Kajian Syahadatain


Hukum Syara' mewajibkan kepada seluruh ummat manusia yang baliqh dan berakal (Mukallaf) untuk bertauhid, yakni mengetahui dan meyakinkan kepada adanya Allah SWT, dengan garansi : Sah imannya dan mendapatkan pahala bagi yang benar Tauhidnya, dan tidak sah imannya serta akan diberikan siksa bagi yang tidak benar Tauhidnya.
Kewajiban bertauhid ini mulai berlaku semenjak akil baligh tiba, oleh karenanya, sedetik saja pada sa'at baligh tiba dalam keadaan tidak bertauhid. Berarti pernah mengalami kafir, oleh sebbab itu, sebelum sampai pada usia baligh diharuskan mempelajari ilmu Tauhid terlebih dahulu, sebagai persiapan dan menjaga agar hidup tidak mengalami kafir dahulu.

SYAHADATAIN
A. Mengucapkan Dua Kelimat Syahadat(Syar'an)
Beriman kepada Allah SWT. Diikrarkan dengan mengucapkan lafadz Syahadatain sebagai berikut :

اَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّاللهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ
Artinya : Aku bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah. Dan nabi Muhammad adalah utusan Allah.
Para ulama sepakat bahwa mengucapkan Syahadatain adalah Rukun Islam, maka yang tidak mengucapkan Syahadatain bukan orang Islam, walaupun pada hakekatnya beriman kepada adanya Allah SWT, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhory.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلئَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ امُرْتُ اَنْ قَاتِلَ النَّاسَ حَتَّئ يَشْهَدُوْا اَنْ لاَاِلَهَََ اِلاَّ اللهُ وَاَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ وَيُقِيْمُوْا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُؤْا الزَّكَاةَ فَاِذَا فَعَلُوْاذَلِكَ عَصَمُوْا مِنِّى دِمَانَهُمْ وَاَمْوَا لَهُمْ اِلاَّ بِحَقِّ الاِسْلاَمِ وَحِسَا بُهُمْ عَلَى اللهِ (رواه البخاري)

Artinya : sesungguhnya Rasululloh SAW, telah bersabda : "Kami diperintahkan untuk memerangi orang-orang, sehingga mereka bersaksi (mengucapkan Syahadatain) bahwa tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya nabi Muhammad adalah utusan Allah dan mengerjakan Sholat, juga membayar Zakat. Manakala mereka mengerjakan semuanya, maka kami menjaga darah mereka dan harta benda mereka. Kecuali hak-hak yang bertalian dengan Islam, kemudian hisaban mereka diserahkan kepada Allah SWT.
Hubungan mengucapkan Syahadatain dengan keimanan, para Ulama berpendapat :

1. Imam al-‘Asy'ary dan al-Ma'turidy (Muhaqqiqin) berpendapat bahwa Mengucapkan Syahadatain merupakan sarat sahnya iman.
Ulama Jumhur memberikan pendapat Imam al-‘Asy'ary dan al-Ma'turidy ini, bahwa yang dimaksud dengan sarat sahnya Iman adalah untuk pengesahan Hukum Islam di dunia, seperti hukum nikah, warist, sholat dan lain sebagainya. Sedangkan di hadapan Allah (di akhirat) yang dilihat adalah hatinya bukan ucapannya, jadi kalau hatinya beriman, termasuk Mukmin dan pasti tempat kembaliNya adalah sorga, begitu pula sebaliknya, bila hatinya tidak beriman kepada Allah SWT. Walaupun mengucapkan Syahadatain, tidaklah termasuk kepada orang yang beriman dan tempat kembaliNya di akhirat adalah Neraka.

2. Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa : Mengucapkan Syahadatain adalah setengah dari Iman, karena Iman dan syahadatain merupakan rangkain Dohir dan Bathin.

B. Syahadat Munjin.
Sebagaimana telah disebutkan di atas untuk menjadi orang yang beriman tidaklah cukup hanya dengan mengucapkan Syahadatain, karena masalah keimanan bukan masalah lahiriyah, melainkan masalah hati atau kejiwaan, oleh karenanya didalam mengucapkan Syahadatain harus pula dijiwai dengan benar, Syahadat yang dijiwai dengan benar disebut Syahadat Munjin, Syahadatain ini pulalah yang akan menyelamatkan kehidupan ummat manusia di akhirat.
Adapun yang dimaksud dengan Syahadat Munjin adalah Syahadatain yang disertai dengan :
1. Ma'rifat, hati mengakui bahwa Allah SWT, adalah Tuhan dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.
2. Tashdiq
2.1. Idz-Dzi'an, hati menerima bertuhan kepada Allah SWT. Dan menerima ke Rosulan Nabi Muhammad.
2.2. Qobul, hati menerima seluruh ajaran Allah SWT dan RasulNya, sehingga menjadi pedoman hidup.
3. Lafadz (materi kata) yang diucapkan harus bahasa Arab, tidak dapat diganti dengan bahasa lain, sekalipun sama maknanya.

1. Ma'rifat. Dalam mengucapkan Syahadatain harus disertai dengan ma'rifat yakni disertai dengan :
المعرفة: إدرك جازم بحيث لايقع معه تردد موافق للواقع ناشؤ عن دليل
"Ma'rifat adalah penemuan yang pasti sekiranya tidak ada keraguan sesuai dengan bukti serta ada pertanggung jawaban/dalil".

a. Idrokun Jazimun = Meyakinkan dengan sangat pasti, sehingga tidak ada keraguan, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah SWT, dan Muhammad utusan Allah SWT.
b. Muwafiqun lil Waqi'i = apa yang diyakininya sesuai dengan kenyataan, bahwa Allah SWT, yang diyakininya adalah Allah SWT. Sebagaimana yang disebutkan dalam ilmu Tauhid, tidak beranak dan tidak pula diper-anakan.
c. Nasyium ‘an Dalilin = Meyakinkan kepada adanya Allah SWT, disertai dengan argumentasi (dalil) yang dapat mempertahankan keyakinannya, baik itu dalil ‘Akli maupun dalil Nakli sebagamana telah disebutkan pada pasal hukum ‘Akal.
Adapun yang harus dima'rifatkkannya adalah :
a) Dzat Allah SWT dan sifat - sifatnya.
b) Dzat Rosul dan sifat - sifatnya.
c) Yang Mumkinul Wujud.
d) Yang wajib dan yang Mustahil di Allah SWT dan di Rasululloh.

2. Tasdiq:
التصديق هو الإذعان والقبول
"Tasdiq (Pernyataan adalah pengakuan dan penerimaan"

2.1. Idz-Dzi'an. Untuk dapat disebutkan seorang Mukmin tidaklah cukup hanya dengan mengucapkan Syahadatain dan Ma'rifat saja, melainkan harus pula disertai dengan pengakuan bahwa : Allah SWT. Tuhanku dan Nabi Muhammad adalah Rasulku. Jadi apabila ada orang yang meyakinkan bahwa ttiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rosul Allah tetapi hatinya tidak menerima bertuhan kepada Allah SWT. Dan tidak mengakui berRosul kepada Nabi Muhammad, orang tersebut di hadapan Allah SWT. Tidak termasuk kepada orang yang beriman, seperti ada perkataan seorang pemimpin Yahudi di masa Nabi, bernama Abdullah bin Salam, dia berkata : Aku meyakinkan bahwa Nabi Muhammad adalah betul-betul Rasul Allah SWT, dan Nabi yang terakhir, seperti aku yakin kepada anakku sendiri, bahkan kepada Nabi Muhammad aku lebih yakin (ma'rifat). Orang seperti ini disebutkan dalam al-Qur'an surat 2. Al-baqoroh ayat 146 :

2.2. Qobul. Begitu pula tidak termasuk kepada orang mukmin, orang yang tidak menerima ajaran Allah SWT dan RasulNya, walaupun telah Ma'rifat dan Idz-Dzi'an, sekalipun melaksanakan ajaran Allah SWT dan RasulNya.
Sebagai bukti telah Qobul harus berani mengikrarkan

رَضِيْتُ بِاللهِ رَبَّا وَبِالاِسْلاَمِ دِيْنَا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيَّاوَّرَسُوْلاً وَبِالْقُرْاَنِ اِمَامًا وَّبِالْمُؤْمِنِيْنَ اِخْوَانًا
Artinya : Aku Ridho (mengakui dan menerima) kepada Allah SWT. Aku bertuhan dan Islam sebagai agamaku, dan kepada Nabi Muhammad aku berNabi dan berRosul, dan kepada al-Qur'an aku berpedoman, dan kepada Mukminin aku besaudara.

C. Yang Harus di Syahadatkan.
Disamping Allah SWT dan RasulNya wajib pula dima'rifatkan tentang adanya alam Goib, sebagaimana firman allah SWT. Dalam al-Qur'an surat 2. Al-Baqoroh ayat 3-4 :
Artinya : (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.

4. Dan mereka yang beriman kepada kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.
Adapun yang dimaksud dengan alam Goib itu adalah :
1. Alam Barzakh.
2. Siksa Kubur.
3. Nikmat Kubur.
4. Pertanyaan Munkar dan Nakir.
5. Qiyamah.
6. Alam Ba'ats dan Qubur.
7. Mahsyar, tempat berkumpul.
8. Mauqif, ttempat menunggu hisaban ‘amal.
9. Mizan, timbangan ‘amal.
10. Hisaban.
11. Syafa'atul ‘Udhma.
12. Surga.
13. Neraka.
14. Shirothol Muustaqim.
15. Melihat Allah SWT di surga.
16. Abadinya di surga bagi orang Mukmin dan abadinya di neraka bagi orang Kafir.
Orang yang Ma'rifat Idz-Dzi'an, Qobul dan mengucapkan Syahadatain, tetapi tidak mealaksanakan ajaran-ajaran Islam, namanya Mukmin Fasiq, Orang yang mengamalkan ajaran-ajaran Islam seperti; Sholat, Puasa tetap hatinya tidak Ma'rifat, Idzi'an dan Qobul namanya Kafir Fasiq.

Kajian Iman


Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an dan al-hadits bahwa iman seseorang itu terkadang mengurang dan terkadang bertambah, dalam hal ini para ulama mengevaluasikan iman tersebut dengan lima tingkatan sebagai berikut :
1. Iman Taqlid, yaitu imannya orang yang tidak beralasan, tidak mempunyai dalil/argumentasi, imannya hanya mengikuti orang lain namun hatinya yakin dan Jazim iman kepada adanya Allah SWT.
Dalam menghukumi orang yang iman Taqlid (Mukmin Muqollid) para ‘Ulama berpendapat :
a. Al-‘Asy’ary, Abi Bakrin Bakilani, Imam Malik dan Imam Haromain, berpendapat bahwa Iman Taqlid hukumnya adalah Sah, hanya orangnya berdosa mengikuti orang lain tanpa dalil.
b. Ibnu ‘Aroby dan Imam Sanusi, Iman Taqlid tidak Sah, tetapi didalam kitab Kubro, Imam Sanusi mencabut lagi pendapat tersebut.
c. Imam Dasuqi, Ian Taqlid Sah, hanya berdosa bagi orang yang mampu berpikir. Pendapat ini berdasarkan firman Allah SWT. Dalam surat 2. Al-Baqoroh ayat 286.
d. Sebagain ‘Ulama. Iman Taqlid Sah hukumnya dan tidak berdosa asalkan dalil-dalilnya bersumber dari al-Qur’an dan al-Hadits.
e. Sebagian ‘Ulama, Iman Taqlid Sah dan tidak berdosa baik bagi ahli berpikir maupun bagi awam, pendapat ini berdasarkan hadist Rasululloh SAW. Ketika menjawab pertanyaan dari orang Badewi : Ya Rasululloh, bagaimana caranya supaya dapat masuk sorga ?, Nabi menjawab : katakanlah olehmu !:

اَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ

f. Sebagian Ulama, Iman Taqlid itu Sah bahkan kalau sudah beriman diharamkan untuk mencari dalil.
Dari seluruh pendapat para ‘Ulama tersebut tidak menyangkut masalah pokok (mu’takad).

2. Iman ‘Iyan, yaitu imanya seorang mukallaf yang telah mengetahui dalil yang benar namun belum menjiwai keimanannya, sehingga Ahli Tashowuf memberi titel Mahjubun.

3. Iman ‘Iyan, yaitu imannya seseorang yang disertai Ma’rifat dan Tashdiq yang menjiwai sifat Sama’ Bashornya Allah SWT, sehingga jiwanya selalu merasa dilihat dan didengar oleh Allah SWT. Dan berdiam di Maqom Muroqobah.

4. Iman Haq, yaitu imannya orang yang mempunyai jiwa yang dalam, hatinya mampumenerobos ke Maqom Musyahadah, yang apabila melihat mahkluk, hatinya tidak pada yang dilihatnya melainkan ingat kepada yang menciptakannya, tingkatan iman ini disebut pula dengan Iman Haqqul Yaqin, yang kontaknya dengan sifat Qudrot Alloh SWT.

5. Iman Haqiqat, yaitu imannya orang yang mempunyai jiwa yang teramat dalam, kema’rifatan yang luar biasa, sehingga hainya tidak ingat kepada makhluk, fana kepada Allah SWT. Serta selalu berdiam di Maqom Fana, keyakinan iman Haqiqat ini namanya ‘Ainal Yaqin, keadaannya majdud.

6. Iman Haqiqotul Haqiqat, yaitu imannya para Nabi dan Rasul, dalma hal ini para ‘Ulama tidak memberikan ta’rif.

Kajian Tauhid


Sifat yang wajib (pasti) ada di Allah SWT. Jumlahnya banyak sekali, tidak akan terhitung dan tidak bisa diringkas, karena sifat kesempurnaan Alloh SWt. Tidak akan ada yang sanggup menghitungnya selain Allah SWT. Namun yang wajib kita ketahui adalah yang ada dalilnya saja, baik dalil ‘Akli maupun dalil Nakli.
D alam menjumlahkan sifat yang wajib ini para ‘Ulama berpendapat :
1. Al-Asy’ary dan Muhaqqiqin, berpendapat bahwa sifat Allah SWT, yang wajib diketahui jumlahnya ada 12 sifat, terdiri dari : 5 sifat Salabiyyah, 7 sifat Ma’any.
2. Abi Bakrin Bakilani, Imam Harmain dan ar-Rozi, berpendapat bahwa sifat Allah SWT. Yang wajib diketahui ada 13 sifat, terdiri dari 12 sifat sebagaimana pendapat yang pertama dan ditambah dengan 1 sifat wujud (Nafsiyyah).
3. Al-Ma’turidi, Sanusi dan Ibrohim al-Bajury, berpendapat bahwa sifat di Allah SWT. Semuanya ada 20 sifat, terdiri dari : 13 sifat sebagaimana pendapat pertama dan kedua ditambah dengan 7 sifat Ma’nawiyyah.
Agar pendapat para ‘Ulama Ushuluddin dapat terangkum semuanya maka kita ambil yang 20 sifat dan dibagi pada 4 bagian, berikut ini adalah tabelnya :


TABEL SUSUNAN SIFAT ALLAH DAN BAGIANNYA



I



NAFSIYYAH



1



WUJUD



 


 


II



 


 


SALABIYYAH



2



QIDAM



3



BAQO



4



MUKHOLAFATU LIL HAWADITSI



5



QIYAMUHU BIN-NAFSIHI



6



WAHDANIYYAT



 


 


 


III



 


 


 


MA’ANY



7



QUDROT



8



IRODAT



9



ILMU



10



HAYAT



11



SAMA’



12



BASHOR



13



KALAM



 


 


 


IV



 


 


 


MA’NAWIYYAH



14



QODIRON



15



MURIDAN



16



‘ALIMAN



17



HAYYAN



18



SAMI’AN



19



BASHIRON



20



MUTAKALLIMAN






TABEL PENYUSUNAN ‘AQOID MENURUT PARA ULAMA



Al-Asy’ary Muhaqqiqin



Abi Bakrin Bakilany, Imam Harmain ar-Rozy, Kaul Tahqiq



Al-Ma’turidy as-Sanusy, Ibrohim Bajury



 



 



Nafsiyyah



1



Nafsiyyah



1



Salabiyyah



5



Salabiyyah



5



Salabiyyah



5



Ma’any



7



Ma’any



7



Ma’any



7



 



 



 



 



Ma’nawiyyah



7



Jumlah



12



 



13



 



20




Hukum Akal


Sesungguhnya tiap-tiap seorang yang hendak mengenal ALLAH Taala dan mengetahui sifat-sifat-Nya maka wajiblah lebih dahulu ia mengetahui akan hukum akal dan bahagiannya, kerana ia jadi neraca bagi hendak menghukumkan sifat-sifat Tuhan yang diperintahkan mengenal itu. Sekalipun permulaan wajib atas tiap-tiap mukallaf mengenal Tuhan tetapi permulaan wajib untuk mengenal sifat-sifat Tuhan itu ialah mengetahui hukum-hukum akal.

Pengertian Hukum Akal

Hukum akal itu ialah menetapkan suatu perkara kepada suatu perkara yang lain atau menafikan suatu perkara daripada perkara yang lain dengan tidak berkehendak kepada dicuba pada menetapkan sesuatu perkara itu (bersalahan hukum 'adi yakni adat) dan tidak tergantung kepada sesuatu perbuatan yang diperbuat oleh mukallaf (yang bersalahan hukum syarii).

Pengertian Akal

Adalah akal itu satu sifat yang dijadikan Tuhan pada manusia sehingga dengan dia terbeza manusia daripada haiwan. Maka dengan dialah boleh menerima alam nazariah - pengetahuan yang berkehendak fikir) dan boleh mentadbirkan segala-gala pekerjaan dengan fikiran yang halus-halus dan yang sulit-sulit dan daripadanya tempat terbit dan terpancar berbagai-bagai manfaat dan kebahagiaan bagi manusia. Tetapi kiranya akal itu bersendirian maka tidak akan dapat akal sejahtera, akal waras dan akal sihat melainkan berpandu kepada undang-undang syarak, demikian juga undang-undang syarak
tidak boleh berjalan mengikut yang dikehendaki melainkan berhajat kepada akal. Walhasil antara kedua-duanya itu berlaziman dan berhajat antara satu dengan yang lain (akal berhajat kepada syarak dan syarak berhajat kepada akal).

SETIAP mukallaf itu wajib mengenal ALLAH SWT. Ia merupakan perkara yang terawal sekali di dalam agama. Sebab itu dikatakan, Awaluddin makrifatulluh iaitu Awal-awal agama itu mengenal ALLAH".

Cara Mengenal ALLAH SWT

Cara mengenal ALLAH SWT bukanlah dengan melihat dan sebagainya kerana ALLAH SWT itu Maha Suci daripada menyerupai segala yang baharu segala makhluk.
ALLAH SWT tidak berbentuk, tidak berupa, tidak terjadi daripada jirim, tidak mengambil tempat atau ruang, serta tidak berpihak seperti tidak di atas, tidak di bawah dan tidak di mana-mana. Kerana itu, ALLAH SWT tidak dapat dilihat dengan mata kepala, tidak dapat dipegang dan tidak dapat dirasa. Jadi, kita tidak boleh mengenal ALLAH dengan cara itu.

Cara untuk mengenal ALLAH SWT ialah dengan mengetahui sifat-sifat-Nya. Dan apabila telah kita ketahui sifat-sifat ALLAH itu, dapatlah kita mengenal zat ALLAH SWT hingga dapat kita membezakan zat Khaliq (Tuhan) dengan zat makhluk. Dan cara hendak mengenal ALLAH melalui sifat-sifat-Nya itu ialah dengan menggunakan akal.

Sebab itu, seorang mukallaf yang wajib mengenal ALLAH itu ialah seorang yang sudah berakal kerana akal fikiran penting untuk mengenal Tuhan dengan
mengetahui sifat-sifat-Nya. Dengan akal itu nantilah kita akan dapat membezakan di antara sifat Tuhan dengan sifat makhluk. Dan oleh itu, seseorang itu tidak akan dapat mengetahui ALLAH dengan sebenar-sebenarnya kalau dia tidak mengetahui hukum akal. Jadi, wajiblah kita mengetahui hukum akal ini kerana ia ibarat neraca bagi membezakan antara zat ALLAH SWT dengan zat makhluk.

Oleh itu, di sini kita akan membahas dan memperkatakan tentang akal, pengertian akal, serta hukum akal. Ia merupakan perkara yang amat penting dalam ilmu tauhid. Selain hukum akal, dalam ihnu tauhid juga terdapat dua jenis hukum lagi iaitu hukum adat dan hukum syarak. Kedudukan tiga jenis hukum ini berbeza-beza antara satu dengan yang lain.

Mengapa kita katakan wajib untuk mengetahui hukum akal itu?

Dalam syariat atau perundangan Islam, terdapat kaedah feqah atau qawa'idul fiqh yang menetapkan bahawa kalau perjalanan menuju ke satu-satu matlamat itu wajib, maka menempuh jalan-jalan yang membawa ke matlamat itu dikira wajib juga.

Untuk memahaminya, kita perhatikan satu contoh. Bagi mendirikan sembahyang, kita wajib berwudhuk dengan air. Katakanlah kita berada di satu kampung yang tidak terdapat sumber air semulajadi seperti air perigi, air mata air, sungai, laut, dan sebagainya. Dan satu-satunya jalan yang mudah untuk mendapatkan air ialah dengan menggali perigi. Maka menggali perigi itu hukumnya wajib. Inilah yang dimaksudkan dengan kaedah feqah tadi: Bila satu-satu matlamat itu wajib, menempuh jalan-jalan untuk menuju ke matlamat itu juga wajib.

Dan begitulah dengan kaedah mengenal ALLAH SWT. Hukum mengenal ALLAH itu wajib, malah ia diletakkan pada tempat yang pertama dan utama dalam ajaran Islam. Seseorang itu tidak akan dapat mengenal ALLAH dengan setepat-tepatnya kalau dia tidak mengetahui hukum akal. Dengan mengetahui hukum akal, ia menjadi sebab untuk kita mengenal ALLAH SWT. Oleh itu, mengetahui hukum akal itu wajib.

Apakah takrif hukum akal ?

Hukum akal ialah menetapkan sesuatu perkara kepada suatu perkara yang lain, atau menafikan suatu perkara daripada perkara yang lain. Dan dalam menetapkan sesuatu hukum itu, ia tidak berkehendakkan kepada dicuba.

Misalnya, dua campur dua, empat. Dalam hal ini, akal menetapkan dua campur dua itu sama dengan empat. Begitu jugalah dalam hal-hal lain yang seumpama ini. Akallah yang menetapkan satu-satu hukum itu, bukan adat dan bukan juga syarak.

Apabila hukum itu ditetapkan oleh syarak, ia bersumberkan Al Quran dan hadis. Tetapi dalam hal-hal seperti tadi, akal saja yang menetapkannya.

Satu contoh yang lain ialah, seorang anak itu tidak boleh menjadi lebih tua daripada ayahnya dalam masa yang sama. Atau dengan kata-kata lain, seorang anak itu tidak boleh lebih dahulu daripada ayahnya. Hukum seperti ini hanya ditetapkan oleh akal. Akal kita mengatakan bahawa seorang ayah itu pasti lebih tua daripada anaknya.

Contoh lain, setiap jirim ataupun benda mempunyai sifat-sifat yang mendatang, termasuk sifat-sifat yang berlawanan antara satu dengan yang lain. Umpamanya sifat gerak dan sifat diam. Setiap benda atau jirim boleh bergerak atau digerakkan, dan boleh diam atau didiamkan. Tangan kita misalnya, adalah satu jirim atau benda, dan ia boleh bergerak dan boleh diam. Sifat gerak dan diam itu dua sifat yang berlawanan. Menurut hukum yang telah ditetapkan oleh akal, dua sifat yang berlawanan ini tidak boleh terjadi serentak dalam satu ketika. Ertinya, tangan kita ini tidak boleh bergerak dan diam dalam satu masa yang sama.

Kita boleh gerakkan tangan kita dan kita boleh diamkan ia. Boleh jadi selepas kita gerakkan, kita diamkan ia, atau selepas ia diam kita gerakkan. Untuk kita gerakkan dan kita diamkan tangan kita serentak, tentu tidak boleh. Begitu juga diri kita ini, tak boleh kita lakukan gerak dan diam serentak.

Contoh sifat berlawanan yang lain ialah malam dan siang. Mana boleh malam dan siang itu berlaku dalam masa yang sama. Ia belum pernah terjadi. 'Dan begitulah seterusnya dengan sifat-sifat berlawanan yang lain. Tidak akan berlaku sifat-sifat berlawanan itu serentak dalam satu jirim.

Yang boleh berlaku ialah secara bergilir-gilir. Di antara gerak dan diam misalnya, boleh jadi gerak berlaku dahuiu kemudian baru diam, atau boleh jadi diam berlaku dahulu kemudian baru gerak. Begitu juga antara siang dengan malam boleh jadi siang berlaku dahulu, kemudian baru malam, atau malam dahulu kemudian baru siang. Semua ini, akal yang menetapkannya, bukan adat dan bukan syarak. Ini yang dikatakan hukum akal.

Untuk lebih jelas, kita turunkan satu contoh lagi. Akal telah menetapkan bahawa dua atau tiga dan sebagainya lebih banyak daripada satu. Dan satu itu kurang daripada dua atau tiga, dan sebagainya. Akal telah menetapkan demikiari dan sekali-kali akal tidak boleh menerima yang satu itu lebih daripada dua atau tiga dan sebagainya.

Kemudian, hukum akal ini tidak perlu dicuba-cuba. Umpamanya, hukum akal yang menetapkan bahawa ayah itu lebih tua daripada anak, tidak perlu dicuba-cuba seperti kita banding-bandingkan antara anak dan ayah. Tak perlu dibuat demikian kerana secara spontan akal menerima bahawa anak itu lebih muda daripada ayah, atau ayah itu lebih tua daripada anak. Jadi, hukum akal yang menetapkan bahawa ayah itu lebih tua daripada anak tak perlu dicuba-cuba.

Hukum Adat

Yang berkehendak kepada dicuba-cuba ialah hukum adat. Setelah dicuba-cuba ratusan kali, ribuan kali dan sebagainya, begitu juga yang terjadi. Dan setelah diperhati-hatikan begitu yang terjadi. Seperti misalnya, api itu membakar. Dari dahulu hinggalah sekarang, api itu kita dapati tetap membakar. Sudah begitu adatnya. Tidak pernah kita lihat yang api tidak membakar. Dan yang menetapkan api itu membakar bukan akal tetapi adat. Bukan juga syarak.

Kita tidak jumpa di dalam Quran dan hadis, nas yang mengatakan bahawa api wajib membakar. Syarak tidak mengatakan demikian. Apa yang kita dapati di dalam syariat, tiap suatu yang ada ini tidak boleh memberi bekas melainkan ALLAH SWT. Sebab itu, dari segi syariat, api tidak boleh memberi kesan bakar kalau tidak dengan izin ALLAH SWT. Jadi, dari segi syariat, bukan api itu yang menyebabkan terbakar. Ia hanya menjadi sebab sahaja. Iaitu, sebab terbakar itu kerana api. Sudah demikian ALLAH hendak jadikan sesuatu itu, mesti ada sebab-sebabnya.

Tetapi, pada adat, api itu pasti membakar. Sudah puluhan malah ribuan tahun dapat disaksikan bahawa api itu pasti membakar. Yang menetapkan ini ialah adat, bukan akal dan bukan juga syariat. Kalaulah akal yang menetapkan api itu pasti membakar, tentu ia dapat disalahkan kerana di dalam sejarah, kita telah saksikan bahawa Nabi Ibrahim yang dilontarkan ke dalam api yang panas membara yang disediakan oleh Namrud dan rakyatnya, tidak pun hangus. Malah, yang dirasakan oleh Nabi Ibrahim adalah sejuk dan dingin sahaja. Jadi, tidak tepatlah kalau akal mengatakan yang setiap api itu membakar. Lebih-lebih lagi pada zaman ini, kita dapat saksikan ada orang boleh berjalan di atas api, seperti dilakukan oleh orang-orang beragama hindu dan buddha.

Ertinya, kita dapat saksikan bahawa api itu tidak membakar dalam dua keadaan. Pertama, dalam riwayat Nabi Ibrahim a.s., api tidak membakarnya dengan kekuasaan ALLAH SWT sebagai limpahan rahmat-Nya ke atas baginda. Kedua, orang-orang beragama hindu dan buddha dapat berjalan di atas api yang tidak membakar, secara istidraj atau secara penipuan daripada syaitan.

Dengan ini menunjukkan bukan api yang memberi bekas tetapi adat telah menghukum atau menetapkan yang setiap api itu membakar. Sebab, sudah ribuan tahun diperhatikan demikian, serta sudah menjadi kebiasaan dan pengalaman manusia, setiap api itu membakar.

Dalam hal ini, adat yang menghukumnya. Jadi, kembali kita kepada penetapan hukum daripada akal tadi, ia tidak perlu dicuba-cuba. Akal menetapkan sesuatu itu berlaku bukan hasil daripada pengalaman atau kajian manusia, tetapi secara spontan. Kemudian, apa yang dapat kita fahamkan lagi daripada hukum akal ini ialah, tidak ada hubungan di antara hukum yang telah ditetapkan oleh akal dengan perbuatan seseorang mukallaf. Yang menetapkan sesuatu perkara itu ada hubungan dengan perbuatan mukallaf ialah syarak.

Misalnya, apabila seorang mukallaf hendak makan, kita dapat perhatikan bagaimana syariat menetapkannya. Dalam hal1 berpakaian juga, syarak menetapkan hukum-hukumnya. Begitu juga dalam perbuatan bergaul, syarak ada menetapkan hukum-hukumnya. Jadi, kalau sesuatu hukum itu ada hubungannya dengan perbuatan mukallaf, ia bukan ditetapkan oleh akal atau adat, tetapi oleh syarak. Sebab, syariat atau undang-undang daripada ALLAH yang disampaikan kepada Rasulullah SAW itu, merangkumi segala perbuatan yang berlaku kepada mukallaf. Ia mengatur seluruh perbuatan mukallaf, daripada perbuatan yang kecil hinggalah kepada perbuatan yang sebesar-besarnya. Hatta perbuatan gerak hati seseorang itu pun diatur oleh syariat.

Keistimewaan Akal

Seterusnya, yang perlu kita ketahui tentang hukum akal ialah bahawa akal itu satu sifat yang ALLAH SWT jadikan pada manusia. Ia ALLAH letakkan pada otak manusia dengan segala ciri yang istimewa. Dengan adanya sifat ini, terbezalah manusia itu daripada makhluk-makhluk lain seperti haiwan. Dalam ertikata yang lain, dengan adanya akal, termulialah manusia ini dibandingkan dengan makhluk lain di muka bumi Tuhan ini.

Di antara yang menjadikan istimewa dan mulianya kehidupan manusia ini dibandingkan dengan haiwan ialah, dengan adanya akal, manusia boleh membangunkan kemajuan dan boleh melahirkan kehidupan yang bertamadun. Haiwan yang tidak dibekalkan oleh ALLAH SWT dengan akal, tidak boleh meningkatkan cara hidupnya. Sebab itulah haiwan tidak mempunyai kebudayaan. Cara hidup haiwan adalah mengikut tabiat semula jadinya, sejak ia mula dicipta oleh Allah. Cuma kita tidak mengetahuinya kerana tidak ada diceritakan di dalam kitab-kitab. Dan kita juga tidak tahu bila ia bermula. Bagi manusia, kita tahu ia bermula daripada Nabi Adam as.

Cara hidup haiwan bermula sejak ia dijadikan. Misalnya, bagaimana kehidupan datuk nenek ayam itik yang mula-mula dahulu, begitulah kehidupan seluruh ayam ataupun itik yang ada hari ini; tidak berubah-ubah dan tidak meningkat-ningkat. Ayam itik tidak boleh membuat perubahan hidup kerana ia tidak berakal.

Kalau ayam itu tidak dibuatkan rumah atau reban oleh tuannya, tidak berumah atau berebanlah hidupnya. Dan begitulah juga dengan haiwan-haiwan lain. Berbeza halnya dengan manusia. Dengan adanya akal, manusia boleh berkebudayaan dan bertamadun.
Manusia boleh membuat perubahan dan peningkatan hidupnya dari satu masa ke satu masa. Jadi, akal begitu berperanan sekali kepada manusia, malah mempunyai peranan yang cukup utama yang meletakkan kemuliaan manusia itu sendiri. Sebab itu, Allah mengingatkan kita di dalam Al Quran tentang peranan akal. Firman Allah:

Terjemahannya: Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka rezeki daripada yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna ke atas kebanyakan makhluk yang teluh Kami ciptakan. (Al Israk: 70)

Di dalam ayat di atas, Allah menyatakan kepada kita betapa Allah telah memuliakan anak cucu Nabi Adam iaitu manusia, yang diberi kelebihan-kelebihan berbanding dengan makhluk lain ciptaan ALLAH. Manusia telah dibekalkan oleh ALLAH SWT dengan akal hingga ALLAH menyerahkan daratan dan lautan untuk dikuasai oleh mereka.

Dengan akal, manusia telah dapat membongkar segala khazanah di dalam lautan, daripada ikannya, mutiaranya, beliannya, hinggalah kepada minyak galiannya dan bermacam-macam khazanah lagi. Malah manusia juga telah dapat menggunakan laut untuk memudahkan kehidupan. Misalnya, manusia telah menghasilkan kapal yang bergerak di permukaan laut, dan kapal selam yang boleh bergerak di dalam laut seperti ikan.

Akal fikiran yang ada pada manusia seterusnya telah membolehkan manusia menguasai angkasa lepas. Ertinya, bukan saja lautan, malah daratan 'dan seluruhnya juga telah Allah serahkan kepada manusia. Dengan penguasaan manusia di bidang angkasa lepas, hari ini sudah ada manusia yang sampai ke bulan. Semua keupayaan dan kemampuan ini bukan disebabkan oleh kekuatan fizikal atau kekuatan lahir manusia, tetapi disebabkan kekuatan tenaga berfikir. Ini ternyata sekali berlaku di kalangan manusia di Barat sana.

Orang-orang Barat mengasah sungguh-sungguh tenaga fikir mereka hingga membolehkan mereka mencipta berbagai-bagai perkara seperti radio, televisyen, kapal terbang, kapal angkasa dan lain-lain. Mereka tumpukan sungguh-sungguh kepada penggunaan akal fikiran mereka hinggakan kita dapati mereka tidak sempat untuk memikir fasal Tuhan. Setiap saat mereka berfikir dengan akal hingga mereka lupa kepada Maha Pencipta, yang memberi mereka akal itu. Ini yang malangnya.

Jika dibandingkan dengan umat Islam, walaupun kita tidak mengasah sungguh-sungguh kekuatan akal fikiran ini, tetapi tidaklah sampai kita melupakan Tuhan. Tidaklah sampai kita kufur, ingkar dan berbuat mungkar. Sedangkan mereka terus khayal dengan kekuatan akal fikiran mereka hingga mereka kufur dan ingkar kepada ALLAH SWT. Cuma, oleh kerana mereka tumpukan sungguh-sungguh kepada akal fikiran mereka itu, mereka lebih maju daripada kita.

Apakah umat Islam mahu mengejar kemajuan dunia seperti mereka?

Kalau mahu, caranya amat mudah sekali. Buatlah seperti yang mereka buat iaitu asah sungguh-sungguh akal fikiran kita dan lupakan terus ALLAH SWT. Tapi ingat, Neraka ALLAH akan menanti kita. Sebab itulah, ALLAH juga mengingatkan kita dalam Al Quran, supaya kita jangan berkecil hati dengan Allah atau terpengaruh dengan orang-orang bukan Islam itu. Firman ALLAH:

Terjemahannya: Dan janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. (At Taubah: 85)

Dalam ayat ini, kita dapat fahamkan bahawa ALLAH memang sengaja melebihkan orang-orang kafir itu dari segi kemajuan fizikal, dengan tujuan untuk menguji umat Islam - sejauh mana mereka boleh mengingati ALLAH serta mengikut perintah-Nya.

Tetapi kalau umat Islam tidak tahan diuji, dia akan terpesona melihat serba majunya perniagaan, ekonomi, perdagangan dan lain-lainnya pada orang-orang kafir. Dia akan berlumba-lumba dengan orang kafir untuk mencapai segala kemajuan yang mereka capai. Andainya mereka maju dalam bidang sains dan teknologi, umat Islam pun mengejar kemajuan itu; konon mahu seganding dengan orang kafir. Akhirnya, umat Islam pun melupakan ALLAH sebagaimana orang-orang kafir melupakan ALLAH .

Umat Islam Boleh Buru Kemajuan?

Oleh itu, umat Islam boleh mencari kemajuan walau dalam bidang apa sekalipun, tetapi jangan sampai lupa kepada ALLAH SWT. Carilah ilmu pengetahuan, kekayaan dunia, kemajuan ekonomi dan sebagainya; tapi jangan sampai meninggalkan sembahyang, mengabaikan ilmu fardhu ain, tidak menutup aurat dan sebagainya.

Tidak salah berfikir fasal dunia, asalkan tidak melupakan ALLAH. Ertinya, di samping memikirkan dunia, umat Islam tidak harus melupakan ALLAH. Oleh itu, tentulah tidak sama pencapaiannya dengan orang-orang kafir yang menumpukan sepenuh usaha dan ikhtiar kepada dunia. Dan kerana itu juga, janganlah umat Islam berkecil hati dengan ALLAH kerana sudah demikian janji ALLAH.

Jadi, umat Islam tidak boleh meniru kemajuan orang-orang kafir. Cukuplah kita mencapai sekadar yang boleh kita capai mengikut kemampuan dan keupayaan kita, asal kita boleh hidup, boleh beribadah kepada ALLAH, boleh selamatkan iman, dan boleh mengelakkan kemungkaran dan maksiat.

Kalau umat Islam hendak berusaha juga sehingga mencapai kemajuan sepertimana yang dicapai oleh orang-orang kafir itu, ertinya umat Islam hendak lari daripada mengingati ALLAH; itu yang sebenarnya. Dan akibat daripada itu, ALLAH sediakan azab di Neraka, kerana orang-orang kafir itu tidak pernah memikirkan kehidupan Akhirat. Cuba kita lihat apa firman ALLAH mengenai mereka. Firman ALLAH:

Terjemahannya: Kami telah masukkan kebanyakan jin dan manusia ke dalam Neraka Jahanam itu, yang mana mereka itu ada hati tetapi tidak muhu memahami, ada mata tetapi tidak mahu melihat dan ada telinga tetapi tidak muhu mendengar. Maka mereka itu sama seperti binatang-binatang ternakan, bahkan lebih sesat daripada itu. (Al A'rti 179)

Di sini jelas ALLAH. menggambarkan kepada kita betapa kebanyakan manusia dan jin, ALLAH masukkan ke dalam Neraka Jahanam kerana mereka ada mata tetapi tidak melihat kebenaran, ada akal tetapi tidak digunakan untuk memikirkan kebenaran dan ada telinga tetapi tidak digunakan untuk mendengar kebenaran.

Taraf mereka sama seperti binatang-binatang ternakan. Mengapa ALLAH menyamakan mereka dengan binatang ternakan seperti ayam, itik, kambing, kerbau, lembu dan sebagainya. Mengapa ALLAH tidak menyebut binatang sahaja?
Semua binatang, sama ada liar ataupun diternak, sama-sama tidak ada akal. Tetapi binatang liar lebih merdeka atau lebih bebas berbuat sekehendak hati mereka. Misalnya, binatang liar bebas mencari makanan sendiri, tidak seperti binatang ternak yang terpaksa bergantung kepada tuannya. Kalau tuannya tidak memberi dia makan, tidak makanlah dia. Jadi, di antara kedua-dua jenis binatang ini, kehidupan binatang liar lebih baik kerana mereka ada kebebasan. Kalau ALLAH ibaratkan orang-orang yang ingkar atau orang-orang kafir itu seperti binatang ternakan, maknanya mereka langsung tidak ada kebebasan.

Tidak bebasnya mereka itu kerana, mata mereka tidak boleh melihat, akal mereka tidak boleh berfikir, dan telinga mereka tidak boleh mendengar. Ertinya, keadaan mereka terkongkong sama sekali. Mereka langsung tidak mendapat kebenaran; tidak boleh melihat yang mana salah, yang mana benar, tidak boleh memikirkan yang mana salah, yang mana benar, dan tidak boleh mendengar yang mana salah dan yang mana benar. Mereka dikongkong oleh hawa nafsu. Dengan kata lain, mereka menjadikan diri mereka hamba kepada hawa nafsu hingga menyebabkan mereka berpaut semata-mata kepada hawa nafsu itu, tidak kepada ALLAH SWT.

Jadi, padan benarlah kalau ALLAH samakan mereka itu dengan binatang ternak kerana binatang ternak terpaksa bergantung kepada tuannya, tidak bebas mengikut sekehendak hati.

Mengapa lebih sesat daripada binatang? Sudahlah disamakan dengan binatang ternak, mereka disebut pula oleh ALLAH sebagai lebih sesat daripada binatang. Mengapa? Sebabnya, binatang itu oleh kerana tidak ada akal, tidak dapat dipimpin kepada kebaikan.

Yang ada pada binatang hanya nafsu. Oleh itu, apa yang dilakukan oleh mereka kejahatan sahaja. Ertinya, unsur-unsur kebaikan langsung tidak ada pada binatang-binatang. Tetapi unsur kejahatan ada pada mereka kerana mereka ada nafsu. Sebab itulah binatang hanya terdorong untuk buat jahat.

Tidak ada sesuatu yang boleh mengawal binatang, disebabkan ia tidak ada akal. Kalau ia ada akal, syariatlah yang boleh mengawalnya.

Cuma, walaupun binatang hanya tahu berbuat jahat, perbuatan mereka masih terbatas. Umpamanya, kalau seekor tikus itu mencuri padi, ia tidak membawanya balik. Ia makan di tempat itu sampai kenyang. Lepas itu, baru dia balik. Begitu juga kalau kambing masuk ke kebun orang, ia makan sampai kenyang di situ juga.

Bila sudah kenyang, baru ia balik. Tidak ada satu benda pun yang dibawa lari dari kebun orang itu.

Begitu juga kalau binatang-binatang bergaduh, mereka tidak bermesyuarat, berbincang dan mengatur strategi bagaimana hendak bergaduh. Selain itu, bila binatang bergaduh, dia tidak 'tahu hendak membela diri dengan meminta bantuan binatang-binatang lain.

Binatang yang bergaduh itu saja yang terlibat. Yang lain, buat tak tahu saja. Tidak seperti manusia, kalau bergaduh, dia mengatur strategi. Kemudian dia mengajak orang lain berpakat bagaimana hendak mengalahkan musuhnya.

Ertinya, di kalangan manusia, daripada seorang saja yang bergaduh, berpuluh-puluh malah ribuan orang lain terlibat sama. Satu negara boleh turut berperang kalau dua pemimpin negara bergaduh dan berselisih faham. Jadi, banyaklah kerosakan yang dibuat oleh manusia. Sebab itulah, manusia yang tidak menggunakan akal dan telinga, lebih sesat dan lebih berbahaya lagi daripada binatang-binatang ternak.

Akal Dorong Nafsu Buat Maksiat?

Oleh kerana manusia ini ada akal di samping ada nafsu yang mendorong dia berbuat maksiat, kemudian akal tidak pula digunakan untuk menerima kebenaran, maka akal membantu lagi nafsu itu mendorong dia berbuat maksiat. Ertinya, manusia lebih cepat lagi berbuat maksiat daripada binatang yang hanya mempunyai nafsu tetapi tidak mempunyai akal itu.
Bagaimana akal membantu nafsu mendorong manusia membuat kejahatan?

Tentulah dengan cara merancang atau mengatur bagaimana hendak melakukan kejahatan itu dan sebagainya. Jadi, munasabah benarlah ALLAH menyebut bahawa manusia yang mempunyai nafsu demikian lebih sesat lagi daripada binatang ternak.

Sebaliknya, kalau manusia boleh menggunakan akalnya sungguh-sungguh disebabkan akal manusia itu sifat semulajadinya memang baik, dan kalaulah kebaikan itu dipandu oleh syariat, kadang-kadang seseorang itu boleh mencapai taraf malaikat. Darjat dan kerohaniannya boleh sampai kepada tahap malaikat. Itulah yang berlaku kepada para rasul, para anbia dan para aulia besar.

Peranan Akal

Begitulah peranan akal yang jika digunakan sungguh-sungguh, membolehkan manusia mendapat manfaat daripadanya. Dia boleh menjadi lebih mulia daripada makhluk yang lain.

Di samping itu, manusialah yang boleh menerima pengetahuan-pengetahuan yang memerlukan kepada berfikir, Ilmu-ilmu itu, kalau tidak difikirkan, tidak akan dapat diperolehi. Tetapi oleh kerana manusia ada akal, dia boleh memikirkan ilmu-ilmu pengetahuan itu.

Kerana itu, hari ini bermacam-macam ilmu pengetahuan yang telah diperolehi manusia seperti ilmu alam, ilmu hisab, ilmu sains dan teknologi, ilmu kaji bumi, ilmu psikologi, dan bermacam-macam ilmu pengetahuan lain. Kalau tidak ada akal, manusia tidak mungkin memperolehi semua ilmu itu.

Kemudian, dengan akal itu pula manusia boleh memikirkan kerja-kerja yang sulit dan yang halus. Apa saja pekerjaan dapat ditadbir dan disusun oleh manusia dengan sebaik-baiknya.

Jadi, kita dapati, daripada akal itu terbitnya segala manfaat dan kebajikan yang semua itu akan memberikan kebahagiaan kepada manusia. Walau bagaimanapun, syaratnya manusia mestilah dapat menggunakan akalnya itu dengan sebaik-baiknya dengan dipandu oleh syariat. Kalau tidak, disebabkan oleh akal, manusia boleh rosak binasa.

Samalah seperti peranan senjata api, ia boleh memberi manfaat kepada kita dengan syarat kita pandai menggunakannya. Misalnya, kalau datang musuh, perompak dan sebagainya, kita boleh mempertahankan diri dengan senjata api. Tetapi kalau kita tidak pandai menggunakannya, ia boleh merosakkan kita. Setengah-setengah orang membunuh diri dengan senjata apinya sendiri.

Begitulah dengan akal, kalau manusia menyalahgunakannya, rosaklah muka bumi ini, dan binasalah kehidupan manusia seluruhnya. Wujudlah huru-hara di atas bumi ALLAH ini, dan akan terjadilah sebagaimana yang ALLAH gambarkan:

Terjemahannya: Akan lahirlah kerosakan di daratan dan di lautan akibat daripada usaha manusia itu sendiri (Ar Rum: 41)

Sifat Semulajadi Akal

Kemudian, walaupun akal itu sifat semulajadinya ALLAH jadikan baik, tetapi ada juga kebaikan-kebaikan yang tidak mampu difikirkan oleh akal. Dalam hal ini, Allah bantu kekuatan akal itu dengan memberi syariat kepada manusia melalui para rasul.

Kalau hanya dengan kekuatan akal saja, manusia tidak dapat membezakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang halal dan mana yang haram, mana yang sah dan mana yang batal, dan sebagainya. Ia perlu kepada satu kekuatan lain iaitu kekuatan syariat. Akal mesti disuluh oleh syariat. Barulah ia dapat memandu manusia kepada kesejahteraan dan keselamatan di dunia dan juga di Akhirat.

Kalau akal dibiarkan bersendiri, tanpa dibimbing oleh syariat, ia akan sesat. Akal ini akan mengeluarkan peraturan bagi manusia. Dari situlah timbulnya ideologi atau isme yang ada pada hari ini seperti komunisme, kapitalisme, sosialisme, dan sebagainya. Ideologi atau isme-isme ini akhirnya bertindak sebagai 'syariat' kepada manusia di seluruh dunia, dan manusia mengenepikan syariat yang sebenar daripada ALLAH SWT. Maka rosaklah alam, rosaklah muka bumi Tuhan ini.

Buktinya, hari ini saja, manusia tidak pernah hidup aman damai kerana kehidupan mereka dikawal oleh isme-isme yang lahir daripada otak manusia. Di mana-mana saja sudah tercetus pergaduhan dan peperangan.
Tidak ada siapa pun boleh menyelesaikannya, hatta tempat rujuk semua negara sekalipun iaitu Pertubuhan Bangsa-bangsa Bersatu. Kadang-kadang merujukkan kehidupan manusia kepada pertubuhan itu, umpama kita berhakim kepada beruk.

Jadi, walaupun tabiat semulajadi akal kita ini baik, ia masih perlu dipimpin oleh syariat supaya apa yang lahir daripada akal itu benar-benar dapat memimpin manusia kepada keselesaan hidup di dunia dan keselamatan hidup di Akhirat.

Akal tidak boleh dibiarkan bersendirian kerana tidak semua kebaikan mampu difikirkannya. Sejarah ahli-ahli falsafah atau ahli-ahli fikir zaman dahulu membuktikan hal ini. Soctrates, Plato dan lain-lainnya, terbukti tidak mampu memikirkan perkara-perkara yang lebih halus dan rumit dalam hal-hal kebenaran. Ini kerana kebenaran itu hanya datang daripada ALLAH. ALLAH sendiri yang mendatangkannya kepada manusia melalui rasul-rasul-Nya.

Nabi dan Rosul Alloh


Nabi dan Rasul adalah manusia-manusia pilihan yang bertugas memberi petunjuk kepada manusia tentang keesaan Allah SWT dan membina mereka agar melaksanakan ajaran-Nya. Ciri-ciri mereka dikemukakan dalam Al-Qur'an, "... ialah orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah. Mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan. " (Q.S. Al Ahzab : 39).

Perbedaan antara Nabi dan Rasul adalah : seorang Nabi menerima wahyu dari Allah SWT untuk dirinya sendiri, sedangkan Rasul menerima wahyu dari Allah SWT guna disampaikan kepada segenap umatnya. Para Nabi dan Rasul mempunyai 4 sifat wajib dan 4 sifat mustahil, serta satu sifat jaiz, yaitu :

1. Shiddiq (benar), Mustahil ia Kizib (dusta).
2. Amanah (dapat dipercaya), mustahil Khianat (curang).
3. Tabliqh (Menyampaikan wahyu kepada umatnya), Mustahil Kitman (menyembunyikan Wahyu).
4. Fathonah (Pandai/cerdas), Mustahil Jahlun (Bodoh).
5. Satu sifat jaiz yaitu Aradhul Basyariyah (sifat-sifat sebagaimana manusia).

01. Nabi Adam as
02. Nabi Idris as
03. Nabi Nuh as
04. Nabi Huud as
05. Nabi Shaleh as
06. Nabi Ibrahim as
07. Nabi Ismail as
08. Nabi Luth as
09. Nabi Ishaq as
10. Nabi Ya'qub as
11. Nabi Yusuf as
12. Nabi Syu'aib as
13. Nabi Ayyub as
14. Nabi Dzulkifli as
15. Nabi Musa as
16. Nabi Harun as
17. Nabi Daud as
18. Nabi Sulaiman as
19. Nabi Ilyas as
20. Nabi Ilyasa as
21. Nabi Yunus as
22. Nabi Zakaria as
23. Nabi Yahya as
24. Nabi Isa as
25. Nabi Muhammad saw

A'rodul Basyariyah

A'rodul Basyariyah= Sifat-sifat kemanusiaan makan, minum, buang berak dan laiinya yang disyariatkan syar'i

Jahil


Jahil=Bodoh

kitsman


kitsman=Menutupi

Hiyanat

Hiyanat

Kidzib

Kidzib=Bohong