentu timbul perselisihan atau perbedaan paham antara mereka dan akan binasalah alam ini karena yang satu membawa ke hilir dan yang lain membawah ke mudik. Karena itu Allah Esa, Maha Tunggal. Dalil sifat ini ada di dalam Al-Quran.

Artinya : “Dan Tuhanmu adalah Allah yang Esa, tiada Tuhan selain Dia, Pengasih dan Penyayang”
(Al-Baqarah:163)

Allah itu maha Esa, Allah itu satu. Satu itu kalau pada benda dapat dibelah-belah, tapi Allah tidak dapat dibelah-belah. Berarti satunya Allah juga berbeda dengan satunya makhluk. Satu secara makhluk berbeda dengan Esanya Allah. Satunya makhluk dapat dipecah dan dibagi-bagi, misalnya makhluk itu kalau dia tidak bergerak, dia akan diam. Kalau tidak diam dia akan bergerak. Itulah tabiah makhluk. Allah tidak dapat dikatakan gerak atau diam. Kita tidak tahu bagaimana, hanya Allah yang tahu.

Kalau ada yang kata Tuhan itu dua atau lebih artinya Tuhan-Tuhan itu lemah, sebab perlu dua. Yang satu separo dan perlu untuk saling tolong menolong. Ini bukan Tuhan. Katalah Tuhan-Tuhan itu tidak bergaduh, karena mereka berhikmah, tetapi Tuhan-Tuhan itu sudah bekerjasama, artinya lemah. Kalau lemah bukan Tuhan. Sifat kerjasama sifat hamba.

Kalau orang ingin besarkan diri, maka ia akan cari benda-benda yang ada pada dirinya dan tidak ada pada orang lain. Jadi kalau 2 atau lebih Tuhan sama-sama mempunyai sifat yang sama apa yang akan dibanggakan. Tuhan kalau tidak Esa walau mereka dapat berbaik-baik, artinya meletakkan Tuhan lemah. Salah satu sifat khusus Tuhan adalah Esa, tunggal, tidak boleh dipecah-pecah. Kalau dia seperti makhluk, dia bukan Tuhan. Itulah konsep Tuhan.

Qiyamuhu Binafsihi


QIYAMUHU BINAFSIHI


Tuhan Allah bersifat Qiyamuhu Binafsihi.

Artinya ialah bahwa Allah berdiri sendiri dan tidak memerlukan pertolongan orang lain, mustahil memerlukan pertolongan orang lain. Kalau Ia memerlukan pertolongan orang lain maka Ia adalah lemah, tidak sempurna dan tidak berhak menjadi Tuhan. Tuhan Allah Kuasa, gagah, tegak, berdiri sendiri, tidak memerlukan pertolongan siapapun juga. Ia sudah sempurna tidak memerlukan apa-apa.


Seandainya seluruh manusia sepakat untuk menjadi kafir dan tidak menyembahNya, kesempuraanNya tidak berkurang. Begitu juga bila seluruh manusia berpakat untuk menyembah dan mengabdikan diri kepadaNya, kesempurnaanNya tidak bertambah. Allah tidak memerlukan ibadah atau apa saja dari makhluk ciptaanNya. Sebaliknya merekalah yang berhajat dan memerlukan pertolongan dari Allah setiap saat.Tanpa pertolongan Allah tidak mungkin makhluk akan ada, hidup dan berbuat apa saja.

Allah ciptakan makhluk seperti manusia, gunung, sungai, binatang dan lain-lain setidak-tidaknya ada 2 tujuan:

Allah ingin memperlihatkan kebesarannya,
Allah tidak berhajat pada itu semua. Allah ciptakan berbagai bagai, tetapi Allah hanya bermaksud menunjukkan Allah Maha Besar, Maha Agung, Maha Hebat dan lain-lain.

Keperluan makhluk itu sendiri. Apa yang Allah ciptakan itu, faedahnya kembali pada makhluk bukan kepada Allah.

Dalil Allah bersifat Qiyamuhu Binafsihi ini dalam Al-Quran:

Artinya: “Bahwasanya Allah tidak memerlukan makhluk”
(Al-Ankabut: 6)

ALLOH mempunyai sifat Qiyamuhu Binafsihi, yang artinya ALLOH itu BERDIRI SENDIRI (TIDAK MEMBUTUHKAN PERTOLONGAN). Dengan demikian, mustahil Dia membutuhkan pertolongan, karena hanya makhluk-Nya saja yang membutuhkan pertolongan. Jika Dia membutuhkan pertolongan, itu artinya Dia lemah, dan tidak layak menjadi Tuhan.

ALLOH Maha Kuasa, Maha Gagah, tegak berdiri sendiri, tidak membutuhkan apapun atau siapapun juga. Hal ini diperkuat dengan ayat-Nya dalam surat Al Ankabut(29):6,“Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”

Mukholafatul Lilhawadits


MUKHALAFATUHU LIL HAWADITSI


Allah bersifat Mukhalafatuhu Lil Hawaditsi.
Artinya Allah berlainan dengan sekalian makhluk, mustahil Ia sama dengan makhluk yang Ia ciptakan. Kalau Allah serupa dengan makhluk, maka Ia bukan Tuhan lagi, karena itu mustahil (tidak mungkin) Ia serupa.

Allah Maha Besar, Tinggi, Agung dengan segala kebesaran, ketinggian dan keagungan-Nya, tidak ada suatu jua diantara makhluk yang menyerupai-Nya dalam kebesaran, ketinggian dan keagunganNya itu. Dalil sifat ini dalam Al-Quran:

Artinya:”Tiada yang menyerupai-Nya suatu juga Ia mendengar lagi melihat”
(Asy-Syura: 11)

Barang siapa yang mengatakan bahwa Allah duduk serupa duduk kita di atas kursi, atau turun serupa turun kita dari tangga atau mempunyai muka serupa dengan muka kita atau mempunyai kaki serupa kaki kita maka orang itu menentang dan ia akan menurunkan derajat Allah.

Seperti dikatakan Allah tidak sama dengan makhluk ciptaanNya. Bila kita faham kedudukan makhluk, tahu kedudukan barang ciptaan Allah kemudian kita tidak tahu bagaimana Allah, itulah ilmu. Kalau kita tahu bagaimana Allah , itu pembohongan bukan ilmu, artinya kita sudah sesat. Kalau sesat dari segi syariat kedudukannya mungkin haram saja. Ergitu juga sesat dari segi tasawuf. Tapi kalau sesat di sudut aqidah dapat mengakibatkan syirik.

Contoh perbedaan antara Allah dan makhluk:

1.Kalau makhluk berada dalam masa, Allah tidak ada dalam masa. Kalau makhluk terlibat dalam malam dan siang. Allah tidak terlibat dalam malam dan siang.

2.Allah juga tidak memerlukan ruang seperti makhluk. Sedangkan makhluk, kalau tidak berada di kanan, dia di kiti. Kalau tidak ada di atas dia di bawah. Kalau tidak berada di depan dia di belakang. Tapi Allah tidak begitu. Allah tidak bertempat. Dia tetap bersama kita di mana kita berada. Tapi dia tidak berada macam kita berada. Tidak pula dia diistilahkan jauh dan dekat mengikut ukuran benda. Jauhnya tidak berjarak, dekatanya tidak pula sempadan.

3.Tidak tahunya kita tentang Allah, itulah tahu, itulah arti ilmu. Berarti kita tahu tentang Allah. Kalau tentang makhluk tidak tahu, itu memang tidak tahu. Sedangkan tentang Allah, bila tidka tahu itulah pengetahuan.

4.Allah itu tidak terlibat dengan masa, sebab ia yang menciptakan masa. Sedangkan makhluk terlibat dengan masa.

Baqo


A. Pengertian Baqo.
Arti Baqo adalah kekal atau abadi, pengertiannya menurut ilmu Tauhid ada 3 makna :
a. Baqo Nisbi, kekal atau abadinya sesuatu karena disandarkan kepada yang lain, seperti ; besi lebih kekal jika disandarkan (dibandingkan) dengan kayu tapi bila dibandingkan dengan baja tidaklah lebih kekal.
b. Baqo Zamani, abadinya sesuatu yang tidak akhir tapi ada permulaannya dan terikat zaman, seperti abadinya kafirin di Neraka dan abadinya Mukminin di Surga, namanya Kholidin atau Abadal Abidin. Namun demikian keabadiannya tidak lebih dari Tahta Ma Syiyatillah yakni dibawah kehendak Allah.
c. Baqo Haqiqi, kekalnya sesuatu yang tidak ada permulaan, tidak ada khir, tidak terikat zaman dan bukan karena disandarkan kepada yang lain, yakni kekal dan abadinya Allah SWT.
Perbedaan antara Baqo Haqiqi dan Baqo Jamani, perhatikan firman Allah dalam surat 55, ar-Rohman ayat 27.
وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُوالْجَلَلِ وَالآِكْرَامِ
Artinya : Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.

Perhatikan pula pada surat 23, al-Mukminum ayat 11 :
الَّذِيْنَ يَرِثُونَ الفِرْدَوْسَ هُمْ فِيْهَا خَلِيْدُوْنَ
Artinya : (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. mereka kekal di dalamnya.
Materi kata yang dipakai pada surat ar-Rohman untuk Allah dengan kata Yabqo, dalam surat al-Mukminum untuk Mukminin dipakai kata Kholiduun, artinya sama kekal abadi, hanya kekalnya Allah Wajibul Wujud sedangkan kkekalnya Mukminin disurga adalah Mumkinul Wujud, karena ada dan kekalnya diciptakan Allah SWT.
B. Pandangan Hukum Syara' Terhadap Sifat Baqo.
Hukum Syara' memerintahkan kepada seluruh Mukallaf :

1. Mengitikadakan, dengan disertai ma'rifat kepada Baqo Haqiqi Allah SWT.
2. Mema'rifatkan Mustahilnya Allah tidak Baqo.
3. Mema'rifatkan mustahilnya makhluk mempunyai sifat Baqo Haqiqi, sebagaimana Firman Allah dalam surat 28, al-Qoshosh ayat 88 :
وَلاَتَدْعُ مَعَ اللهِ أِلِهَا ءَاخَرَ لاَاِلَهَ أِلاَّ هُوَ كُّلُ شَىْءٍهَالِكٌأِلاَّوَحجْهَهُ لَهُ الحُكْمُ وَأِلَيْهِ تُرْ جَعُونَ
Artinya : Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, Tuhan apapun yang lain. tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. bagi-Nyalah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan. Ayat ini menunjukkan bahwa pada umumnya makhluk akan hancur binasa, tetapi ayat ini ditakhsis dengan hadits Rasululloh SAW, yang menerangkan bahwa ada 8 macam yang tidak akan hancur :
1. Qolam.
2. Lauh Mahfudz.
3. ‘Arasy.
4. Kursi.
5. Surga.
6. Neraka.
7. Ruhani.
8. Pangkal ekor manusia (Sunda = cungcurungan).
Tiga macam perintah ini disertai dengan jaminan :
1. Diberi pahala abadi disurga, bagi yang mema'rifatkannya dan imannya dipandang sah (Mukmin Salim).
2. Bila tidak mema'rifatkan, akan diberikan siksa yang abadi di Neraka dan dipandang kafir.
C. Baqo disebut Salabiyyah.
Karena sifat Baqo menjadi sifat dengan tidak ada yakni tidak ada akhir dan tidak terikat zaman, dan tercabut dari Allah Maqulat Mata maka sifat Baqo tersebut kepada sifat Salabiyyah.

D. Nisbat Qidam dengan Baqo.
Nisbat atau hubungan sifat Baqo dengan sifat Qidam terbagi kepada 4 bagian:
1. Wajib Qidam dan Wajib Baqo, yaitu Dzat Alloh SWT.
2. Wajib Baqo tapi tidak Qidam, yaitu yang 8 macam tersebut di atas.
3. Tidak Baqo dan tidak Qidam, yaitu seluruh mahluk selain yang 8 macam yang tidak akan hancur.
4. Qidam tidak Baqo, yaitu ma'dunya mahluk sebelum maujud (tidak adanya mahluk sebelum diciptakan), tidak ada awal tetapi ada akhirnya dengan keberadaan mahluk.

E. Dalil sifat Baqo.
Apabila Allah tidak Baqo, pasti diakhiri dengan tidak ada, sedangkan yang diakhiri dengan yang ada adalah mumkinul wujud, oleh karena mumkinul wujud pasti didahului dengan tidak ada, perpindahan dari tidak ada kepada ada, pasti membutuhkan kepada pencipta untuk berada. Jadi kalau Allah tidak Baqo maka akan terjadi proses Daor dan Tasalsul seperti dalam sifat Qidam, sedangkan proses Daor dan Tasalsul adalah mustahil terjadi, maka Allah wajib Baqo.

Qidam


Qidam

Pendapat Sala Seorang!.
Dalam kamus – kamus Arab kata Qidam adalah lawan kata dari baru, yang bermakna; yang dahulu (lama). (Lihat Lisanul Arab 5/3552, Qamus Al – Muhith 3/506, Mukhtar Ash-Shihhah hal. 525, dan lainnya).
Sedang definisi Qidam untuk sifat Allah menurut ahli kalam adalah “Bahwa Allah Ta’ala tidak ada awal untuk keberadaannya dan IA tidak didahului dengan ketidak-adaan, adalah Allah ada dan tidak ada sesuatupun selain diri-Nya, kemudian IA menciptakan makhluk” (Iqtinash Al-Awaly Min Iqtishad Al-Ghazali, oleh DR. Muhammad Rabi’ Jauhari hal. 73).

Kata Qidam / Qadim dalam Al – Qur’an dan Sunnah
Ada empat tempat penyebutan kata Qadim dalam Al – Qur’an yaitu dalam surat (Qs. Yusuf: 95, Yasin: 39, Al – Ahqaf:11, dan Asy – Syu’ara:75 dsn 76). Lafadh Qadim yang ada pada empat tempat tersebut menunjukkan pada sifat bagi makhluk. (Kekeliruan yang dahulu, sebagai bentuk tanda yang tua, dusta yang lama, dan nenek moyangmu yang dahulu).
Sedang didalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah Saw apabila masuk masjid beliau berdoa: (Artinya): “Aku berlindung kepada Allah yang Maha Agung, dengan wajah – Nya yang mulia dan dengan kekuasaannya yang Qadim (terdahulu) dari syaithan yang terkutuk”. (HR. Abu Dawud) lafadh Qadim pada hadits ini menunjukkan pada sifat bagi kekuasaan Allah.

Manhaj Ahlus Sunnah dalam menetapkan nama – nama dan sifat Allah
Manhaj (metode) Ahlus Sunnah dalam menetapkan nama – nama Allah (Asmaul Husna) dan sifat – sifat – Nya adalah menetapkan nama – nama dan sifat – sifat yang telah ditetapkan oleh Allah Swt untuk diri – Nya atau yang ditetapkan oleh Rasul – Nya Saw, tanpa mengubah, tanpa meragukan, tanpa mempertanyakan, dan tanpa membuat permisalan.
Intinya, nama – nama Allah dan sifat – Nya adalah bersifat taufiqi. Tidak ada ruang untuk berpendapat atau ber – ijtihad di dalamnya. (Untuk mengetahui manhaj ahlus sunnah dalam asma’ dan sifat ini lihat “Aqidah At- Tauhid” oleh DR. Shalih Bin Fauzan hal. 63).

Qidam, sifat dari sifat – sifat Allah?
Tidak terdapat di dalam ayat Al – Qur’an bahwa Allah menamai atau mensifati diri – Nya dengan Qadim atau Qidam. Begitu juga tidak terdapat di dalam sunnah bahwa Rasulullah Saw menetapkan sifat Qidam Allah Ta’ala. Jika kita konsisten dengan metode ahlus sunnah dalam menetapkan nama – nama dan sifat Allah seperti yang kami sebutkan di atas maka secara tegas kita katakan bahwa Qidam bukanlah nama atau sifat dari Allah Swt.
Al – Qadi Ibnu Abi Al – Izz Al – Hanafy dalam Syarh Aqidah ath – Thahawiyah berkata: “para ahli kalam telah memasukkan kata Al – Qidam didalam nama – nama Allah, padahal ia bukanlah nama dari nama – nama Allah…”
Ar – Raghib Al – Ashfahany dalam kitabnya Al – Mufradat berkata: “Tidak terdapat satu kata pun dari Al – Qur’an maupun atsar yang shahih yang menunjukkan bahwa Qadim itu adalah sifat Allah, para ahli kalam menggunakan dan mensifatkan Allah dengan hal itu”.

Allah adalah Al – Awwal (yang awal)
Untuk menunjukkan bahwa Allah tidak didahului oleh apapun, yang keberadaannya tidak ada permulaannya maka Allah memperkenalkan diri – Nya kepada kita bahwa Dia adalah Al – Awwal (bukan dengan Qidam).
Allah Swt berfirman:
Artinya: Dialah yang awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin dan dia Maha mengetahui segala sesuatu. (Q.S: Al – Hadid: 3).
Al – Khatthabi berkata: “Al – Awwal berarti yang mendahului segala sesuatu, yang ada dan sudah ada sebelum adanya makhluk, yang karena itulah Dia berhak menyandang predikat pertama karena keberadan – Nya itu, yang tidak didahului dan dibarengi oleh apapun.” (Sya’n ad – Du’a:87).

Al – Awwal serupa dengan Qidam
Akan muncul sebuah pertanyaan: Bukankah istilah Al – Awwal ada keserupaan dengan istilah Qidam. Lalu mengapa kata Qidam tidak ditetapkan saja sebagai sifat dari sifat – sifat Allah? Jawabnya: yang pertama, karena kita konsisten dengan manhaj Ahlus sunnah. Yang kedua, jika benar sifat Al – Awwal serupa dengan Qidam(padahal keduanya memang ada perbedaan, seperti yang dinyatakan oleh Abu Al – Izz Al – Hanafy) maka tetap ia tidak dapat digunakan untuk menetapkan nama atau sifat Allah. Al – Khatthabi berkata: “Analogi tidak berlaku terhadap nama – nama Allah, dalam pengertian, menyejajarkan sesuatu dengan sejenisnya, dengan pertimbangan aturan bahasa dan logika kalimatnya”. (Sya’n ad – Du’a: 111).
-------------------------------------------------------------
Qidam (Terdahulu)
Allah itu Qidam (Terdahulu). Mustahil Allah itu Huduts (Baru).
“Dialah Yang Awal …” [Al Hadiid:3]
Allah adalah Pencipta segala sesuatu. Allah yang menciptakan langit, bumi, serta seluruh isinya termasuk tumbuhan, binatang, dan juga manusia.
“Yang demikian itu adalah Allah, Tuhanmu, Pencipta segala sesuatu..?” [Al Mu\'min:62]
Oleh karena itu, Allah adalah awal. Dia sudah ada jauh sebelum langit, bumi, tumbuhan, binatang, dan manusia lainnya ada. Tidak mungkin Tuhan itu baru ada atau lahir setelah makhluk lainnya ada.
Sebagai contoh, tidak mungkin lukisan Monalisa ada lebih dulu sebelum pelukis yang melukisnya, yaitu Leonardo Da Vinci. Demikian juga Tuhan. Tidak mungkin makhluk ciptaannya muncul lebih dulu, kemudian baru muncul Tuhan.
3. Baqo’ (Kekal)
Allah itu Baqo’ (Kekal). Tidak mungkin Allah itu Fana’ (Binasa).
Allah sebagai Tuhan Semesta Alam itu hidup terus menerus. Kekal abadi mengurus makhluk ciptaannya. Jika Tuhan itu Fana’ atau mati, bagaimana nasib ciptaannya seperti manusia?
“Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati…” [Al Furqon 58]
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” [Ar Rahman:26-27]
Karena itu jika ada “Tuhan” yang wafat atau mati, maka itu bukan Tuhan. Tapi manusia biasa.
Hikmah: Jika kita mencintai Allah yang Maha Kekal dan selalu ada dan menjadikanNya teman serta pelindung, niscaya kita akan tetap sabar meski kehilangan segala yang kita cintai.
---------------------------------------------------
QIDAM (a.) dalam kosakata teknis keabadian menunjukkan filsafat dan teologi. Ini harus dibedakan dari azal dan dari [qv] abad. Al-Tahanawi menulis: 'azal adalah konstan durasi eksistensi di masa lalu, seperti abad adalah waktu yang konstan di masa depan. " Berbeda dengan asal temporal (huduth), itu adalah fakta yang telah didahului dengan tidak ada yang lain (al-la masbuqiyya l bi '-ghayr): azal berarti negasi dari awal pertama (najy al-awwaliyya), yang karena itu kasus keabadian sebuah ante parte, dan abad adalah keabadian posting parte. Azal dan abad pada dasarnya identik dalam Allah (inna abaduhu 'ain azalihi), karena mereka berarti bahwa dua kaki relatif yaitu awal dan akhir keduanya' terputus 'dari Allah (inqita' anhu al-tarafayn al-idafiyyayn ' ). Untuk Dia mereka adalah atribut negatif (lih. Fakhr al-Din al-Razi, komentar onqthe Terindah Nama Allah, surah VII, 180;. Azali dan qadim diklasifikasikan antara atribut nyata dan negatif Pertama, awwal dianggap sebagai nyata, disertai dengan hubungan dan negasi (Sifa haqiqiyya ma'a 'l-idafa wa' l-salb). Dia adalah abadi, dalam arti Azali, yang tidak didahului oleh ketiadaan, apa yang ada sebelum konsepsi rasional awal pertama (qabla ta'aqqul al-awwaliyya), dan dalam arti abadi, yang berlangsung melampaui semua konsepsi rasional dari sebuah kata yang akhir (ta'aqqul ba'da al-akhiriyya). Melalui berbagai definisi ada datang ke cahaya dua konsepsi pra-keabadian dan pasca-keabadian. Yang pertama adalah bahwa durasi tak berujung (la nihayata lahu) yang membentang baik terhadap masa lalu, atau menuju masa depan (dalam hal ini juga dikenal sebagai al-la-yazal, yang tidak berhenti menjadi) Skema ini (lih.. bawah) menimbulkan banyak kesulitan dalam pemecahan masalah penciptaan dunia, karena memperkenalkan konsep waktu tak terbatas sebelum saat penciptaan ini. Yang kedua lebih filosofis: dua kekekalan tidak lebih dari konsepsi negatif, yang berpikir kontemplatif telah jalan untuk memahami ide kekekalan dalam kaitannya dengan waktu, tapi yang tidak sesuai dengan realitas waktu yang tidak terbatas dalam dua pengertian: mereka relatif ke modus pemikiran milik
roh manusia, yang sebagai poin-poin al-Razi (lih. bawah), tidak bisa membayangkan itu sendiri di luar waktu. Realitas yang tersembunyi di balik konsep-konsep imajiner adalah bahwa Allah dan subsisten Nya melalui Zat-Nya (baqa'uhu bi-dhatihi), yaitu, dari yang benar-benar tidak terpengaruh oleh waktu dan temporalitas.

Jadi, apa menunjukkan qidam? Secara etimologis, istilah harus dikaitkan dengan azal karena merupakan akar mengekspresikan ide tentang kejuaraan. The LA mengatakan itu persis sama seperti al-Tahanawi berkata tentang azal: "Ini adalah bertentangan asal temporal (naqid al-huduth) '. Ibnu Manzur juga menjelaskan melalui 'ataqa dan sabaqa akar (' mendahului dalam perlombaan '). Harus sebenarnya dicatat bahwa gagasan anteriorness dalam waktu atau ruang dihubungkan dengan yang senilai unggul, seperti yang akan muncul dari qadam substantif dan dari al-Qur'an nya: sidq qadam (X, t) yang menafsirkan al-Zamakhshari sebagai sabiqa wa-fadl wa-manzila rafi'a, prioritas, tempat tinggal yang lebih tinggi bahwa Allah sedang mempersiapkan orang-orang mukmin. Penjelasan lain adalah bahwa di muka hadiah telah dipersiapkan untuk mereka pada bagian Allah (sabaqa lahum qad 'Allahkhayr ind) yang menyatukan dua ide-ide anteriorness dan keunggulan karunia-karunia ilahi. Bisa dicatat lebih lanjut, sehubungan dengan qadam ('langkah', mana fakta menjadi selangkah lebih maju dari orang lain, didahulukan) bahwa LA, serta Al-Qurtubi dalam komentarnya, mengutip ayat-ayat dari l Ju ' -Rumma [qv] di mana ekspresi mentalitas Badui dapat dilihat: qadam dikaitkan sana dengan bangsawan tinggi dan tindakan kemegahan (mafakhir). Karena kualitas etika Badui yang pada umumnya dialihkan oleh Islam kepada Tuhan, itu wajar mungkin boleh dianggap bahwa akar qDM dilayani tidak hanya berkonotasi pada anteriorness Allah, tetapi juga ontologis pre-eminence Nya atas segala sesuatu, sementara itu harus dibuat jelas bahwa ini bukan suatu kejuaraan dan bukit-pra relatif terhadap orang lain, seperti dalam kasus mufakhara yang menyiratkan persaingan, tapi kualitas yang transendental dan mutlak. Hal ini dalam pengertian ini bahwa LA mengatakan bahwa Allah adalah al-Muqaddim, karena ia mendahului segala sesuatu (yuqaddim al-ashya ') dan Dia menempatkan mereka di tempat mereka (yada'uha fi mawadi'iha). Tetapi qidam syarat dan qadim dalam arti keabadian dan theqeternal, adalah ciptaan teknis (istilahat), mereka tidak Alquran. Abd al The kadi '-Jabbar, dalam Syarah, menulis bahwa menurut prinsip-prinsip qadim bahasa yang telah ada untuk waktu yang lebih lama daripada sesuatu yang lain (ma taqadama wudhudhuhu) dan dia mengutip ayat (XXXVI, 39) dimana Allah membandingkan bulan ke kelapa tua (l-'urdhun al ka '-qadim). Sedangkan untuk qidam kata, tidak terjadi di qur'an itu. Buku mengungkapkan menyampaikan ide kekekalan ilahi melalui transendensi. Allah adalah al-Muta'ali (XIII, 9), dan nama ini, menurut al-Razi, milik dia atas dasar bahwa ia adalah benar-benar dihapus (munazzah) pada intinya Nya, dalam sifat-sifat-Nya dan tindakan-Nya dari semua yang mungkin tidak menegaskan tentang Dia. Karena itu, Dia berada di luar waktu, Kekal, dan dengan demikian bahwa istilah qadim, yang diambil benar-benar (al-qadim) menunjukkan Tuhan sendiri.

Al-Tahanawi juga membuat qidam kebalikan dari [qv] huduth. Kedua istilah atribut menunjukkan eksistensi dan belajar bersama. Essence (mahiyya) adalah ahli dalam hal kualifikasi keberadaan yang bersangkutan. Mereka dapat diterapkan dalam ketiadaan, menurut apakah itu didahului oleh adanya atau tidak, sehingga seseorang bisa berbicara tentang suatu kehampaan abadi atau ketiadaan yang dihasilkan dari penghapusan. qidam dan huduth dapat diambil sesuai dengan realitas
(Haqiqiyyan) atau menurut hubungan (idafiyyan).

1.

kekekalan Real terdiri dalam fakta tidak didahului oleh hal lain menurut sebuah kejuaraan yang sangat penting dan tidak temporal. Ini adalah apa yang dikenal sebagai kekekalan penting (dhati qidam), yang terdiri dalam kenyataan membutuhkan apa pun selain diri dalam rangka ada. Ini menyiratkan pentingnya yang sedang. The Abadi dalam pengertian ini adalah yang diperlukan Menjadi. Sebaliknya, asal (huduth) adalah fakta yang telah didahului oleh sesuatu yang ada
menurut sebuah kejuaraan penting, yang dalam hal ini mungkin atau mungkin tidak juga menjadi kejuaraan temporal (misalnya, dunia pada dasarnya adalah hasil dari suatu asal, itu muhdath, tapi tidak ada yang mendahului waktu, manusia juga dasarnya melahirkan, tetapi orangtuanya ada di waktu sebelumnya untuk kelahirannya). Dalam arti tertentu, waktu adalah hasil asal suatu (hadits), karena jika telah didahului dengan apa-apa yang bisa telah ada sebelum secara temporal, yang masuk akal
hipotesis, tidak memiliki keberadaan mutlak diperlukan Menjadi dan pada setiap saat memperbaharui dirinya sendiri. Hal ini mungkin untuk memahami secara khusus oleh keabadian fakta tidak didahului oleh tidak adanya suatu kejuaraan temporal: ini maka akan dipanggil kekekalan temporal (Zamani qidam), dan kekal dalam segi waktu karena itu 'bahwa yang waktu keberadaan tidak memiliki awal pertama. Demikian pula, orang dapat berbicara tentang asal temporal (Zamani huduth) di mana keberadaan yang didahului oleh non-eksistensi dalam waktu. Jadi kita mendefinisikan bahwa yang merupakan buah dari asal temporal (al-hadits al-Zamani) sebagai yang didahului dalam waktu oleh non-keberadaannya, sesuai dengan rumus terkenal: lam yakun, tsumma kana ('itu adalah tidak, maka itu terjadi '). Dalam pengertian ini, waktu tidak hadits karena tidak ada yang bisa pra-ada itu sendiri.

Adapun qidam relatif, ini menunjukkan bahwa waktu masa lalu keberadaan yang lebih besar daripada keberadaan lainnya. Namun hal ini tidak dapat disampaikan oleh kata keabadian. Ini menyangkut kuno dari yang dibandingkan dengan hal-hal baru lain, dan qadim berarti kuno, tua, Atiq seperti '. Sebaliknya, huduth akan kebaruan, hadits, bahwa yang baru.

Al-Tahanawi menambahkan bahwa keabadian lebih penting tertentu (akhass) dari keabadian temporal, yang pada gilirannya lebih khusus dari kekekalan relatif atau kuno. Dengan demikian diperlukan Menjadi, yang qadimdhati, juga kekal menurut titik pandang temporal, karena tidak didahului oleh ketiadaan atau dengan apa yang selain itu sendiri. Tetapi sebaliknya tidak benar: sehingga atribut abadi Menjadi, yang tidak didahului oleh ketiadaan karena mereka adalah concomitants esensi yang abadi, tidak kekal dalam diri mereka sendiri dan tidak memiliki dhati qidam. Hal yang sama dapat dikatakan dari dunia yang qadim Zamani menurut filsuf, tetapi yang tidak qadimdhati Namun, karena tergantung pada penyebabnya, yang selain itu sendiri. Adapun idafi qidam, tidak co-luas dengan Zamani qidam. Bahkan, masa lalu keberadaan seorang mungkin lebih besar dibandingkan dengan yang kemudian terjadi untuk pertama kalinya. Ini berlaku untuk ayah yang qadim dalam hubungannya dengan anaknya, tetapi siapa yang tidak demikian Zamani qadim, karena ia lahir dari orang tua Jadi jika kita membandingkan dunia untuk seorang pria, kedua memiliki sejarah yang terdiri dari acara berturut-turut. Sehubungan dengan salah satu kejadian, masa lalu dunia dan manusia ini berlangsung selama waktu yang lebih besar dari terjadinya baru. Masing-masing dari mereka itu akan disebut qadim dalam kaitannya dengan hal itu. Mereka berdua idafi qadim. Tetapi dunia tidak hanya qadim dalam konteks ini: begitu dalam dirinya sendiri, karena tidak pernah ada waktu dimana tidak ada. Manusia hanya qadim dalam hubungannya, misalnya, untuk hal ayah-Nya: pasti dia mendahuluinya, tetapi justru menurut antecedence yang hanya relatif untuk itu. Sebaliknya, dalam konteks asal-usul, adalah idafi huduth yang paling khusus, kemudian datang Zamani huduth dan dhati akhirnya huduth. Hal ini karena segala sesuatu yang keberadaannya di masa lalu mencakup waktu kurang bentang (aqall: artinya idafi hadits) didahului oleh ketiadaan, dan karenanya Zamani hadits. fortiori A, itu adalah dhati hadits. Analisis ini jelas dipengaruhi oleh pikiran para filsuf yang cenderung keabadian mengasosiasikan dengan kebutuhan ontologis dari wadhib al-wudhud dan huduth dengan kontinuitas. Teolog hanya dipahami oleh qadim yang tidak didahului oleh ketiadaan, atau dalam kosakata al-Tahanawi, Zamani qadim.

Untuk apa gagasan keabadian berlaku? qidam berhubungan pertama esensi Allah. Pada titik ini semua filsuf dan ulama berada dalam perjanjian. Pada pertanyaan tentang keabadian atribut Allah, ada perbedaan pendapat di antara mutakallimun tersebut. Allah adalah kekal karena Ia tidak tunduk pada asal, dan yang, tidak bisa lain selain muhdath atau qadim. Jadi, jika Allah telah dikenakan asal, dalam rangka ada Dia akan membutuhkan makhluk lain untuk menciptakan padanya, muhdith sebuah. Tetapi pertanyaan itu akan berlaku untuk yang kedua juga dan seterusnya hingga tak terbatas. Jadi kita harus menegaskan keberadaan Allah sebagai Pencipta yang kekal, seperti yang diungkapkan oleh 'Abd al-Jabbar (al-'ani' al-qadim). Argumen ini, yang dikenakan tanda filosofis, bukan milik eksklusif dari Mu'tazilis. Hal ini ditemukan dalam kondisi yang sama atau serupa dalam Kitab al-Tamhid al-Baqillani, dalam bab di mana ia menunjukkan bahwa agen yang menghasilkan makhluk tunduk pada asal (fa'il al-muhdathat) tidak dapat sendiri menjadi buah dari asal. Hal ini ditemukan dalam Kitab al-Irshad al-Juwayni, di mana ia membuktikan bahwa keberadaan Abadi 'tidak melantik sendiri' (¸ wudhu muftatih ghayr al-qadim), di tempat yang sama dia memberikan pengamatan yang menarik dan tepat pada konsep sebuah keberadaan yang tidak memiliki awal: apakah ini tidak berarti suatu suksesi momen tak terbatas? Dia repliesqthat saat hal didefinisikan oleh fakta bahwa kontemporer dengan hal-hal lain. Sekarang Allah tidak kontemporer dengan hal lain. Jadi kekekalan Allah tersirat oleh keunikan nya.
SWASTA

Sekolah Asy'ari mengakui keabadian atribut ilahi. Sebaliknya, para Mu'tazilis mengungkapkan prinsip utama bahwa 'Tuhan ada co-kekal', menurut rumus 'Abd al-Jabbar dalam Syarah (la qadima ma' Allah). Meskipun demikian, mereka mengakui yang kekal empat atribut: eksistensi, kehidupan, pengetahuan dan kekuasaan. Bahkan, menurut al-Jubba'i dan mayoritas orang-orang terpelajar dari sekolah, ini tentu empat atribut milik Allah melalui esensi-Nya, karena itu mereka juga abadi. Pengetahuan Nya tindakan-Nya berada di pengetahuan (Aliman kawnuhu ') dan yang sama berlaku untuk Sifat lain. Atau, Dia tahu melalui pengetahuan yang sendiri (Abu 'l-Hudhayl), dll Mereka tidak mengatakan bahwa Ia memiliki pengetahuan yang kekal, tetapi ia tidak berhenti menjadi dalam tindak pengetahuan (lam yazal' Aliman), dll 'Abbad b. Sulaiman menolak untuk mengatakan bahwa Allah memiliki pengetahuan, ada lebih dari Dia memiliki kekekalan (qidam), tetapi dapat dikatakan bahwa Dia adalah kekal (qadim). Sebaliknya, Ibnu Kullab berpikir bahwa Allah adalah dalam tindak pengetahuan melalui pengetahuan milik-Nya, dan seterusnya. Untuk mengatakan bahwa Dia adalah kekal, adalah untuk menegaskan bahwa Dia tidak berhenti menjadi dalam Nama-Nya dan Atribut (lam yazal bi-asma'ihi wa-sifatihi; Maqalat). Esensi Allah saja yang kekal, bukan dalam arti bahwa hal itu dilucuti dari semua atribut, tetapi sebaliknya, berpakaian dalam semua milik Allah. Sebagian dari murid-muridnya mengklaim bahwa Allah adalah kekal melalui kekekalan (qadim bi-qidam), yang lain bahwa Dia adalah kekal, tetapi bukan melalui suatu kekekalan (qadim la qidam-bi). Kita mulai berurusan di sini dengan seluk-beluk murni bahasa, seperti dalam perbedaan antara dua ekspresi 'Allah tidak lagi menjadi' dan 'Allah tidak lagi menjadi melalui atribut abadi keabadian. " Sebuah bagian dari Maqalat layak pemberitahuan, namun; 'The pendukung teori atribut (ashab al-Sifat) berbeda pendapat mengenai atribut Sang Pencipta: mereka kekal atau memiliki suatu asal mereka? Beberapa orang mengatakan bahwa mereka kekal. Lain menyatakan: "Jika kita berkata, bahwa Sang Pencipta adalah abadi dalam sifat-sifat-Nya, kita tidak perlu untuk mengatakan bahwa atribut-Nya adalah kekal, sehingga kita tidak mengatakan bahwa mereka kekal, atau bahwa mereka memiliki sebuah asal." Menurut al-Tahanawi, Abu Hasyim menambahkan atribut kekal kelima dengan empat di atas; kekudusan (al-ilahiyya), yang berbeda dari esensi. Hal ini mengingatkan pada divinitas teolog abad 1tth dari Chartres, Gilbert de la Porree. Hal ini tidak diragukan lagi ini tesis bahwa 'Abd al-Jabbar menyinggung ketika ia menulis bahwa, menurut Abu Hashim, atribut-atribut milik Allah selalu, dan karena itu yang ia menegaskan pada intinya nya (li-ma Huwa' alayhi fi dhatihi). Jadi melalui keilahian bahwa atribut-atribut ini abadi. Untuk Sulaiman b. Jarir dan lain ifatiyya, atribut-atribut milik Allah selalu harus melalui 'gagasan (li-Ma'ani) yang dapat dikualifikasikan tidak oleh keberadaan maupun non-eksistensi, atau dengan asal atau kekekalan' (Syarah). Ini adalah konsep atribut nosional (Sifa ma'nawiyya), istilah yang telah diterjemahkan beragam seperti 'penting', 'kualitatif', atau bahkan 'entitative'. Hal ini tidak lain dari kualifikasi yang dibuat perlu oleh gagasan bahwa seseorang memiliki Allah. Ma'na selalu merupakan gagasan menandakan fundamento cum di ulang. The ma'nawi atribut karena itu tidak esensi, juga bukan 'sesuatu' di dalam Allah. Ini adalah yang realitas tuntutan Allah yang satu saysqof Allah. Tapi, di sini juga, bahwa yang kekal adalah Allah dan esensi-Nya, dan ma'nawiyya Sifa lolos semua alternatif ontologis. Namun demikian, menurut 'Abd al-Jabbar, murid-murid tertentu dari Ibnu Kullab tereifikasi yang Ma'ani dan menganggap mereka akan kekal, karena mereka empat atribut tersebut yang dipasang pada Allah dengan cara yang azaliyya Ma'ani, yang dapat diterjemahkan 'entitas yang abadi' oleh. (Kita dapat mencatat Abd al dengan '-Jabbar bahwa di sini Azali memiliki rasa qadim, seperti yang sering terjadi). Kadi menunjukkan bahwa Kullabiyya tetapi tidak berani menggunakan formula ini dalam pengertian mutlak, agar tidak bertentangan dengan kebulatan suara kaum muslimin atas penolakan atribut co-kekal.

Dari akar yang sama dengan qidam adalah bentuk masdar 5, taqaddum, yang terjadi pada sebuah komentar yang sangat menarik dengan Razi pada qur'an, LVII, 3: "Dia adalah Pertama dan Terakhir '. The taqaddum kata (antecedence) memiliki beberapa arti: (1) l al-taqaddum bi '-ta'thir mana yg latihan pengaruh atas akibatnya, misalnya, pergerakan jari mensyaratkan bahwa cincin, (t) al-taqaddum bi 'l-hadha, berdasarkan kebutuhan yang konsekuen memiliki pendahuluan tersebut; sehingga satu nnumber adalah anterior ke nomor dua tanpa penyebabnya, (3) al-taqaddum bi' l-syaraf, menurut layak; sehingga Abu Bakar memiliki hak lebih 'Umar; (4) al-taqaddum bi' l-martaba, menurut urutan hirarkis, baik masuk akal, seperti tempat imam dalam doa-doa sebelum beriman yang berdoa, atau rasional, seperti tempat genus sehubungan dengan spesies; (5) al-taqaddum bi 'l-Zaman, kejuaraan temporal atau qabliyya; yang al-Razi menambahkan (6) "Tetapi saya pikir bahwa ada divisi keenam yang adalah seperti kejuaraan bagian waktu tertentu dalam kaitannya dengan orang lain; kejuaraan ini tidak sementara, jika tidak maka akan diperlukan waktu untuk mengembangkan waktu lain, ke titik tak terhingga. Jadi sekarang akan berada dalam hadiah lain yang akan berada dalam hadiah ketiga ... dan semua hadiah ini akan hadir pada saat sekarang (kulluha hadira fi l hadha '-an). Tetapi ansambel saat ini akan posterior ansambel momen masa lalu, sejauh bahwa akan ada waktu lain untuk ansambel kali (al madhmu '-azmina), yang masuk akal, untuk, yang waktu, itu akan harus masuk ke dalam ansambel kali. Akibatnya, itu akan baik di dalam dan luar ansambel ini, yang tidak mungkin. 'Selain itu, kejuaraan ini bagian waktu dalam hubungannya dengan satu sama lain bukanlah suatu kejuaraan menurut kausalitas, atau sesuai kebutuhan, jika tidak mereka akan co-exist, jelas itu tidak sesuai dengan layak, tidak sesuai dengan ruang. Oleh karena itu jenis taqaddum keenam. Sekarang menunjukkan qur'an bahwa Allah adalah Pertama (Primus, bukan sebelumnya) untuk semua yang tidak Nya, dan menunjukkan al-Razi di sini bahwa kualifikasi ini hanya cocok yang diperlukan, pertama dan Menjadi unik, untuk semua yang tidak mungkin Dia adalah (mumkin) dan mungkin ada hanya melalui asal: itu adalah muhdath. Tapi apa adalah sifat ilahi kejuaraan ini? Hal ini tidak berutang kepada tindakan pengaruh, untuk agen dan pasien adalah salah satu relatif terhadap yang lain dan co-ada. Ini bukan prioritas didirikan pada kebutuhan, sejak diutamakan di sini adalah mutlak. Ini bukan didahulukan utang terhadap kekayaan, untuk itu tidak bisa dikatakan bahwa Allah lebih pantas atau lebih mulia (Ashraf) dari mungkin, karena Dia tidak sebanding (meskipun dalam satu sisi, adanya diperlukan menyiratkan kegenapan yang selain yang keberadaan yang mungkin kekurangan). Adapun anteriorities menurut waktu atau ruang, mereka tidak memiliki makna bagi Allah, karena waktu dan ruang possibles yang tergantung pada sebuah asal. Allah, yang anterior ke totalitas kali, tidak anterior sesuai dengan waktu, jika tidak kejuaraan ilahi harus masuk ke dalam ansambel kali, karena akan menjadi satu waktu; tetapi harus eksterior untuk itu, karena akan berisi mereka semua dan yang mengandung adalah selain dari apa yang terkandung.
Ini akan menjadi sebuah absurditas. Rupanya al-Razi mengusulkan, sejauh menyangkut Tuhan, semacam keenam kejuaraan yang tidak tanpa analogi ke anteriorities bagian waktu dalam hubungannya dengan satu sama lain. Namun, ini tidak identik dan itulah sebabnya al-Razi, ketika memperkenalkan divisi keenam, tidak mengatakan itu, tetapi hanya bahwa itu seperti ... Kesimpulannya, kita tahu bahwa Allah adalah Pertama secara universal ('ala sabil al-idhmal), tidak secara rinci (' ala sabil al-tafsil). Sedangkan untuk menangkap realitas prioritas ini (awwaliyya), kecerdasan manusia tidak berarti, karena mereka tidak dapat melarikan diri bentuk temporal. Kita dapat mencatat bahwa pembagian serupa taqaddum harus
ditemukan di filsuf al-Maqasid al-óhazali, kecuali bahwa taqaddum yang bi 'l-hadha disebut taqaddum bi' l-tab ', dalam kasus di mana yg tidak ditekan oleh penindasan dari konsekuensi, tapi konsekuen ditekan oleh penindasan dari yg (seperti dengan serangkaian angka), dan kecuali bahwa taqaddum bi 'l-ta'thir menyandang nama taqaddum bi' l-Dhat (dalam hubungan menyebabkan efek).

Doktrin keabadian dunia [lihat abad] dikuatkan dalam Islam hanya oleh filsuf tersebut, langsung mengikuti sistem pemikiran para filsuf Yunani: Plato, Aristoteles, Philo dari Alexandria, Proclus, dan John Philoponos yang tatabahasa. Para Tahafut dua al-Ghazali dan Ibn Rusyd dari kesepakatan dengannya dalam mode rinci. Argumen mendasar adalah bahwa tidak mungkin untuk hamil awal yang temporal bagi dunia, saat waktu di mana ia
diciptakan, sedemikian rupa sehingga waktu kosong mendahului penciptaan. Bahkan, jika, seperti Aristoteles mempertahankan, waktu merupakan pengukuran numerik gerakan (sebuah teori diambil oleh filsuf, lihat haraka), gerakan menuntut hal yang bergerak, menggerakkan tubuh, dunia fisik dan khususnya bintang-bintang, maka mungkin waktu untuk telah ada sebelum adanya dunia. Selanjutnya, jika ada, itu akan abadi atau diciptakan. Tapi kekekalan tidak sesuai dengan waktu yang berubah dan elapsing (sayalan): masing-masing bagiannya yang baru dalam hubungannya dengan bagian sebelumnya, dan waktu memperbaharui sendiri (yatadhaddad) dalam setiap satu dari instants nya. Jika waktu adalah hadis dalam setiap komponen, itu memiliki semua alasan karena begitu dalam totalitasnya. Jadi diciptakan: tapi kemudian masalah muncul: itu dibuat dalam waktu dan melakukan waktu ada sebelum waktu? Itu tidak masuk akal. Ini adalah argumen yang diambil pada bagian dunia. Pada bagian dari Allah, diberikan penciptaan temporal, apa yang Sang Pencipta lakukan sebelum membuat. Apakah Dia tidak aktif? Itu bukan sifatnya dan ditulis (II, t55) 'keletihan Baik dan tidak tertidur memegang-Nya' itu. Selain itu, jika Dia pertama kali aktif, maka aktif, perubahan akan terjadi di dalam Dia, yang tidak dapat diterima. Apa yang akan diinduksi-Nya untuk menciptakan pada saat ketika Ia melakukan ciptaan-Nya? Sebuah muradhdhih, sesuatu yang bisa memutar skala dalam arti tindakan penciptaan? Tapi muradhdhih ini kekal atau diciptakan. Jika abadi, dunia juga harus kekal, kecuali beberapa hal lain yang bisa mencegah muradhdhih ini dari akting, ini dikenal sebagai muradhdhih tark al-. Tark ini pada gilirannya akan dibuat atau diciptakan. Jika adalah abadi, pasti ada, untuk penciptaan telah terjadi, intervensi aqtark muradhdhih tark al-, dan sebagainya. Jika sekarang muradhdhih dibuat, pertanyaan berlaku untuk sebagai kepada dunia.

Untuk bagian mereka, para teolog yang percaya pada penciptaan dunia dalam objek waktu dengan alasan bahwa jika dunia adalah abadi, tidak memiliki awal, tidak pernah tidak ada lagi dan akibatnya itu telah ada untuk waktu yang tak terbatas. Sekarang, menurut prinsip Aristoteles, adalah mustahil untuk melintasi waktu tak terbatas. Jika ada yang tak terbatas instants untuk melintasi untuk sampai pada saat yang sekarang ini yang ada, tidak mungkin untuk tiba di sana dan itu tidak ada. Ini adalah suatu kontradiksi. Alasan yang sama dibuat dalam mempertimbangkan rantai tak terbatas menyebabkan: efek yang ada saat ini tidak mungkin ada. Kesulitan muncul dari asimilasi dari kekekalan untuk waktu tak terbatas. Tetapi untuk mengatakan bahwa dunia adalah abadi adalah untuk menegaskan bahwa sementara sisanya di bagian dalam dunia dan waktu yang terkait dengan dunia, satu tidak akan pernah menemukan momen yang bisa menjadi awal pertama. Satu akan perlu kembali tanpa batas, tetapi tidak sampai tak terhingga: dengan kata lain, kita berhadapan disini dengan waktu yang tidak terbatas, atau dalam bahasa Aristoteles, dengan tak terbatas pada kekuasaan, bukan yang tak terbatas dalam tindakan. Singkatnya, keberatan mengandaikan bahwa ungkapan 'tidak memiliki permulaan dalam waktu' berarti 'memiliki permulaan dalam waktu tak terbatas. " Selain itu, infinity mungkin dapat dilalui jika berisi; antara dua titik pada
baris, jumlah tak terbatas titik dilalui. Ibnu Sina tampaknya telah diselenggarakan pandangan ini berkenaan dengan masalah penyebab pertama, analog dengan masalah awal pertama. Jika seseorang mempertimbangkan ansambel (dhumla) penyebab dalam dunia ini, jelas bahwa setiap salah satunya adalah sekaligus sebab dan akibat. Oleh karena itu, seseorang tidak bisa memasukkan ke dalam ansambel ini merupakan penyebab pertama yang akan tanpa sebab. 'Setiap ensemble yang masing-masing unit adalah efek yang disebabkan tuntutan menyebabkan
eksterior untuk unit 'ini. Dalam hipotesis dari rantai sebab-akibat 'setiap seri terdiri dari penyebab dan dampak, baik terbatas atau tak terbatas, menunjukkan dirinya sendiri, jika mengandung dalam dirinya sendiri hanya disebabkan efek, membutuhkan penyebab yang eksterior untuk itu, tetapi jelas dalam kontinuitas dengan , seperti dengan batas ( tattasilu tarafan biha ) '. Jika komponen ensemble ini tidak terbatas, maka kita berhadapan dengan ensemble tak terbatas terbatas. Artinya, bahwa dalam mencari penyebab pertama, akan terlihat untuk berdiri keluar sebagai batas kepada tuhan yang berpikir tidak pernah dapat mencapai dan ke arah yang berjuang. Tetapi tindakan yang tidak perlu melintasi diskontinuitas terbatas sebab dan akibat dalam rangka untuk bertindak hik et nunc, karena, seperti Ibnu Sina menunjukkan 'setiap penyebab sebuah ensemble yang bukan salah satu unit ansambel yang ada di pertama tempat penyebab unit ini dan dalam menyebabkan konsekuensi dari ensemble. " Tersebut merupakan salah satu poin Ibnu Sina pandang pada pertanyaan ini, menurut Isharat . Lain keberatan terhadap teori keabadian dunia didasarkan pada astronomi. Kami memiliki contoh dalam Fisal Ibn Hazm. Setelah menyatakan bahwa ke satu waktu tak terbatas dapat menambahkan apa-apa, dan memiliki demikian menunjukkan bahwa tak terhingga abad untuk datang menambahkan tidak ada tak terhingga abad berlalu, Ibn Hazm menulis: "Dalam orbit lingkaran nya, Saturnus membuat satu revolusi di tiga puluh tahun, dan tidak pernah berhenti untuk mengubah. Lingkungan terbesar, dalam tiga puluh tahun, membuat sekitar revolusi, dan tidak pernah berhenti untuk mengubah. Sekarang melampaui segala revolusi keraguan lebih besar dari satu saja. Akibatnya, yang tak terbatas akan mencapai sekitar kali lebih besar dari yang tak terbatas, yang tidak masuk akal. " Ini adalah variasi penting pada tema yang sama: asimilasi dari kekekalan untuk waktu tak terbatas. Alasan Ibn Hazm adalah cerdas, tetapi mengabaikan kekuasaan tak terbatas.

Dan apa akhir dunia? Plato terpisah, para filsuf menganut pandangan bahwa yang memiliki awal memiliki akhir, dan secara bersamaan yang memiliki awal tidak ada akhir. Dari perspektif kreasionis, satu bisa, bagaimanapun, mengakui bahwa Allah tidak akan menghancurkan apa yang Dia telah menciptakan, sedemikian rupa sehingga dunia bisa saja diciptakan, tetapi abadi pos parte. Bagi para filsuf, alam semesta tidak dapat binasa, tetapi bagian dari itu mungkin hilang. Bagi para teolog yang percaya di akhir dunia, masih ada surga dan neraka yang kekal dalam arti abadi, bahkan, ada tertulis bahwa Terpilih dan the Damned akan tinggal di sana kekal (khalidun FIHA hum, sebagai qur ini 'yang mengatakan di beberapa tempat). Tetapi berdasarkan ayat di mana Allah menggambarkan diriNya sebagai, Terakhir Jahm b. 'Afwan seharusnya bahwa surga dan neraka juga harus memiliki akhir, dan ia menemukan konfirmasi dari teorinya dalam ayat 107 dan 108 dari Sura XI, "Untuk tinggal di sana kekal selama langit dan bumi tetap'. Dengan demikian Allah akan menemukan sendiri sebagai mutlak sendirian di pasca-keabadian seperti dia di pra-keabadian.
(Arnaldez R.)
-------------------------------------------------------
Yang kedua - Dalil qidam iaitu sanya jikalau tiada ALLAH Taala Qadim (bersifat qidam) nescaya adalah ia baharu. Yang demikian berkehendak kepada yang menjadikan Dia. Dan yang membaharukan Dia. Yang demikian membawa kepada daur iaitu mustahil kerana lazim berhimpun dua yang berlaziman dan membawa kepada tasalsul iaitu mustahil, kerana yang bersamaan yang sedikit dengan yang banyak. Yang demikian sabitlah Tuhan itu qadim (tiada permulaan wujud-Nya). Adapun dalil naqlinya:

Ila jua Tuhan yang awal tiada permulaan dan yang akhir tiada kesudahan. (Al Hadid: 3)

Adapun makna daur itu iaitu terhenti ada tiap-tiap daripada dua suatu atas yang lainnya. Umpamanya Zaid menjadikan Umar, dan Umar menjadikan Zaid pula. Maka pada ketika itu terdahulu Umar tatkala ia menjadikan Zaid, dan terkemudian pula Umar pada ketika Zaid menjadikan dia. Yang demikian jadilah Umar dan Zaid itu terdahulu daripada dirinya (berhimpun pada seorang itu dua yang berlaziman yakni dahulu dan kemudian). Yang demikian tidak diterima oleh akal sekali-kali kerana yang menjadikan dahulu daripada yang kena jadi maka manakala sabit Umar menjadikan Zaid maka bagaimana boleh diterima akal Zaid boleh menjadikan Umar pula kerana Zaid terkemudian daripada Umar, maka yang kemudian barang yang telah tentu tidak boleh menjadikan orang yang terdahulu daripadanya. Yang demikian mustahil wujud daur pada akal.

Dan makna tasalsul itu pada loghat berantai-rantai. Maksudnya pada istilah iaitu berhubung atau bersambung-sambung beberapa perkara lepas satu, satu lepas satu, satu, hingga tiada berkesudahan. Misalnya seperti dikata Hassan menjadikan Husin. Husin menjadikan Mohsin, Mohsin menjadikan Khalid, Khalid menjadikan Jamil, Jamil menjadikan polan dan polan menjadikan polan. Demikianlah seterusnya tiada berkesudahan. Maka adanya sesuatu yang kena jadi dengan tiada berkesudahan yang menjadikan itu sesuatu perkara yang tiada diterima oleh akal (mustahil) adanya.

Maka daripada keterangan ini nyatalah tiap-tiap daur itu tasalsul, tiada 'akasnya dan nyatalah keduanya itu mustahil. Maka jika Tuhan tiada bersifat dengan qidam nescaya membawa kepada daur atau tasalsul yang mustahil itu tiap-tiap perkara yang membawa kepada mustahil itu mustahil juga. Yakni lazim daripada ada Tuhan, tidak ada Tuhan. Tatkala itu adanya makhluk turut mustahil pula padahal kita semua ada.

DALIL SIFAT QIDAM

PERBAHASAN kita di dalam bab ini berkisar di sekitar dalil-dalil ke atas sifat kedua yang wajib bagi ALLAH SWT iaitu sifat Qidam. Ertinya, kita hendak menunjukkan bahawa wajib ALLAH SWT itu bersifat Qidam melalui dalil-dalil dan buktinya.

Sebelum itu, elok juga kita sentuh serba sedikit tentang pengajian kita yang awal dulu iaitu semasa kita membahaskan dalil yang menunjukkan ALLAH itu bersifat Wujud.

Dalil bagi menunjukkan wujudnya ALLAH SWT ialah dengan baharunya alam ini. Dan baharunya alam ini adalah kerana ia tergabung di antara jirim dan ' aradh Jirim sepertimana yang kita ketahui adalah sesuatu yang mengambil tempat lapang. Dengan yang demikian, jirim itu bersifat baharu. Selain dari itu, 'aradh yang berdiri pada jirim itu, keadaannya sentiasa berubah-ubah, maka 'aradh itu bersifat baharu. Oleh kerana 'aradh berdiri di atas jirim, maka baharunya 'aradh membawa kepada baharunya jirim.

Jadi, kalau jirim dan 'aradh bersifat baharu sedangkan 'aradh dan jirim adalah gabungan yang menjadikan alam, maka dengan sendirinya alam juga baharu. Kalau alam ini baharu, tentulah ada yang membaharukannya. Yang membaharukannya atau yang menjadikannya adalah ALLAH SWT. Dari itu, jelas membuktikan wujudnya ALLAH SWT. :

Berikutan dari pengertian kita tentang wujudnya ALLAH SWT itu, maka di sini kita akan memerhatikan pula tentang dalil yang menunjukkan ALLAH SWT bersifat Qidam atau bersifat sedia. Erti sedia bagi ALLAH SWT ialah bahawa ALLAH SWT tidak didahului oleh tiada atau dalam ertikata yang lain, ALLAH SWT tidak ada permulaan.

Perbahasan yang mudah kita fahami yang dapat kita buat secara ringkas bagi menunjukkan bahawa wajib ALLAH SWT itu bersifat sedia ialah, kalau ALLAH SWT tidak bersifat Qidam atau sedia, maka tentulah akal kita akan berkata yang ALLAH itu baharu. Dan kalaulah ALLAH itu baharu, tentulah ada yang membaharukan-Nya atau yang menjadikan-Nya.

Dalam bab yang terdahulu, kita telah perhatikan bahawa sifat Qidam atau sedia bagi ALLAH SWT ialah sedia yang tidak ada permulaannya. Tidak seperti sifat sedia pada makhluk yang ada permulaannya. Umpamanya, kalau kita katakan yang nasi itu sudah sedia, ertinya, sedia bagi nasi itu ialah sedia yang ada permulaan. Dalam ertikata yang lain, sedia bagi nasi yang kita makan itu ialah suatu sedia yang disediakan. Ada yang menyediakannya. Berlainan sekali dengan sedia bagi ALLAH SWT yang mana sedia-Nya adalah sedia yang tidak ada permulaan.

Dalil Aqli

Maka yang demikian, kalaulah ALLAH SWT tidak bersifat Qidam, maka jadilah ALLAH itu baharu. Dan sekiranya ALLAH SWT itu baharu, tentulah ada yang membaharukan- Nya atau ada yang menjadikan-Nya. Kerana, kalau ALLAH SWT bersifat baharu, tentulah ALLAH SWT mula-mulanya tiada dan kemudian ada yang mengadakan-Nya. Demikian akal kita akan berkata sekiranya ada orang yang mengatakan bahawa ALLAH SWT tidak bersifat Qidam.

Kemudian, sekiranya ALLAH SWT itu baharu, maka yang demikian akan membawa kepada daur atau tasalsul Daur dan tasalsul ini adalah perkara yang mustahil. Ia tidak boleh diterima oleh akal tentang wujudnya. Ertinya, tidak akan ada atau tidak akan berlaku perkara itu. Umpamanya, berlaku dua perkara yang berlawanan dalam satu masa. Seperti berlakunya siang dan malam dalam satu masa. Siang sepertimana- yang kita ketahui adalah lawan bagi malam. Bila siang berlaku, malam tidak berlaku dan bila malam berlaku, siang pula tidak berlaku. Ertinya, siang dan malam silih berganti dan bergilir-gilir.

Apakah pemah siang dan malam berlaku dalam satu masa? Atau mungkinkah ia boleh berlaku? Akal tidak akan mahu menerimanya. Ertinya, perkara itu mustahil pada akal. Iaitu akal yang menentukan bahawa perkara itu tidak akan wujud.

Contoh lain ialah seperti duduk dengan berdiri; dua keadaan yang berlawanan yang mana berlakunya tidak serentak. Apabila keadaan duduk berlaku, berdiri tidak berlaku dan apabila keadaan berdiri berlaku, duduk tidak berlaku. Apakah kedua-dua keadaan ini boleh berlaku serentak dalam satu masa? Tidak mungkin terjadi. Mustahil akan terjadi. Tidak mahu diterima oleh akal akan berlakunya.

Dan banyaklah contoh yang lain yang boleh kita tunjukkan bagi mendapatkan pengertian mustahil pada akal ini. Dan bila kita membahaskan tentang daur ataupun tasalsul nanti, ia adalah benda yang mustahil pada akal. Tidak akan berlaku tentang wujudnya.

Iaitu kalau ada orang mengatakan yang ALLAH tidak wajib bersifat Qidam, maka akal kita akan mengatakan yang ALLAH itu baharu. Dan sekiranya ALLAH itu baharu, maka yang demikian itu akan membawa kepada daur ataupun tasalsul. Dan ini perkara yang mustahil.

Sebabnya dikatakan daur itu mustahil adalah kerana terhimpunnya dua perkara yang berlawanan, sepertimana kedudukan malam dan siang berlaku dalam satu masa, ataupun kedudukan duduk dan berdiri berlaku dalam satu masa. Daur itu ertinya terhenti ada tiap-tiap daripada dua suatu atas yang lain. Maksudnya, suatu benda itu tidak akan berlaku kalau tidak ada benda yang lain sepertimana benda yang lain itu juga tidak akan ada kalau tidak ada benda yang lain pula.

Untuk memahaminya, kita ambil contoh seperti yang disebutkan dalam matan Risalah Tauhid. Iaitu contohnya Zaid menjadikan Umar dan Umar pula menjadikan Zaid. Zaid tidak akan jadi kalau tidak ada Umar sepertimana Umar pula tidak akan jadi kalau tidak ada si Zaid. Jadi, bagaimanakah pertimbangan akal kita kalau ada yang mengatakan bahawa Umar menjadikan Zaid di samping itu pula si Zaid menjadikan Umar. Mahukah hal ini diterima oleh akal. Tentunya akal tidak mahu menerima. Mustahil berlakunya.

Ini satu contoh daur. Perkataan daur itu adalah dari bahasa Arab yang bolehlah kita maknakan "berpusingpusing". Seperti yang kita katakan tadi, Zaid menjadikan Umar dan Umar pula menjadikan Zaid. Ertinya, dalam satu ketika Zaid menjadikan Umar dan dalam ketika yang lain pula Umar menjadikan Zaid. Dalam hal ini Umar dan Zaid adalah perlu-memerlukan iaitu tidak akan ada Umar kalau tidak ada Zaid dan tidak pula akan ada Zaid kalau tidak ada Umar.

Apakah akal mahu menerima berlakunya kedudukan tersebut iaitu Umar menjadikan 'Zaid dan kemudian Zaid menjadikan Umar. Ertinya, sama ada pada Umar mahupun pada Zaid, berlaku dua keadaan yang berlawanan iaitu dahulu dan kemudian. Nisbah Umar menjadikan si Zaid, Umar adalah dahulu daripada Zaid. Tetapi apabila Zaid menjadikan Umar, ketika itu Umar pula yang kemudian daripada Zaid.

Jadi, dua perkara yang berlawanan keadaan telah berlaku pada diri Umar mahupun pada diri Zaid. Tentulah ini mustahil berlaku. Kalau Umar sudah menjadikan si Zaid, tidaklah akan berlaku pula Zaid menjadikan Umar. Akal tidak mahu menerima wujudnya. Ertinya tidak mahu diterima oleh akal daur seperti itu.

Dan begitulah boleh kita kiaskan kalau ada orang mengatakan yang ALLAH itu tidak wajib bersifat Qidam yang membawa erti bahawa ALLAH itu baharu. Kalau ALLAH itu baharu, ertinya ada yang menjadikan-Nya. Jadi, kalaulah ada orang mengatakan yang ALLAH itu dijadikan, samalah seperti mengatakan Tuhan pertama menjadikan Tuhan kedua, dan Tuhan kedua menjadikan Tuhan pertama. Mahukah diterima oleh akal? Tentu sekali tidak.

Mustahil diterima oleh akal kerana terjadinya dua keadaan yang berlawanan pada satu perkara. Dua keadaan yang berlawanan itu ialah dahulu dan kemudian. Dengan yang demikian daur adalah mustahil.

Tadi kita telah katakan bahawa kalau ada orang mengatakan ALLAH tidak wajib bersifat Qidam, maka berertilah bahawa ALLAH ada permulaan. Bermakna jugalah yang ALLAH bersifat baharu. Yang demikian itu akan membawa kepada daur dan tasalsul Daur, seperti yang telah kita bahaskan, adalah mustahil. Dan tasalsul juga adalah mustahil.

Mustahilnya tasalsul adalah kerana bersamaan perkara yang sedikit dengan yang banyak. Ertinya, yang banyak dan yang sedikit itu sama dan setaraf. Di sini tentu agak susah hendak kita fahami kaedah ini kalau kita tidak menghuraikan erti tasalsul

Tasalsul ini dari bahasa Arab yang maknanya pada loghah ialah "berantai-rantai". Pada istilah, ertinya ialah berhubung atau bersambung beberapa perkara dengan tidak berkesudahan. Seperti contohnya, Ahmad menjadikan Muhammad, Muhammad menjadikan Mahmud, Mahmud menjadikan si Zaid, Zaid menjadikan si Umar, Umar menjadikan Jamal, si Jamal menjadikan Hassan, Hassan menjadikan Hussin, Hussin menjadikan Mohsen, Mohsen menjadikan polan, polan menjadikan polan. Dan begitulah seterusnya berantai-rantai tidak berkesudahan dan tidak berpenghujung.

Apakah perkara yang seperti ini mahu diterima oleh akal? Tentunya tidak. Akal tidak mahu menerima terjadi perkara yang tasalsul seperti ini iaitu satu-satu perkara itu terjadi berhubung-hubung atau berantai-rantai hingga tidak ada penghujung atau tidak ada kesudahan. Pertimbangan akal kita menolak terjadinya hal ini. Sebab itu dikatakan bahawa;!, tasalsul juga mustahil.

Ertinya, kedua-dua daur dan tasalsul tidak akan terjadi pada ALLAH SWT. Dan oleh itu, nyatalah bahawa ALLAH SWT tidak bersifat baharu. Ertinya ALLAH SWT tidak ada. yang membaharukan. Dengan itu juga, nyatalah bahawa. ALLAH SWT tidak ada permulaannya. Iaitu ALLAH SWT. tidak didahului oleh tiada. Kerana itu, wajiblah ALLAH bersifat Qidam atau bersifat sedia yang tidak ada permulaan.

Berhubung dengan pengertian daur dan tasalsul tadi, di sini kita perpanjangkan sedikit lagi perbahasan mengenainya. Telah pun kita ketahui bahawa daur dan tasalsul itu adalah; mustahil pada ALLAH SWT Kerana itu bolehlah kita katakan bahawa tiap-tiap daur itu adalah tasalsul. Tetapi tiap-tiap tasalsul bukannya daur. Demikian tersebut di dalam matan Risalah Tauhid.

Maksudnya, sama ada daur mahupun tasalsul, mengikut pandangan akal, adalah mustahil berlakunya pada ALLAH SWT. Dan seterusnya, tiap-tiap yang membawa kepada mustahil itu adalah mustahil juga.

Jadi, kalau ada orang yang mengatakan bahawa ALLAH SWT tidak wajib bersifat Qidam, nanti akan berlakulah daur dan tasalsul itu pada ALLAH SWT. Daur dan tasalsul ini adalah mustahil. Dan tiap-tiap yang membawa mustahil itu adalah mustahil juga; yakni, lazim daripada ada Tuhan, tidak ada Tuhan. Dan di waktu itu, adanya makhluk turut mustahil pula.

Tentulah demikian akal kita akan mengatakan kalau daur dan tasalsul itu berlaku pada ALLAH SWT yang mana akan membawa kepada mustahil wujudnya Tuhan. Manakala, kalau wujudnya Tuhan itu mustahil, sudah tentulah wujudnya makhluk juga akan menjadi mustahil. Sedangkan makhluk dan seluruh alam ini sudah ada.

Kalau begitu, nyatalah akan wujudnya Allah S W T . Mustahil ALLAH SWT tidak wujud sedangkan alam ini; sudah ada. Dan wujudnya ALLAH SWT itu adalah wujud" yang tidak ada permulaan kerana mustahil berlakunya daur dan tasalsul pada ALLAH SWT. Dengan yang demikian juga, nyatalah ALLAH SWT wajib bersifat Qidam.

Demikianlah bahasan kita secara akal atau secara aqli bagi menunjukkan bahawa ALLAH SWT wajib bersifat Qidam. Atau wajib ALLAH SWT bersifat sedia yang tidak ada permulaan atau yang tidak didahulu oleh tiada.

Dalil Naqli

Kemudian kalau kita lihat pula di dalam Al Quran yang merupakan sumber kepada dalil naqli, ALLAH telah memberitahu kita dalam firman-Nya:

DIA-lah Tuhan yang awal tapi tiada permulaan dan yang akhir tapi tiada kesudahan. (Al Hadid: 3)

Jadi, kalau tadi kita telah tetapkan melalui perbahasan akal tentang bukti yang menunjukkan bahawa wajib ALLAH SWT bersifat Qidam, maka kebenaran itu ditegaskan sendiri oleh ALLAH SWT di dalam Al Quran. Penegasan ini adalah penegasan yang paling tepat dan paling layak kita terima sebagai keyakinan yang padu dan bulat. Kalau kita tidak yakin dengan penegasan ALLAH di dalam kitab yakni Al Quran, ertinya kita tidak yakin pada kitab sedangkan yakin pada kitab adalah salah satu daripada Rukun Iman yang enam.

Kalau salah satu sahaja daripada Rukun Iman yang enam itu cacat, maka cacatlah iman kita. Dan apabila cacat iman, kita akan jatuh kepada murtad. Kerana itu hendaklah kita berhati-hati dalarn soal-soal yang membawa kepaca cacatnya iman kerana kalau satu perkara saja yang kita tolak pun, maka akan gugurlah semuanya. Maknanya kita telah murtad. Hukum bagi orang yang murtad ialah kafir dan kalau mati dalam keadaan demikian, kekal abadilah dia di dalam Neraka. Wal'iyazubillah.

Jadi, untuk membawa kepada murtad atau kafir ini, cukup kalau sebahagian kecil saja daripada Al Quran itu kita tolak. Walaupun ada sebahagian besar yang lain kita percaya dan kita yakini malab kita amalkan pula, namun semuanya sudah tidak diiktiraf lagi oleh ALLAH SWT. Kerana mengikut kaedah yang telah ditetapkan oleh ulama di segi syariat Islam, kufur dengan sebahagian kecil saja daripada isi kitab bermakna kufur dengan seluruh isi kitab iaitu Al Quran.

Kaedah ulama yang telah diutarakan kepada kita itu berbunyi:

Menyebut sebahagian kecil (isi Al Kitab) itu bermaksud keseluruhannya.

Sebab itulah, Al Quran dan juga kitab-kitab yang pernah ALLAH turunkan sebelum Al Quran yang betul dan yang tidak diubah-ubah oleh manusia, hendaklah kita percaya semuanya walaupun kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al Quran itu tidak kita amalkan lagi kerana sudah dimansuhkan oleh Al Quran. Namun kita mesti percaya kepada semuanya iaitu Zabur, Taurat dan Injil dan lebih-lebih lagilah Al Quran yang bukan saja kita percaya dan yakini tetapi wajib pula kita amalkan setiap aspek dan setiap sudut yang ada di dalamnya. Ini telah diingatkan oleh ALLAH SWT kepada kita di dalam Al Quran dengan firman-Nya:

Wahai orang-orang beriman, musuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya. (Al Baqarah: 208)

Jadi setiap isi Al Quran itu mengandungi kehidupan di segi syariat Islam sama ada aqidahnya, akhlaknya, kemasyarakatannya, rumahtangganya, ekonominya, pergaulannya, perjuangan dan jihadnya atau apa saja hinggalah kepada persoalan bemegara sekalipun, semuanya mesti kita terima. Jangan ada satu bahagian pun yang kita tolak. Kalau ada sebahagian kecil saja yang kita tolak, katalah sepotong ayat saja, maka itu pun sudah cukup untuk membawa kita kufur kepada seluruh isi Al Quran, berdasarkan kaedah tadi.

Kalau kita fahami benar-benar akan kaedah ini dan kemudian kita suluh kepada diri dalam kehidupan setiap hari seperti dalam sikap kita, percakapan kita dan juga perbuatan dan usaha ikhtiar kita, nanti akan terdapat perkara-perkara yang ALLAH ceritakan di dalam Al Quran yang menjadi tandatanya kepada kita atau yang menimbulkan keraguan kita dan sebagainya. Malah kadang-kadang ada perkara-perkara yang kita tidak yakin.

Mungkin, kalau perkara-perkara yang ALLAH ceritakan di dalam Al Quran itu masuk di dalam lojik akal kita seperti ALLAH perintahkan kita makan dan minum, ALLAH perintahkan kita mengembara dan berjalan-jalan di merata pelosok bumi dan perintah-perintah yang seumpamanya yang sesuai dengan akal dan fitrah kita, tentu agak mudah kita menerimanya. Malah kita begitu meyakininya dan mahu mengamalkannya di dalam kehidupan kita sehari-hari.

Tetapi, bagaimana pula dengan cerita-cerita ALLAH yang tidak boleh kita lojikkan dengan akal fikiran kita seperti kita ambil satu contoh fir-man ALLAH di dalam Al Quran dengan ayat yang selalu kita kemukakan supaya kita dapat memahami benar-benar perbahasannya seperti yang telah dibentangkan oleh Imam Al-Ghazali rahimahullahu Taala. Ayat itu berbunyi:

Barang siapa yang bertaqwa kepada ALLAH, nescaya ALLAH akan lepaskan ia daripada sebarang kesusahan dan kepicikannya, dan ALLAH akan memberi dia rezeki dari sumber yang dia tidak mengetahuinya. (Ath Thalaq: 2-3)

Ada tiga perkara yang ALLAH ceritakan di dalam ayat ini. Pertama ALLAH menghendaki kita bertaqwa. Kemudian yang kedua, apabila kita telah tunaikan syarat itu dalam ertikata melaksanakan setiap suruhan ALLAH sungguh-sungguh sama ada yang fardhu mahupun yang sunat dan menjauhi larangan-Nya benar-benar sama ada yang haram mahupun yang makruh, maka kata ALLAH sebagai balasan dari itu, kita akan dilepaskan daripada sebarang kesusahan dalam kehidupan ini. Dan yang ketiganya, natijah dari kita bertaqwa itu, ALLAH juga akan memberi kita rezeki dari sumber-sumber yang kita sendiri tidak mengetahuinya. Ertinya, apa saja yang menjadi keperluan kita seperti makan minum yang sekadar perlu, keperluan rumahtangga yang sekadar perlu dan sebagainya, semua ini tetap ALLAH jaminkan asalkan kita bertaqwa kepada ALLAH SWT.

Malah, kalau kita lihat perbahasan Imam Ghazali r.t. dengan lebih terperinci lagi, katanya, kalau seseorang itu tidak melakukan sebarang usaha ikhtiar sekalipun seperti tidak berusaha mencari rezeki dan sebagainya, tetapi dia bertaqwa kepada ALLAH dalam ertikata melaksanakan setiap kerja ALLAH, baginya tetap ada jaminan makan minumnya yang perlu, keperluan rumahtangganya yang perlu dan lain-lainnya. Tentulah hal ini susah hendak kita terima kerana memang sudah selama ini kita dididik dan ditanamkan dengan fikiran bahawa setiap apa yang kita mahukan mesti kita lahirkan. Hati kita tentu akan berkata, "Mana jadi hidup ini hanya dengan bertaqwa saja."

Jadi cerita-cerita yang ALLAH firmankan di dalam Al Quran yang susah hendak dilojikkan dengan akal, memang susah hendak diterima oleh kebanyakan kita hari ini kerana dalam pengalaman kita hari-hari, kita sudah selalu sangat dibawakan dengan hal-hal yang ada hubungan dengan lojik akal. Sedangkan di dalam Al Quran, tidak semuanya boleh kita lojikkan dengan akal fikiran.

Di sini letaknya persimpangan jalan di antara kata-kata "orang banyak" dengan kata-kata "orang sedikit". Perkaraperkara yang tidak dapat dilojikkan dengan akal yang ALLAH ceritakan di dalam Al Quran, menjadi garis pemisah di antara "orang banyak" dengan "orang sedikit".

Umpamanya, "orang banyak" begitu yakin dan percaya yang kalau umat Islam ini mahu maju, mahu berdaulat serta mahu kuat, kekuatan lahir seperti yang diusahakan oleh orangorang kafir mesti dicari. Kalau orang kafir ada kekuatan ekonomi, umat Islam juga mesti mengejar kekuatan ekonomi. Kalau orang kafir ada kekuatan tentera, umat Islam juga mesti mencari kekuatan tentera. Kalau orang kafir ada kekuatan politik, umat Islam juga mesti mencari kekuatan politik. Kalau orang kafir ada kekuatan sains dan teknologi, umat Islam juga mesti mengejar kekuatan sains dan teknologi. Dan begitulah seterusnya dalam kekuatan-kekuatan lahir yang lainnya. Semua sekali umat Islam mesti cari kalau hendak maju dan kuat serta berdaulat.

Inilah yang menjadi keyakinan dan pegangan bagi "orang banyak". Sebaliknya, "orang sedikit" meyakini dan mempercayai apa yang telah disyaratkan oleh ALLAH SWT kepada umat Islam iaitulah sepertimana yang ALLAH sebut di dalam ayat tadi. Syaratnya, umat Islam mesti bertaqwa. Kemudian soal-soal yang lain, ALLAH akan selesaikan. Ertinya, perkara- perkara yang lain akan datang atau lahir dengan sendirinya seperti kekuatan ekonomi akan lahir, kekuatan politik akan lahir, kekuatan tentera akan lahir dan sebagainya. Kerana, semua itu datangnya dari pertolongan ALLAH SWT.

Tetapi inilah yang amat susah hendak diyakini oleh "orang banyak". Sebab itu peraturan yang telah ALLAH syaratkan untuk mendapat pembelaan dari ALLAH SWT di apa bidang sekalipun melalui jalan taqwa tadi telah ditolak oleh mereka. Hari ini "orang banyak" lebih yakin dengan cara yang telah dilakukan oleh orang kafir iaitu, umat Islam mesti cari kekuatan lahir kalau hendak maju jaya dan sebagainya. Insya-ALLAH, apa yang diyakini oleh "orang banyak" ini tidak akan membuahkan hasil. Mereka boleh buat apa saja untuk mendapatkan kekuatan lahir itu, namun umat Islam tidak juga akan memperolehi kejayaan dan kemajuan.

Buktinya dapat kita lihat pada kehidupan umat Islam di dunia hari ini. Hari ini, ada sesetengah umat Islam sudah hidup bebas dan merdeka di negara masing-masing. Kita juga di negara ini sudah merdeka lebih 30 tahun. Nisbah sesebuah negara itu hendak mengusahakan kekuatan lahir walau di bidang apa sekalipun, dalam masa 30 tahun, 40 tahun atau 50 tahun yang sudah, kita percaya sehingga hari ini sudah tentu kekuatan itu sudah diperolehi. Kerana kita dapat saksikan betapa negeri Jepun yang begitu teruk dengan berbagai kemelesetan dalam tahun 50-an dulu, kini dalam tempoh lebih kurang 30 tahun saja, ia sudah menjadi gergasi dunia di kebanyakan bidang. Ertinya, dalam tempoh yang singkat itu, Jepun sudah berjaya mendapatkan kekuatan lahir.

Tetapi umat Islam di sesetengah Negara Islam yang sudah merdeka lebih lama dari itu, hingga hari ini, belum mempunyai satu pun kekuatan lahir yang dapat dibanggakan. Belum ada satu Negara Islam yang kuat sama ada di bidang ekonomi, di bidang sains dan teknologi, dan sebagainya. Inilah akibat dari umat Islam begitu mengejar kekuatan lahir hingga sanggup meninggalkan taqwa. Akhimya sedikit pun ALLAH tidak memberi bantuan. Umat Islam telah tertipu dengan kekuatan yang ada pada orang kafir. Sedangkan ALLAH telah peringatkan di dalam Al Quran dengan firman-Nya:

Maka janganlah sekali-kali kesenangan kehidupan dunia menipu dayakan kamu. (Fathir: 5)

Jadi, jalan yang telah diyakini oleh "orang banyak" adalah jalan yang tidak disunnahkan oleh ALLAH SWT. Jalan yang disunnahkan oleh ALLAH kepada orang Islam ialah melalui taqwa, manakala jalan yang ditunjukkan oleh ALLAH kepada orang kafir ialah melalui 'kekuatan lahir'. Umat Islam mesti mengikut jalan yang telah ALLAH tunjukkan kepadanya dan bukan yang telah ditunjukkan kepada orang kafir. Iaitu umat Islam mesti usahakan taqwa untuk mendapat pembelaan dari ALLAH SWT. Perhatikanlah bagaimana janji ALLAH, kalau ini dapat diusahakan. Firman-Nya:

Kalau penduduk di sesebuah kampung itu beriman dan bertaqwa, nescaya ALLAH akan bukakan keberkatan dari langit dan bumi. (Al A'raf: 96)

Dua syarat saja yang ALLAH kehendaki dari umat Islam iaitu beriman dan bertaqwa. Dengan itu ALLAH akan bukakan keberkatan dari pintu langit dan bumi. Berkat itu ialah dengan timbulnya perpaduan, timbul ukhuwah, timbul kemajuan, timbul rasa takut dari musuh, timbul kekuatan dan lain-lainnya. Ertinya, dengan mengusahakan iman dan taqwa, pembalasan dari ALLAH begitu banyak sekali. Dengan beriman dan bertaqwa, kekuatan lahir akan datang dengan sendirinya.

Dengan itu, kembali kita kepada perbahasan yang menunjukkan bahawa wajib ALLAH SWT itu bersifat Qidam, . dalil yang tepat dan dalil yang wajib kita terima ialah apabila ALLAH mengatakan di dalam Al Quran:

----------------------------------

A. Arti Qidam.
Arti Qidam secara harfiyah adalah yang terdahulu, secara ma'any arti Qidam terbagi kepada3 pengertian
1. Qidam Idlofi, lamanya sesuatu karena disandarkan kepada yang lain, seperti ayah Qidam kalau disandarkan kepada anak, tetapi kalau disandarkan kepada kakek, ayah tidak Qidam.
2. Qidam Zamani, lamanya sesuatu karena memang sudah lama zamannya tetapi didahului dengan tidak ada, seperti Qidamnya alam semesta.
3. Qidam Dzati, lamanya sesuatu tidak diawali dengan tidak ada, tidak bersandar kepada adanya yang lain dan tidak terikat zaman, yakni Qidamnya Allah SWT.
Qidamnya Allah SWT, tidak terkurung zaman karena menurut para ‘Ulama Ushuluddin yang disbeut zaman adalah
مُقَا رَنَةُ مُتَجَدِّدٌ مَوْهُوْمٌ لِمُتَجَدِّدٍ مَعْلُوْمٍ اِزَالَةً لِلاِ بْهَا مِ
Artinya : Menyertainya sesuatu yang baru, yang masih negatif, kepada sesuatu yang baru yang adanya positif, demi untuk menghilangkan keabstrakan yang ada.

Berdasarkan dari ta'rif tersebut di atas, jelaslah bahwa Allah SWT, tidak terikat zaman, Allah SWT. Adalah Dzat Yang Qodim, Maha Tunggal, Allah SWT. Wahdahu La Syarika Lah, tidak ada yang menyertainya.
Oleh sebab itu maka tercabut dari Maqulat Mata, yakni bahasa yang menunjukan kepada zaman, seperti sekarang, kemarin, dahulu besok, bulan, tahun dan lain sebagainya, maka tidak sah pertanyaan : sejak kapan adanya Allah SWT. ?, sampai kapan dia berada ? dan sebagainnya.
B. Kata Qodim dan Azali
Ada dua perkataan yang berkaitan dengan Qidam, yaitu Qodim dan Azali, yang pengertian dan hubungannya dengan Qidam para ‘Ulama berpendapat :
1. Perkataan Qodim dipergunakan untuk sesuatu yang ada dan adanya tidak ada permulaan dan tidak terkait zaman, maka yang disebut Qodim adalah Dzat Allah SWT. Dan sifat Ma'ani di Allah SWT. Perkataan Azali, dipergunakan untuk yang tidak ada permulaan, maka yang disebut Azali adalah Allah SWT. Dan semua sifat Allah SWT.
2. Perkataan Qodim, hanya digunakan untuk yang tidak ada permulaan dan tidak membutuhkan kepada yang lain maka perkataan Qodim hanya untuk Dzat Allah SWT, tidak kepada sifatnya, karena sifat membutuhkan kepada Dzat. Perkataan Azali, untuk yang tidak ada permulaan, baik berdiri sendiri atau bersandar kepada yang lain, maka perkataan Azali adalah untuk Dzat Alloh SWT, dan seluruh sifat-sifatNya.
3. Perkataan Qodim dan Azali, sasarannya sama, untuk yang tidak ada permulaan, maka seluruh sifat Allah SWT. Dan Dzat Allah SWT. Bisa disebut Qidam bisa pula disebut Azali.
C. Dalil ‘Aqli Sifat Qidam
Dalil ‘Aqli (logika) yang menunjukan kepada Qidamnya Allah SWT, adalah ; Apabila Allah tidak Qidam, maka pasti adanya Allah didahului dengan tidak ada, sedangkan proses dari tidak ada kepada ada, pasti memerlukan kepada yang mengadakan (pencipta). Andaikan yang menciptakan Allah itu adalah Allah yang kedua, maka Allah yang keduapun pasti tidak Qidam, sebab keberadaannya tentu akan membutuhkan pencipta lagi seperti Allah yang pertama, kalau diperkirakan Allah yang kedua itu adalah Allah yang pertama maka pasti menimbulkan problema Daor, yakni perkara yang pertama menunggu kepada yang kedua dan yang keduapun menunggu yang pertama. Hal seperti ini adalah mustahil wujud (tidak mungkin adanya). Kalau diperkirakan lagi bahwa pencipta Allah yang ketiga, yang ketiga diciptakan oleh yang ke empat dan terus berkelanjutan tanpa ada akhirnya makan akan terjadi proses Tasalsul yakni proses berantai yang tiada ber-kesudahan, hal ini adalah mustahil wujud seperti Daor. Oleh karena proses Daor. Oleh karena proses Daor dan Tasalsul adalah mustahil maka tetaplah bahwa Allah itu Qidam.
Kebenaran dalil ‘Aqli tersebut diperkuat dengan firman Allah dalam al-Qur'an surat 21. al-Anbiya ayat 22 :
لَوْكَانَ فِيْهِمَا اَلِهَةٌ اللهُ لَفَسَدَ تَا ..... الانبياء
Artinya : Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah Rusak binasa. Maka Maha suci Allah yang mempunyai 'Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.

Sekarang Langit dan Bumi tersaksi ada, ini merupakan tanda yang positif kepada tidak adanya lagi Tahun selain Allah.
 Dalil Naqli Sifat Qidam.
 Firman Allah dalam surat 57, al-Hadid ayat 3 :
— هُوَ الاَ وَّلُ وَالاَ خِرُ وَاظَّهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلّ ِشَيْ ءٍ عَلِيْمu
 Artinya : Dialah yang Awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin]; dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu
 Pengertian Dalil dan Naqid
 Meyakinkan kepada sifat Qidam Allah belum cukup untuk mengesakan seseorang bisa disebut Mukmin, sebelum meyakinkan kepada mustahilnya allah tidak Qidam dan harus pula meyakinkan barunya alam semesta, sebagai kebalikan dari Qidamnya Allah. Istilah kebalikan dalam bahasan Aran disebut dengan dua kata, yaitu Dalil dan Naqid yang terjemahnya dalam bahasa Indonesia adalah sama yaitu Berlawanan, padahal dalam ma'nanya adalah berbeda :
 Dalil, maknya adalah : dua materi kata yang berlawanan, yang tidak bisa kumpul namun kedua-duanya bisa hilang, seperti hitam dan putih, kedua-duanya tidak bisa bersatu dalam satu titik tapi bisa hilang dua-duanya, umpanya diganti dengan warna lain, atau seperti panjang dan pendek ada pertengahannya.
 Naqid, ma'nanya adalah : Dua materi kata yang berlawanan yang tidak bisa berkumpul dan tidak bisa hilang dua-duanya. Seperti siang dan malam, tidak bisa ya siang ya malam, kalau tidak siang pasti malam kalau tidak malam tentu siang, tidak ada pihak ketiga sebagai penggantinya, malam tidak siangpun tidak.
 Dalam istilah ilmu tauhid, Dalil itu berarti Naqid yakni bila ditetapkan sesuatu, maka kebalikannya harus hilang, seperti Allah wajib kuasa maka mustahil allah tidak kuasa, tidak bisa dikatakan terkadang kuasa, terkadang lemah.

Wujud


Sifat Wujud

Wujud (وجود) arti bahasa "ada" contoh dekat adanya sesuatu pasti ada yang membikinnya, nah kata ada tersebut menunjukan adanya pembikin tanpa harus melihatnya.

Dalam lugot bahasa asal kata dari wajada (وجد) artinya "telah ketemu/ada", ditarik ke tashrif وجد , يوجد, وجدا , وجودا walau dalam sesuatu jika benda yang ditanyakan maka dengan kata موجود "ada sesuatu"?.... kalimat masdariyyah dan dijadikan sifat yang marroh (مصدر مرة) jumlah ismiyah yang masdariyah dalam arti nama adanya sesuatu yang ditemui, contoh saya punya/ ada mobil tanpa saya tahu siapa yang membikinnya, yang jelas ada mobil dan pabriknya, salah sekali orang bilang tidak ada yang membikinnya tok bukti ada mobilnya.

Kaitan dengan Alloh SWT wajib kena sifat wujud, karena adanya makhluk, contoh; adanya sesuatu tentu ada yang membuatnya terjadi kenyataan adanya alam sekitar dan penghuninya tentu ada yang membuatnya, siapakah pembuat itulah Alloh SWT.

Dalil sifat wujud:
Adat: Jika ada sesuatu ada yang membikinnya jadi kesimpula adanya Alam semesta dan pengisinya menandakan ada penciptanya.
Aqli: adanya alam dan seluruh penghuninya menandakan ada yang menciptakannya.
Naqli: suroh al-ikhlas ayat perta:
قل هو الله - أحد Artinya katakan olehmu Muhammad bahwa sang pencipta Alloh SWT Yang Maha Esa,

Jadi suatu keyakinan bahwa wajib sifat Wujud ada di Alloh SWT, siapapun konsekwensi tidak mengkui adanya Alloh kafir hukumnya.

Wujudnya Alloh SWT tidak sama sengan wujud makhluknya, dalil dekat: orang pencetak poto tidak sama dengan poto cetakannya, sekalipun mirif wajah tapi tidak bernyawa, nah adanya Alloh SWT pun tidak sama dengan makhluknya, diantaranya: Adanya Alloh SWT adalah ليس كمثله شيئ "tidak ada satupun yang menyerupainya".

Rincian ada:
1. Ada Alloh tidak ada awalnya,
2. Ada Alloh tidak ada akhirnya,
3. Ada Alloh tidak ada seba/pelantara,
4. Ada Alloh tidak ada asal,
5. Ada Alloh tidak tergantung yang ada atau tiada,
6. Adanya Alloh tidak butuh kepada yang mengadakan/meniadakan,
7. Adanya tidak bisa dicontokan.
8. Adanya tak bisa diukur dengan apapun.
Rincian ada ini hanya sekedar pembatas keterbatasan pola pikir saya dan agar jadi penjelas antara kholik dan makhluk, takut disamakan, bisa jadi batal Aqidah atau keyakinan jika tak sesuai dengan qoridor syari'.

Contoh kecil perbedaan yang membuat dan yang dibuat." Saudaraku membikin korsi, tentu dengan berbagai mode, metode dan asfiratif atau desain yang menghebohkan, tapi herannya tidak sama dengan saudara yang membikinnya, itu menandakan aqliyah dan adatiyah perbedaan antara kholik dan makhluk.

Hukum Yakin bahwa Alloh SWT keterapan sifat Wujud adalah wajib aini yang tidak bisa diganti dengan apapun dan siapapun, tidak syah akidah dan keyakinannya jika tidak mengakui sifat tersebut, atau ponisan kafir (diluar Islam).

Buah sifat wujud:
1. Meyakini adanya dzat Alloh keterapan sifat wujud / ada,
2. Berkeyakinan beda Adanya Alloh SWT dengan makhluknya,
3. Tidak takut kepada selain Alloh SWT,
4. Banyak bertafakur kepada makhluknya, khususnya diri sendiri dari mualai hal terkecil yang ada pada tubuh ini dan yang teralami dijadikan pelajaran.
5. Menerima segala konsekwensi dengan adanya Alloh sebagai rob (pencipta) siap melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala apa yang dilarang-Nya.
6. Lebih mendekatkan diri kepada Alloh dengan tho'at,


Wujudnya Alloh SWT tidak ditergantungkan keapada ada atau tidak adanya makhluk, Alloh SWT tetap ada, wujud hakiki hanya kemilik Alloh SWT Yang Maha Tahu. Diumpamakan diatas dengan benda, agar pemikiran / otak kita bisa faham dari dasarnya ada (وجود).

------------------------------------------------


Pengertian Al Wujud

Berbalik kepada sifat wajib yang pertama bagi ALLAH Taala iaitu Al Wujud, maknanya dari segi bahasa ialah "ada".

Dalam hal ini, wajib bagi ALLAH SWT itu ada. Atau dalam ertikata yang lain, wajib adanya atau wujudnya ALLAH SWT itu. Pengertian wajib ini perlu kita fahami benar-benar.

Wajib Pada Akal

Di dalam pengajian tauhid, wajib bermaksud wajib pada akal iaitu menghukumkan adanya sesuatu itu dengan bersandarkan perbahasan akal fikiran serta dalil-dalil dan bukti di atas ketetapan hukum itu. Ini dinamakan wajib akal nazari iaitu khusus kita lakukan untuk menghukum sifat-sifat yang wajib bagi ALLAH SWT dengan mendatangkan bahasan akal fikiran serta dalil-dalil dan bukti di atas ketetapan hukum itu. Ini dinamakan wajib akal nazari iaitu khusus kita lakukan untuk menghukum sifat-sifat yang wajib bagi ALLAH SWT dengan mendatangkan bahasan yang ada dalil dan bukti sekali.

Wajib Akal Dharuri

Wajib akal nazari berbeza dengan wajib akal dharuri iaitu yang menghukum sesuatu itu tetap adanya dengan tidak perlu didatangkan dalil dan bukti melalui bahasan, seperti menghukum 1 itu separuh daripada 2.

Oleh kerana wajib yang kita maksudkan pada sifat Al Wujud bagi ALLAH SWT ini adalah wajib pada akal, maka tidak diterima oleh akal akan tidak adanya atau tidak wujudnya zat ALLAH SWT itu. Ertinya, akal hanya mahu menerima tentang adanya zat ALLAH SWT tetapi tidak mahu menerima yang sebaliknya.

Kalau ada orang yang mengatakan yang ALLAH SWT itu tidak wujud atau tidak ada, maka akal tidak sekali-kali mahu menerimanya. Yang akal mahu terima ialah bahawa ALLAH SWT itu ada atau wujud.

Hakikatnya, wajiblah adanya zat ALLAH SWT itu. Ia tetap ada dan benar ada, dan wajib bagi kita meyakini adanya zat ALLAH SWT itu. Jangan sampai keyakinan kita ini tergelincir kerana kalau tergelincir dengan salah satu sebab sama ada syak, zan atau waham, maka tergelincirlah aqidah kita. Manakala aqidah kita tergelincir, akan sesatlah kita.

Zat ALLAH Tiada Siapa Yang Jadikan

Kemudian, adanya zat ALLAH itu tidak ada yang menjadikannya. Ini khususiah bagi zat ALLAH SWT sahaja.
Ertinya, bila kita katakan wajib adanya zat ALLAH SWT itu, pengertian "ada" di sini adalah ada yang tidak ada
yang menjadikan-Nya. Tidak seperti adanya benda-benda lain seperti makhluk dan alam ini. Misalnya, bila kita
sebut diri kita ini bersifat ada, maksud "ada" di sini ialah bahawa adanya diri kita ini disebabkan ada yang menjadikannya. Kalau tidak ada yang menjadikannya, maka tidak adalah diri kita ini.

Namun seluruh makhluk dan alam ini, termasuklah diri kita, tidak pula boleh kita katakan tidak ada. Semua itu ada, tetapi adanya adalah disebabkan ada yang menjadikan. Dan yang menjadikannya ialah ALLAH SWT. Hanya wujudnya atau adanya ALLAH SWT itu sahaja, tiada siapa yang menjadikan. Berbeza sekali dengan wujudnya makhluk yang telah ada ini.

Bukan saja adanya ALLAH SWT itu tidak ada siapa yang menjadikannya, malah wujudnya zat ALLAH SWT itu juga bukan dikeranakan oleh sesuatu sebab.

Ertinya, adanya atau wujudnya zat ALLAH SWT itu tidak bersebab sebagaimana kejadian makhluk atau seluruh alam ini. Makhluk atau seluruh alam ini disebut juga sebagai 'baharu'. Baharu di sini bererti 'selain daripada ALLAH' atau masiwallah.

Yang baharu adalah seperti manusia, haiwan, tumbuh-tumbuhan, bukit-bukau, gunung-ganang, laut, ikan, binatang yang melata, seluruh langit dan isi langit, seluruh bumi dan isi bumi, seluruh yang ada di antara langit dan bumi, alam ghaib termasuklah Alam Kubur, alam Akhirat, alam Jabarut, dan lain-lainnya. Kita katakan bahawa semua itu 'baharu' kerana ia ada yang membaharukan atau yang menjadikan. Itulah ALLAH SWT.

Wujud-Nya Tanpa Sebab

Jadi perlulah kita fahami benar-benar akan hakikat wujudnya ALLAH SWT, iaitu tanpa bersebab. Tidak seperti kejadian setiap yang baharu yang semuanya dikeranakan oleh satu-satu sebab. Seperti misalnya, adanya kita ini disebabkan oleh adanya ibu bapa. Ertinya, perkahwinan menyebabkan lahirnya zuriat. Atau dalam perkataan lain, bolehlah kita katakan, lahirnya zuriat itu disebabkan oleh perkahwinan.

Sama jugalah dalam kejadian-kejadian yang lain seperti kenyang disebabkan oleh makan, hilangnya dahaga disebabkan oleh minum, kaya disebabkan berusaha bersungguh-sungguh, kejayaan disebabkan jihad dan perjuangan yang gigih, mati disebabkan oleh sakit, dan begitulah seterusnya. Tiap-tiap sesuatu itu terjadi kerana ada sebab-sebabnya.

Cuma Allah sahaja yang adanya tidak bersebab. Barangsiapa mengatakan kejadian ALLAH SWT itu ada sebab-sebabnya, dia telah melakukan satu pembohongan yang paling besar. Pembohongan yang demikian adalah pengakuan sesat, d an sekiranya dia mati tanpa sempat memperbetulkan pengakuannya, dia akan terjerumus ke dalam Neraka, kekal abadi di dalamnya, wal'iyazubillah.

Pandangan Ahli Falsafah

Bagi ahli-ahli falsafah atau ahli fikir, hal tiap-tiap suatu kejadian itu terjadi kerana ada sebab-sebabnya dipanggil sebagai "sebab membawa akibat". Iaitu, tiap-tiap suatu kejadian itu ada sebab-sebabnya dan ada akibatnya.
Umpamanya, untuk mendapatkan zuriat, sebabnya melalui perkahwinan. Lalu kita katakan sebab daripada perkahwinan itu mengakibatkan kita mendapat zuriat.

Begitu jugalah dengan kejadian-kejadian lain seperti disebabkan kita makan, akibatnya kenyang; disebabkan kita rajin bekerja dan berusaha, akibatnya kita menjadi kaya; disebabkan kita rajin dan tekun belajar, akibatnya kita jadi pandai.

Demikianlah cara ahli-ahli falsafah mendatangkan perbahasan mereka. Ini adalah hujah ilmu pasti. Samalah seperti menghujah 2 kali 2 bersamaan 4. Hujah demikian tidak boleh digembar-gembur. Ia membawa kepada satu konklusi yang tepat.

Sebab Bawa Akibat

Sebab itu dalam mereka menghujah "sebab-sebab membawa akibat" ini, pada mereka setiap sebab itu pasti akan membawa kepada akibatnya. Kalau demikian, setiap kita makan, pasti akan kenyang, atau setiap yang kahwin pasti mendapat zuriat, atau setiap yang berusaha pasti mendapat kejayaan, atau setiap yang rajin belajar pasti akan pandai, dan begitulah seterusnya. Mereka yang berfahaman demikian seolah-olah telah memastikan bahawa setiap sebab itu pasti membawa kesan.

Dengan itu juga, setiap apa yang diakibatkan adalah bersabit daripada sebab-sebab yang telah dilakukan. Dan oleh kerana ada sebab-sebab yang dilakukan, ia pasti membawa akibat.

Hujah ahli-ahli falsafah ini telah memberikan satu pengertian bahawa sebab-sebab dan akibat itu lazim-melazimi antara satu dengan yang lain. Ertinya, bila ada sebab-sebab, maka pasti ada akibatnya. Dan akibat itu pula bersabit daripada adanya sebab-sebab.

Sebab-sebab dan akibat-akibat yang lazim-melazimi antara satu dengan yang lain ini telah dikaitkan oleh ahli-ahli falsafah dengan wujudnya ALLAH SWT serta kejadian alam ini. Menurut mereka, ALLAH dengan alam ini lazim-melazimi. Ertinya, kerana adanya alam ini maka adanya Allah. Dan oleh kerana ALLAH itu wujud, maka akibatnya ada alam ini.

Golongan Yang Sesat

Ini satu fahaman yang sesat sama sekali. Namun, kalaupun pandangan mereka itu sesat, itu tidak menghairankan kita sangat kerana pembawa-pembawa fahaman itu adalah ahli-ahli falsafah Yunani yang memang tujuan mereka mahu menyesatkan umat Islam.
Pelopor-pelopor falsafah ini adalah seperti Aristotle, Plato dan lain-lainnya. Pandangan-pandangan mereka diperkembangkan pula oleh ahli-ahli falsafah Timur seperti Kung Fu Tze dan lain-lain.
Tetapi yang malangnya, termasuk di dalam golongan sesat ini adalah ulama-ulama Islam sendiri. Mereka turut mempelopori fahaman bahawa ALLAH dan alam ini lazim-melazimi. Bermakna mereka juga meyakini bahawa kerana adanya ALLAH SWT, maka adanya alam ini. Adanya ALLAH SWT itu merupakan 'sebab' manakala adanya alam ini adalah 'akibat'.
Ini menunjukkan bahawa mereka berpandangan yang alam ini qadim seperti qadimnya ALLAH SWT. Dengan perkataan lain, mereka telah menyamakan kejadian alam ini bukan ALLAH yang menjadikan tetapi bersabit adanya ALLAH sahaja. Samalah seperti kenyang tadi, bersabit daripada makan saja. Nyatalah sesatnya pandangan mereka itu.

Ahli Falsafah Islam Tonjolan Barat

Kebanyakan ahli falsafah Islam yang membawa fahaman demikian adalah mereka yang ditonjolkan oleh pihak Barat. Pihak Baratlah yang memperkenalkan mereka serta mengagung-agungkan daya pemikiran serta kebijaksanaan mereka. Sedikit pun tidak diceritakan tentang aqidah ahli-ahli falsafah itu kerana bagi pihak Barat, aqidah tidak penting. Sebabnya, mereka tidak percaya kepada wahyu tetapi lebih percaya kepada pemikiran manusia.

Oleh itu, kita perlulah berhati-hati dengan pandangan ahli-ahli fikir Islam. Hendaklah kita selidiki, siapakah yang mengetengahkan mereka. Kalau yang mengetengahkan mereka itu puak Barat yang membesar-besarkan kejayaan pemikiran mereka melalui buku-buku Barat seperti ensaiklopedia mereka, hendaklah kita berawas sungguh-sungguh.

Kebanyakan ahli fikir Islam yang digolongkan juga sebagai ulama Islam yang ditonjolkan oleh puak Barat itu adalah yang membawa fahaman muktazilah. Iaitu satu fahaman yang menyeleweng daripada aqidah Ahli Sunnah Wal Jamaah. Ia muncul dalam kurun pertama Hijrah dengan membawa fahaman-fahaman terhadap soal ketuhanan, soal Akhirat, soal dosa pahala, dan lain-lainnya.

Mengapa Tidak Tonjol Ulama Sebenar?

Satu perkara yang nyata dalam penonjolan kebenaran Islam serta ulama-mama Islam oleh puak-puak Barat ini ialah, mereka tidak mahu memaparkan perjuangan dan pandangan yang dibawa oleh ulama-ulama seperti Imam Shafie, Imam Maliki, Imam Hambali, Imam Hanafi, Imam Nawawi dan lain-lainnya.

Malah seorang ulama Islam yang begitu terkenal iaitu Imam Al Ghazali yang juga merupakan seorang ahli fikir, ahli tasawuf dan ahli dalam pelbagai bidang lain, tidak mahu mereka paparkan. Ini kerana pihak Barat takut untuk memaparkan ulama-ulama Ahli Sunnah Wal Jamaah. Pemikiran ulama-ulama ini adalah berlandaskan Al Quran dan Sunnah.

Kalau fikiran ulama-ulama yang membawa pandangan Ahli Sunnah Wal Jamaah ini diketengahkan, ia akan memberi faedah besar kepada umat Islam, dan akan menambahkan lagi kekuatan aqidah umat Islam. Ini amat mereka khuatiri kerana kekuatan lahir umat Islam dari sudut mana sekalipun adalah bergantung kepada kekuatan aqidah mereka. Inilah yang mereka takuti. Kerana itu, mereka lebih suka menonjolkan pemikiran ahli-ahli fikir Islam yang membawa fahaman sendiri; fahaman yang direka oleh otak mereka dan bukan yang berlandaskan Al Quran dan Hadis.

Ahli-ahli fikir Islam ini hendaklah kita awasi pandangan mereka. Kita tidak perlu menyebut nama-nama mereka kerana mungkin ada di kalangan kita yang begitu yakin dengan pandangan-pandangan yang mereka bawa.
Oleh itu, hendaklah kita tolak pandangan muktazilah dan pandangan ahli-ahli fikir Islam yang mengatakan bahawa ALLAH dan alam ini lazim-melazimi. Kita tolak pandangan mereka yang mengatakan bahawa kerana adanya ALLAH, maka adanya alam ini, dan oleh kerana adanya alam ini maka wujudnya ALLAH SWT.

Fahaman Ahli Sunnah Wal Jamaah

Sebenarnya, walaupun adanya alam ini, adanya makhluk dan adanya segala yang baharu ini kerana ada sebab-sebabnya, tetapi sebab-sebab kejadian itu bukanlah yang membawa kepada akibat. Atau dalam perkataan lain, walaupun ada sebab-sebabnya tetapi sebab-sebab itu tidak boleh memberi bekas. Bukan sebab itu yang memberi bekas tetapi yang memberi bekas atau yang mendatangkan akibat adalah ALLAH SWT. Inilah fahaman Ahli Sunnah Wal Jamaah. ALLAH SWT ada berfirman:

Terjemahannya: Kami datangkan bagi setiap sesuatu dengan adanya sebab. (Al Kahfi: 84)

Sebab tidak Memberi Bekas

ALLAH sendiri menegaskan bahawa sememangnya ALLAH yang menjadikan semuanya dengan bersebab tetapi bukanlah sebab-sebab itu yang membawa akibat. Tetapi yang menjadikan sebab-sebab itu membawa akibat adalah kerana ALLAH SWT menghendaki demikian. Kalau begitu, sememangnya berkahwin itu adalah sebab yang mengakibatkan lahir zuriat tetapi bukanlah berkahwin itu yang sebenarnya mengakibatkan zuriat.

Hakikatnya ialah ALLAH SWT. Begitu jugalah dengan kenyang yang diakibatkan oleh makan. Sungguhpun makan itu yang menyebabkan kenyang tetapi hakikatnya ALLAH SWT yang menyebabkannya. Makan itu sendiri tidak boleh membawa akibat.

Jadi, setiap sebab itu tidak boleh membawa akibat dengan sendirinya tetapi yang boleh membawa akibat ialah ALLAH SWT Tetapi oleh kerana sudah memang ALLAH kehendaki yang setiap akibat mesti ada sebab sebabnya, maka kenalah kita lahirkan sebab-sebab. Inilah yang dikatakan Sunnatullah atau peraturan ALLAH.

Sunnatullah

Kita sebagai makhluk yang dijadikan oleh ALLAH mesti sentiasa memerhatikan Sunnatullah atau peraturan ALLAH ini kerana Sunnatullah itulah yang menjadi panduan hidup kita. Ertinya, kalau sudah ALLAH Sunnahkan yang satu-satu kejadian itu akan terjadi sedemikian rupa, maka itulah yang mesti kita ikuti. Dan Allah tidak sekali-kali akan menukar peraturannya itu.

Bererti, kalau kita mengikut jalan-jalan selain daripada yang disunnahkan, maka akibatnya bukanlah sepertimana yang ALLAH kehendaki berlaku.
Firman ALLAH :

Terjemahannya: Kamu tidak akan mendapati yang Sunnatullah itu bertukar ganti. (Al Ahzab: 62)

Dan di dalam ayat lain ALLAH berfirman:

Terjemahannya: Sekali-kali kamu tidak akan mendapati yang Sunnatullah itu berubah-ubah. (Al Fatir: 43)

Ertinya, kalau memang sudah ALLAH tetapkan satu-satu peraturan itu akan berlaku sedemikian rupa, seperti tiap-tiap sebab itu membawa akibat, maka peraturan itu tetap tidak akan berubah. Misalnya, perkahwinanlah yang mengakibatkan adanya zuriat, atau makanlah yang mengakibatkan kenyang, atau belajar bersungguh-sungguhlah yang mengakibatkan pandai. Maka peraturan itu tetap akan terjadi demikian kerana memang ALLAH yang menghendaki terjadinya demikian. Tidak ada siapa yang boleh mengubah peraturan itu.

Lahirkan Sebab

Sebab itu umat Islam perlulah memerhatikan Sunnah atau peraturan ini untuk memandu hidupnya kerana setiap apa yang diusahakan dan diikhtiarkan oleh umat Islam ada kaitannya dengan Sunnatullah. Umpamanya, kalau umat Islam mahukan kejayaan, umat Islam perlulah melahirkan sebab-sebabnya. Atau dalam ertikata yang lain, umat Islam mesti menempuh sebab-sebab untuk menjamin kejayaan mereka. Kalau tidak, umat Islam tetap tidak akan berjaya, sebaliknya akan terus mundur, tertindas dan terhina.

Bukanlah ALLAH tidak boleh memberikan kejayaan kepada umat Islam tanpa sebab-sebab, tetapi memang sudah ALLAH buat peraturan demikian, maka umat Islam mestilah mengikut peraturan itu. Misalnya, kalau hendak menjadi satu bangsa yang pandai, umat Islam mestilah belajar bersungguh-sungguh serta melakukan usaha ikhtiar yang lebih giat. Demikian peraturan yang telah ALLAH tetapkan dan mesti kita ikuti. Cuma yang malangnya, umat Islam hari ini tidak mahu mengikut peraturan ALLAH tetapi hendak mengikut peraturan-peraturan yang direka oleh otak manusia.

Sebab itulah umat Islam hari ini tidak dapat mencapai sebarang kejayaan walau dalam bidang apa sekalipun kerana banyak peraturan ALLAH yang dilanggar, dan mereka lebih mengutamakan peraturan ciptaan manusia. Peraturan-peraturan yang telah ALLAH Sunnahkan itu dinamakan syariat Allah. Setiap usaha ikhtiar kita mesti berlandas kepada syariat ALLAH atau peraturan ALLAH, dan bukannya berlandas kepada peraturan ciptaan manusia.

Umpamanya, ALLAH telah menetapkan berbagai-bagai peraturan atau syariat untuk menyuluh makan minum kita, rumahtangga kita, pergaulan kita, masyarakat kita, pendidikan kita, dan lain-lainnya. Maka hendaklah kita ikuti sungguh-sungguh peraturan itu.

Usaha dan Ikhtiar

Di samping kita berusaha dan berikhtiar, sebagai melahirkan sebab-sebab untuk mecapai kejayaan dan kemajuan, peraturan-peraturan yang telah Allah tetapkan dalam aspek-aspek yang lain mesti juga kita jadikan landasan dan panduan. Misalnya, apabila kita belajar sungguh-sungguh untuk menjadi umat yang pandai, jangan kita tinggalkan sembahyang, puasa, dan sebagainya.

Jangan kita terlibat dengan pergaulan bebas serta pendedahan aurat. Dan jangan kita langgar peraturan-peraturan lain yang telah disyariatkan oleh ALLAH. Dengan demikian sajalah, baru usaha ikhtiar kita itu akan membawa kejayaan.

Tetapi umat Islam hari ini tidak berbuat demikian. Mungkin dalam usaha ikhtiar untuk melahirkan satu bangsa yang pandai, mereka akan belajar sungguh-sungguh. Tetapi dalam aspek-aspek yang lain, mereka tidak mengikut peraturan ALLAH, seperti tidak sembahyang, tidak berpuasa, bergaul bebas antara lelaki dan perempuan, mendedah aurat, dan sebagainya. Yang tepat mengikut Sunnatullah ialah dengan belajar sungguh-sungguh; itu saja. Kemudian kita dapati umat Islam ini akan menyerah diri dan bertawakkal kepada ALLAH, mengharapkan agar ALLAH memberikan kejayaan.

Manakala kalau dia tidak berjaya, dia akan berkata, "Apa boleh buat, sudah kehendak ALLAH begini!" Kata-kata demikian seolah-olah memberi maksud, "ALLAH punya pasal yang menyebabkan aku tidak berjaya!" Ertinya, dia sudah menyalahkan ALLAH SWT disebabkan dia tidak berjaya.

Orang yang bertawakkal begini dinamakan 'tawakkal tidak berbekal'. Di sinilah salahnya umat Islam hari ini yang belajar Islam sedikit-sedikit hingga menyebabkan mereka faham Islam itu sedikit-sedikit juga.

Tawakkal Selepas Berusaha

Sebenarnya ALLAH suruh ktia bertawakkal setelah semua sebab yang ALLAH jadikan itu kita tempuh. Kesemua peraturan atau Sunnatullah yang telah ALLAH syariatkan di dalam kehidupan kita mesti dilaksanakan. Ini, baru dua atau tiga sebab saja yang kita lahirkan, tiba-tiba kita pun bertawakkal kepada ALLAH. Dan apabila kita tidak berjaya, kita terus menyalahkan Tuhan, walaupun secara tidak langsung.

Tawakkal seperti ini samalah seperti memelihara lembu tanpa diikat atau ditambat, dan tidak pula memagar kawasan pemeliharaannya, lalu berserah bulat-bulat kepada ALLAH dengan harapan lembu itu tidak akan masuk ke dalam kebun orang lain. Masakan boleh jadi demikian. Sudah tentunya lembu itu akan bebas merayau ke sana sini hingga masuk ke kebun orang lain. Kemudian, apabila tuan punya kebun itu mengamuk, kita pun mengeluh. Ini ertinya kita menyalahkan ALLAH SWT (secara tidak langsung).

Sepatutnya, sebelum kita bertawakkal atau menyerah diri kepada ALLAH SWT, lahirkanlah semua sebabnya seperti lembu itu kita ikat kuat-kuat, kemudian kita kandang ia, dan kita beri dia makan kenyang-kenyang. Kemudian, barulah kita bertawakkal dengan keyakinan bahawa semua sebab telah dilaksanakan untuk mengelakkan lembu itu memasuki kebun orang lain. Namun bukan sebab-sebab itu yang akan memberi bekas tetapi ALLAH SWT jua. Demikianlah tawakkal yang sebenarnya.

Cuma oleh kerana telah ditikam tadi bahawa umat Islam hari ini hanya mempelajari Islam itu sedikit-sedikit, mereka pun mengamalkan Islam sedikit-sedikit (dalam aspek-aspek tertentu saja).

Misalnya dalam soal tawakkal kepada ALLAH, ada tempat-tempatnya seseorang itu akan bertawakkal, dan ada tempat-tempatnya dia tidak bertawakkal. Katalah dalam soal menjamah hidangan yang penuh dengan lauk-pauk. Tidak, pula dia bertawakkal. Kadang-kadang belum dipelawa dia sudah mula.

Kalaulah umat Islam dapat bertawakkal dalam semua aspek, ini yang paling baik kerana bertawakkal kepada ALLAH akan menggerakkan fikiran. Katalah dalam soal memelihara lembu tadi, setelah dia bertawakkal, lembu itu lepas juga ke kebun orang lain. Dari situ, tentu akan tergerak akal fikirannnya supaya melahirkan beberapa sebab lagi.

Rupa-rupanya, kita perlu berikhtiar sungguh-sungguh melahirkan sebab-sebab sebelum bertawakkal. Dan kalau setiap orang Islam dapat mencorakkan akalnya demikian, akan berjayalah kita. Kalaulah dalam hendak menjamah hidangan, kita perlu lahirkan sebab-sebab, ertinya dalam semua perkara kita mesti berikhtiar. Kalau umat Islam sedar hakikat ini, sudah tentulah satu pengalaman baru akan lahir di dalam pemikiran kita.

Sebab Bawa Akibat

Inilah yang dapat kita fahami daripada Sunnatullah yang telah menetapkan bahawa tiap-tiap sebab itu akan membawa akibat. Dan kerana itu, sebagai umat Islam yang sememangnya diberikan petunjuk dan peraturan oleh ALLAH, hendaklah kita meluaskan ilmu pengetahuan kita agar kita dapat melahirkan semua sebab yang ada dalam setiap aspek kehidupan kita.

Umpamanya, kalau kita mahu masyarakat kita kuat, hendaklah kita lahirkan semua sebabnya. Janganlah kerana kita telah lahirkan satu atau dua sebab saja, kita sudah mengharap agar ALLAH menjadikan masyarakat kita kuat.
Begitu juga, kalau kita mahu masyarakat kita berjaya dalam bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan, hendaklah kita lahirkan sebab-sebabnya dalam semua aspek. Dan kalau kita mahu umat kita maju jaya dalam bidang ekonomi pula, hendaklah kita cari semua sebab nya dan kemudian kita lahirkan.

Apabila kita telah usahakan semua sebab itu, barulah kita bertawakkal kepada ALLAH. Nescaya umat Islam akan berjaya dan tidak akan diperbodoh-bodohkan serta diperkotak-katikkan oleh orang lain.

Setiap Kejadian Ada Sebab

Kini fahamlah kita bahawa setiap kejadian itu ada sebab sebabnya. Ia merupakan Sunnatullah. Dan kita juga telah faham bahawa setiap sebab itu akan membawa akibat, tetapi hakikat yang sebenarnya bukanlah sebab itu yang membawa akibat, sebaliknya yang memberi akibat kepada sebab-sebab itu adalah ALLAH SWT Sebab-sebab itu tidak boleh membawa akibat dengan sendirinya.

Apabila ALLAH SWT menghendaki yang tiap-tiap sebab itu membawa akibat, inilah tanda-tanda rahmat dan kasih sayang ALLAH kepada makhluk-Nya. Ertinya, apa saja yang diusahakan oleh makhluk untuk melahirkan sebab-sebab, maka akan terjadi akibat daripada sebab itu.

ALLAH berkuasa Wujudkan Tanpa Sebab

Namun, atas rahmat dan kasih sayang ALLAH yang menjadikan tiap-tiap sebab itu mendatangkan akibatnya, kelak akan ada orang yang berkata bahawa ALLAH SWT sebenarnya tidak boleh menjadikan sesuatu tanpa sebab. Kalau ada orang yang mengatakan demikian, akan terpesonglah aqidah umat Islam. Sebab itu, untuk menyelamatkan aqidah umat, sekali-sekala Allah jadikan juga sesuatu perkara itu tanpa sebab.

Misalnya, dalam soal kita hendakkan zuriat, kita mestilah menempuh sebab-sebabnya iaitu melalui perkahwinan. Dengan sebab perkahwinan, akan lahirlah anak. Tetapi telah berlaku dalam sejarah, Nabi Adam a.s. dijadikan tanpa ayah dan ibu, Siti Hawa, isteri kepada Nabi Adam a.s., dijadikan tanpa ibu, dan Nabi Isa, a.s. dijadikan oleh ALLAH SWT tanpa ayah.

Kejadian-kejadian ini menunjukkan kepada kita, walaupun memang Sunnatullah bahawa untuk mendapatkan anak mesti melalui perkahwinan, tetapi ALLAH boleh menjadikan ia berlaku tanpa sebab. Ini juga satu hikmah dan nikmat ALLAH kepada hamba-Nya yang amat besar dan tidak terhingga, dan ALLAH tidak mahu hamba-hamba-Nya tersesat.

Kuasa ALLAH itu mutlak, dan kerana itulah ALLAH berkuasa melakukan apa saja termasuklah melakukan sesuatu kejadian itu tanpa sebab-sebab. Dengan ini tidak ada siapa yang nanti boleh mengatakan bahawa ALLAH tidak berkuasa melakukan sesuatu itu tanpa sebab. Seandainya ada orang yang mengatakan demikian, dia jatuh syirik.

Kuasa ALLAH-lah Yang Memberi Bekas

Dengan ALLAH menjadikan sesuatu itu sekali-sekala tanpa melalui sebab-sebab, ini juga menunjukkan bahawa sebab-sebab itu sendiri tidak boleh memberi bekas.

Yang memberi bekas ialah kuasa ALLAH SWT. Dengan itu yang memberi bekas kepada kenyang bukan makan, yang memberi bekas kepada zuriat bukan perkahwinan, yang memberi bekas kepada terbakar bukan api, yang memberi bekas kepada pandai bukan rajin belajar, dan begitulah seterusnya. Cuma, memang ALLAH hendak jadikan itu sebagai peraturan, maka dalam kehidupan kita ini, tiap-tiap sebab akan membawa akibat.

Namun, hendaklah kita yakin benar-benar bahawa hakikatnya bukan sebab itu yang membawa akibat. Ini dapat kita perhatikan sekali lagi dalam satu kejadian yang lain. Kita tentu faham bahawa setiap api itu pasti membakar, tetapi ALLAH telah menjadikan api tidak membakar dalam perisitiwa Raja Namrud hendak membakar Nabi Ibrahim a.s. hidup-hidup. Walaupun Raja Namrud mengerahkan seluruh rakyatnya mengumpulkan kayu api hingga bertimbun, namun apinya yang begitu besar tidak membakar Nabi Ibrahim as. setelah baginda dilontarkan ke dalamnya.

Bukan Sebab Bawa Akibat

Demikianlah ALLAH memperlihatkan kuasa-Nya dalam membatalkan peraturan sesuatu kejadian itu. Walaupun tiap-tiap kejadian itu sebab-sebabnya membawa akibat tetapi ALLAH boleh merubah peraturan itu. Ini jelas menunjukkan kepada kita bahawa tiap-tiap sebab itu tidak membawa akibat. Yang membawakan akibat atau yang memberi bekas kepada sebab-sebab adalah ALLAH SWT sendiri.

Khilafiah Ulama

Kemudian, dalam memperkatakan tentang sifat wujud bagi ALLAH SWT ini, terdapat khilafiah ulama. Khilafiah ini bukan mempersoalkan tentang wujudnya ALLAH SWT itu kerana semua ulama bersependapat mengatakan zat ALLAH SWT itu tetap dan sebenarnya ada. Tetapi yang dikhilafiahkan ialah dalam membahaskan kalimah wujud itu sahaja.

Bagi kita, mempelajari hal khilafiah ini tidaklah wajib, cuma sekadar untuk menambahkan lagi ilmu pengetahuan kita. Tetapi umat Islam pada zaman dahulu begitu mengutamakan soal ilmu pengetahuan hinggakan perkara-perkara yang menjadi furuk atau ranting-ranting pun mereka akan kaji sungguh-sungguh.

Sebab itulah, dari sudut ilmu pengetahun, mereka amat hebat sekali. Tidak seperti kita pada zaman ini, perkara pokok dan yang wajib di dalam agama pun tidak kita pelajari, apatah lagi perkara-perkara yang sunat dan yang harus. Hingga, setengah-setengah orang pada zaman ini menganggap perkara-perkara yang sunat dan harus itu perkara remeh-temeh. Malah, lebih daripada itu, perkara yang wajib seperti menutup aurat dan lain-lainnya
pun mereka anggap sebagai remeh-temeh juga.

Inilah yang malangnya bagi umat Islam zaman ini. Ilmu pengetahuan Islam tidak mahu diberi penilaian tetapi ilmu-ilmu orang lain dituntut habis-habisan. Kita tidak sedar betapa hasil daripada ilmu orang lain itu, kita juga turut menjadi orang itu. Sikap, peribadi serta akhlak kita juga turut terkorban menjadi sikap, peribadi dan akhlak orang itu. Fikiran kita juga turut terjajah oleh fikiran-fikiran orang itu.

Sebab itulah kita tidak hairan, pada hari ini, orang-orang yang mempunyai ilmu pengetahuan dalam bidang Islam sekalipun, sama peribadi mereka, akhlak mereka dan fikiran mereka dengan orang bukan Islam. Tidak langsung melambangkan peribadi, akhlak dan fikiran Islam yang berlandas kepada iman dan taqwa.

Ini memandangkan bahawa ilmu pengetahuan Islam yang diperolehi itu adalah melalui institusi pendidikan orang bukan Islam hingga kadang-kadang yang menyampaikan ilmu pengetahuan Islam itu sendiri pun daripada kalangan orang bukan Islam. Dan kalaupun ia disampaikan oleh orang-orang Islam sendiri, kadang-kadang tuan-tuan guru itu sendiri banyak melanggar perintah Allah.

Akibatnya, ilmu yang disampaikan tidak ada roh Islam. Oleh itu, walaupun yang keluar dari institusi-institusi itu sudah ada ijazah B.A., M.A. dan juga Ph.D, tetapi lambang iman dan taqwanya tidak ada. Malangnya, mereka inilah yang diminta mengeluarkan fatwa dan hukum-hukum agama.

Ulama Tauhid

Di antara ulama-ulama yang memperbahaskan tentang kalimah wujud ialah Imam Fakhrurrazi dan Imam Abu Mansur Al Maturidi, dua ulama besar dalam bidang tauhid zaman dahulu. Menurut mereka, kalimah wujud itu bukan ain maujud dan bukan lain daripada ain maujud. Berdasarkan qaul ini, wujud itu haliah iaitu yang menepati di antara ada dengan tiada.

Manakala Imam Abu Hassan Ashaari, juga seorang ulama besar yang sezaman, berpendapat wujud itu adalah ain maujud yakni, wujud itulah zat maujud kerana tidak disebut wujud kalau tidak pada zat. Ertinya, tidak akan disebut sesuatu itu ada, sekiranya ia tidak ada.

Oleh kerana sememangnya zat ALLAH SWT itu ada, maka tidak timbullah kalimah wujud itu kalau ALLAH SWT tidak ada.

Sikap Orang Kafir

Seterusnya, dalam membahaskan sifat Wujud bagi ALLAH SWT ini bukan kalangan umat Islam sahaja yang mempercayainya. Malah orang-orang kafir pun percaya akan adanya Tuhan. Semua agama lain di dunia ini termasuk agama yang karut-marut sekalipun, percaya akan adanya Tuhan. Fir-man ALLAH:

Terjemahannya: Jika kamu tanya kepada orang-orang kafir itu, "Siapakah yang menjadikan langit dan bumi ini?" Nescaya mereka akan berkata, "ALLAH. " (Luqman: 25)

Jadi, orang-orang kafir juga mengakui adanya Tuhan, Cuma pengakuan mereka dengan pengakuan kita jauh bezanya.

Keyakinan Pada Syirik

Bagi kita umat Islam, Tuhan itu tidak menyerupai segala sesuatu. Tetapi bagi mereka, Tuhan boleh digambar-gambarkan. Mereka pun menggambarkan Tuhan dengan pelbagai rupa; ada yang macam gajah, macam ular, macam makhluk berkaki empat, bertangan lapan, berperut buncit, dan sebagainya. Ada yang menggambarkan Tuhan itu pokok, bukit, gunung, matahari, bulan, bintang, dan lain-lainnya. Keyakinan seperti ini adalah keyakinan yang sesat dan syirik.

Oleh itu, walaupun mereka percaya tentang adanya Tuhan, tetapi pengakuan mereka itu tidak sah, dan apabila mati, mereka tetap dianggap mati dalam kekufuran. Di Akhirat, mereka akan kekal abadi di Neraka.

Kita tidak sekali-kali boleh mengkhayalkan ALLAH SWT sebagai menyerupai sesuatu. Di dalam Al Quran ALLAH menegaskan:

Terjemahannya: ALLAH itu tidak serupa bagi-Nya segala sesuatu. (As Syura: 11)

Kerana itu, apa yang terlintas di dalam hati kita, itu bukannya ALLAH. Inilah yang hendak kita jaga benar-benar.

Fitrah Rasa Bertuhan

Rasa bertuhan adalah fitrah, tetapi pengenalan mengenainya bukanlah melalui khayalan atau gambaran sepertimana yang dibuat oleh orang-orang kafir.

Dan tidaklah benar kalau ada orang mengatakan yang dia tidak percaya kepada Tuhan kerana mungkin dia membenci agama. Dia benci kepada agama Islam
kerana ada orang Islam yang jahat dan khianat; dia benci kepada agama kristian kerana kristian juga menipu dan mengkhianat. Dia juga membenci agama-agama lain, tetapi yang sebenarnya, hatinya tetap mengakui adanya Tuhan.

Buktinya, sekiranya dia ditimpa sesuatu penyakit yang sukar diubati hingga sudah habis usaha ikhtiarnya, dia akan mengeluh, "Kalaulah ada suatu kuasa yang menolong aku . .." Keluhan itu menunjukkan dia percaya adanya suatu 'kuasa' yang ghaib. Itulah rasa ketuhanan.

----------------------------------------------


Ta'rif safat Nafsiyyah
هِيَ اَلحَالُ اْلوَاجِبَةُ لِلذَّتِ مَادَامَتِ الذَاتُ غَيْرُ مُعَلَّلٍ بِعِلَّةِ
Artinya : hal (sifat) yang pasti menetap pada suatu yang maojud, selama dzat itu ada tanpa penyebab lain.
SIFAT WUJUD
A) Pengertian Wujud
Sifat nafsiyyah adalah sifat wujud. Pengertian wujud terbagi 3 bagian/macam :
1. Wujud Idlofi, yaitu wujudnya sesuatu bersandar kepada yang lain, seperti adanya malam karena adanya siang.
2. Wujud ‘Aridli, yaitu adanya sesuatu didahului dengan tidak ada, seperti wujudnya alam semesta.
3. Wujud Dzati/Wujud Haqiqi, ialah wujudnya sesuatu tidak bersandar kepada yang lain dan tidak didahului dengan tidak ada, yakni wujudnya Allah SWT.
Barang yang maujud (ada) dapat diketemukan dengan Hissi dan dengan ‘Akli yang diketemukan dengan Hissi disebut Wujud Hissi yakni yang dapat diketemukan oleh Panca Indra sebagaimana telah diterangkan pada bab sebelumnya, sedangkan yang diketemukan dengan ‘Akli disebut Wujud ‘Akli, yang isinya terbagi kepada 2 macam, sebagai berikut :
1. Wujud ‘Akli Mumatsalah, yaitu adanya ruhani makhluk dan sifat-sifatnya seperti gembira, susah, pinter, ilmu, bodoh, berani dan lain sebagainya.
2. Wujud ‘Akli Mukholafah, yaitu adanya Allah SWT. Dan sifat-sifatnya seperti Qudrot, Irodat, Ilmu dan lain sebagainya.
Dengan adanya keterangan tersebut di atas maka batal i'tikadnya Kafir Mujasimah yang mengi'tikadkan bahwa Allah SWT bersemayang di dalam ruhani manusia, yang menimbulkan pengertian bahwa Allah SWT menyatu dengan manusia. Dari adanya Kafir Mujasimah ini muncul Kaidah kejawen dalam bahasa jawa : Ya Allah Ya Isun, Ya Isun Ya Allah Isun Sejati.
Secara logika kalau Allah bersemayam diruhani manusia, berarti Allah tidak Qiyamuhu bi Nafsihi, artinya membutuhkan kepada tempat untuk berdiam dan berarti pula bahwa Allah Wujud ‘Aridy (baru) yang pasti mumatsalah (serupa) dengan makhluk, sedangkan hal demikian adanya mustahil, sebab yang mumatsalah dan yang membutuhkan kepada tempat untuk diam adalah makhluk.
Untuk meluruskan kaidah Kejawen tersebut ialah dengan logika : Allah diketemukan oleh Isun Sejati Yakni akal ruhani, demikian juga yang dilihat oleh Allah SWT. Adalah akal ruhani Insan (Isun Sejati).
Dengan penjelasan tersebut di atas batal pula i'tikadnya kafir Fulasifah yang mengi'tikadkan bahwa adanya Allah bersandar kepada adanya alam dan bersatu dengan alam, sebab adanya Allah bukan Wujud ‘Ardy dan bukan Wujud Idlofy yang secara otomatis wujud tersebut tidak Qiyamuhu bin-Nafsihi dan tidak Qodim.

B) Tanggapan Hukum Syara'
Seluruh Mukallaf wajib mengi'tikadkan kepada adanya Allah SWT. Dan kepada Mustahilnya Allah tidak ada.
C) Dalil ‘Akli Sifat Wujud di Allah.
1. Alam semesta ini pasti jirim, yaitu Dzat yang adanya selalu membutuhkan kepada ruang yang pas untuk diam. Dan pasti ‘Arody, yaitu sifat yang melekat pada jirim yang selamnya tidak akan lepas dari dua kemungkinan, antara diam dan bergerak (taghoyur).
2. Barang yang adanya melekat pada yang baru, barang itupun pasti baru pula, oleh sebab itu alam ini pasti baru.
3. Secar logika, dari tidak ada kepad ada pasti memerlukan kepada yang mengadakan, sebagai pihak lain yang menggerakan dari tidak ada kepada ada, oleh karenanya barang itu pasti buatan, sebab adanya diadakan.
4. Tidak ada yang mempunyai kemampuan untuk mengadakan, karena keberadaannya pun selalu memerlukan kepada yang lain sebagai pihak pengada dan juga selalu disertai dengan sifat-sifat yang baru, ‘Akal menemukan pihak pengada yaitu Tuhan Yang Maha Esa yang tidak disertai dengan sifat-sifat yang baru. Adapun diketemukannya nama Tuhan itu Allah adalah hasil dari wahyu Allah SWT. Dalam surat 13, ar -Ro'du ayat 16 yang artinya : Katakanlah: "Siapakah Tuhan langit dan bumi?" Jawabnya: "Allah". Katakanlah: "Maka Patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, Padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?". Katakanlah: "Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; Apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?" Katakanlah: "Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan yang Maha Esa lagi Maha Perkasa".
Dalil yang membenarkan kepada logika bahwa alam dan pasti baru adalah firman Allah SWT. Dalam al-Qur'an surat 36. Yasin ayat 38 yang artinya : Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui.